
Dokter Ryan Juville menepuk jidatnya dengan kesal. " Dasar bucin akut. "
" Apa yang barusan Kau katakan, Landak jelek ? " Alexander Moralez tampak semakin berang.
" Tidak ada. " Dokter Ryan Juville berkilah.
" Landak jelek ... Landak jelek ... bisa tidak Tuan besar yang terhormat Tuan Alexander Moralez Arzallane memanggil dengan cara yang benar. Nama saya Dokter Ryan Juville. Jangan panggil Landak jelek lagi ... menjatuhkan citra dan kegantengan saya saja. Kau bisa dituntut keluarga Abraham Juville jika menyebut putra kesayangannya dengan sebutan yang tidak pantas. " lanjut Dokter Ryan Juville.
Alexander Moralez hanya menatap Dokter Ryan Juville dengan tatapan dingin.
" Jangan melebihi batasanmu, Ryan ! " desis Alexander Moralez.
" Nah panggil begitu kan enak di dengar. " lanjut Dokter Ryan Juville dengan senyum simpul.
Nampak Alexander Moralez sangat terganggu dengan perkataan sahabatnya barusan. "Bucin akut. Apa artinya ? " batin Alexander Moralez.
Dengan langkah cepat akhirnya Alexander Moralez keluar ruangan dengan wajah yang dingin.
" Bereskan kekacauan ini, Han ! " perintah Alexander Moralez kepada Han Liu sambil melangkah keluar.
Sebelum mencapai pintu, Alexander Moralez berbalik tepat ketika Dokter Ryan Juville memperbaiki letak kepala Kinara yang sedikit miring, " Dan pastikan tangan Landak Jelek itu tidak menyentuh gadis bodoh itu lagi, Han ! Jaga jarakmu lebih dari 2 meter, Landak Jelek ! Panggil Dokter dan perawat wanita untuk memantau kondisi gadis bodoh itu ! " imbuh Alexander Moralez lagi.
" Landak jelek again. " ucap Dokter Ryan Juville sambil menepuk keningnya.
Alexander Moralez meninggalkan ruangan. Sebenarnya dia merasa enggan untuk keluar dari ruangan tapi mengingat kejadian yang baru saja terjadi membuat Alexander Moralez merasa sedikit aneh pada dirinya sendiri. Rasa malu terselip di ujung hatinya.
" Bagaimana bisa seorang Tuan Besar dengan predikat Mafia menjadi kehabisan akal melihat seorang gadis bodoh hampir
sekarat dengan segala kegaduhan di pagi hari. Oh astaga ... sangat memalukan. Ini sangat memalukan, Al. Apa yang akan mereka pikirkan tentangkmu, Al ? " Alexander berjalan sambil bermonolog dengan dirinya sendiri.
Alexander Moralez berjalan menuju lift dengan mengepalkan tangan mengusir perasaan yang tidak nyaman.
Beberapa maid yang masih tegak berdiri di dalam ruangan kemudian dengan cekatan membersihkan ruangan dan ruangan kembali bersih seperti semula.
Alexander Moralez melangkah ke arah lift. Menekan lantai 3.
Huan Lee, sang kepala pelayan mengekor Alexander Moralez dari belakang.
__ADS_1
Ting.
Alexander Moralez keluar dari lift dan menyeberang melalui jembatan penghubung ke Rumah Utama, menuju kamar utama.
" Silahkan, Tuan. " Huan Lee membukakan pintu kamar.
" Apakah Anda ingin mandi, Tuan ? " tanya Huan Lee lagi.
" Hhmm ... . "
Huan Lee segera berlalu untuk menyiapkan air hangat di dalam bathtub, mengisinya dengan beberapa essense rempah - rempah yang menyegarkan. Setelah menyelesaikan tugasnya, Huan Lee pamit undur.
Alexander Moralez masuk ke dalam bath**tub menenggelamkan dirinya dalam air hangat.
Sebuah tarikan nafas terdengar berat. Kemudian tangan kanannya meraih kotak di sudut bath**tub yang sempat dibawanya masuk. Sebuah kalung dengan liontin penari balet.
Alexander Moralez mengamati benda di tangannya dan mencoba mengingat siapa nama pemilik kalung itu sebenarnya.
"Apakah benar gadis bodoh itu sama dengan gadis kecilku ? " Alexander Moralez bergumam. Keningnya sedikit berkerut, karena ternyata tidak ada sepotong ingatan pun tentang gadis berkalung liontin balet itu.
" Akhhhh ... Mengapa susah sekali mengingatmu ? Tapi mengapa aku merasa begitu familiar dengan benda ini ? Seingatku Mommy Leona pernah memesannya untuk seorang anak teman Daddy. Akhhhh ... siapa bodoh ? Mengapa bisa lupa hal sepenting ini ? "
Alexander Moralez memejamkan mata. Ada rasa pening yang mulai menyerang jika otaknya dipaksa untuk mengingat suatu peristiwa di masa lalu.
Ada bagian - bagian yang ternyata telah diblok oleh otak bawah sadarnya sehingga kemampuan mengingat akan masa lalunya menjadi menurun. Dan sialnya masa lalu yang diblok otak bawah sadarnya adalah masa - masa bahagia, masa hangat bersama keluarganya saat usia dibawah 7 tahun.
Alexander Moralez menghela nafas berat. Beberapa kenangan buruk bermunculan menambah rusuh suasana hatinya.
Alexander menaruh kembali kalung dengan liontin penari balet kembali ke dalam kotak. Tangannya kemudian meraih gelas wine yang ada di sudut meja kecil. Sambil tetap berbaring di dalam bathtub, Alexander Moralez menyesap perlahan wine. Menikmati sensasi rasa wine yang manis, sepat di tenggorokannya.
Satu jam bergumul dengan pikirannya, akhirnya Alexander Moralez bangkit dari tempatnya berendam, mengambil sebuah kimono, dan memakainya.
" Hai honey ! " Seorang wanita tampak menerobos masuk ke kamar Alexander tanpa rasa takut.
ALexander Moralez tampak terkejut ada seorang wanita berani menerobos kamar pribadinya.
Beberapa bodyguard dan Huan Lee juga ikut menerobos masuk bermaksud mengejar si wanita.
__ADS_1
Alexander Moralez semakin gusar dan marah karena area pribadinya dimasuki orang lain tanpa permisi.
Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke ruang pribadi seorang Tuan Besar Alexander Moralez Arzallane. Hanya Huan Lee dan Han Liu. Selebihnya tidak ada seorang pun tanpa ijin sang pemilik ruangan bisa masuk.
" Honey, Aku menghubungimu berkali - kali menga ... . " seorang wanita cantik dengan gaun terbuka mencoba memeluk Alexander Moralez.
" Maaf nona Claudya, silahkan Anda keluar ! " Huan Lee mencoba menghalangi dan mengusir wanita tersebut dengan hormat. Bagaimanapun Claudya Nouevell adalah tunangan Tuan Besarnya.
" Silahkan Anda keluar, Nona Claudya Nouevell ! " ucap Huan Lee tegas.
" Minggir ! Siapa kamu menghalangiku. Aku hanya ingin bertemu dengan tunanganku. " ucap Claudya Nouevell dengan sombong.
" Kalian cari mati ? Bawa dia keluar dari mansion dan jangan sisakan kakinya ! " Alexander Moralez sangat murka.
Wanita cantik itu sangat terkejut. " Kau keterlaluan, Al. Aku mencarimu dan kita harus berbicara tentang pernikahan kita ... . "
Alexander Moralez menatap wanita itu dengan tajam.
" Dengar baik - baik. Tidak akan pernah ada pernikahan diantara kita dan jangan pernah bermimpi terlalu tinggi ! Keluar ! "
" Al ... Kau tidak bisa bersikap seenaknya. Aku akan beritahu Daddy ... . "
" Silahkan ! Dan kupastikan dalam hitungan menit, semua aset Nouevell corp akan berpindah tangan. " ucap Alexander Moralez marah.
Alexander Moralez mengibaskan tangan kanannya mengusir keluar.
" Bawa dia keluar dari mansion dan jangan sisakan kakinya ! " ulang Alexander Moralez debgan sangat murka.
" Al ... Kau gila ! Tidak ! Lepaskan ! Al ... . " teriak Claudya Nouevell marah ketika dua orang bodyguard menarik tangannya dengan kasar.
" Brengsek, lepaskan, bodoh ! Aku adalah tunangan Alexander Moralez. Jangan bersikap kurang ajar kepadaku ! Lepaskan ! " Claudya Nouevell marah dan terus berteriak - teriak sambil berusaha berontak untuk melepaskan diri.
Dengan marah, Claudya Nouevell menginjak kaki bodyguard dengan high heelnya.
Reflek keduanya mengaduh dan Claudya menggunakan kesempatan untuk lepas dan berlari masuk kembali ke dalam ruangan dan menghambur memeluk Alexander Moralez.
👉 Terima kasih sudah membaca dan support karya.
__ADS_1
👉 Tolong tetap dukung author dengan rate, like, coment positif dan votenya ya. Jika suka bisa gift dengan poin atau koin.
👉 terima kasih