Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 25. Bagaimana Aku Harus Hidup ?


__ADS_3

Pikiran Dokter Merrzy Arzulla mengembara kemana - mana. Hingga rasa kantuk menghinggapi Dokter Merrzy Arzulla. Nafasnya mulai terdengar teratur dan akhirnya Dokter Merrzy Arzulla tertidur dalam posisi terduduk di ujung sofa.


***


Beberapa hari kemudian, di bagian lain mansion, di sebuah ruangan di lantai tertinggi menara pemantau, nampak tubuh Kinara masih terkulai tak berdaya.


" Akh, " Kinara mengerang tertahan.


Tubuh Kinara bergerak sangat perlahan. Matanya mengerjap berulang kali, menyesuaikan dengan pencahayaan di dalam ruangan.


Sudah beberapa hari, Kinara terbaring tak sadarkan diri, sehingga tubuhnya kaku dan susah digerakkan.


" Akh, " Kinara mengaduh lirih. Tangannya akan digerakan perlahan tapi tiba - tiba Kinara menjerit tertahan karena ternyata tangannya tidak bisa digerakkan. Suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa haus mendera menciptakan rasa kering yang tidak nyaman.


Kinara mencoba membuka mulutnya untuk memanggil seseorang tetapi kembali suaranya berhenti di tenggorokan.


Kinara mengerjapkan mata dan menghela nafas perlahan. Kinara mencoba menenangkan diri. Mengatur nafas dengan perlahan.


Kemudian Kinara dengan susah payah mencoba menggerakkan tangan kanannya. Usaha Kinara gagal.


Kinara mencoba berusaha menggerakkan tangannya lagi dan gagal lagi.


Kinara mencoba berusaha lagi. Gagal lagi.


Kinara hampir menangis. " Oh God, tidak ! "


Kinara berusaha lebih keras lagi, mengangkat tangan kanannya dengan sekuat tenaga, gagal lagi.


Kinara mencoba lagi dengan tangan kirinya. Gagal lagi.


Gagal lagi. Gagal lagi.


Kinara tertegun, mencoba melihat kedua tangannya yang terkulai lemas disamping tubuhnya. Kedua tangan Kinara masih utuh.


Kinara berusaha lebih keras dengan mengerahkan semua tenaga yang tersisa untuk menggerakkan tangannya. Tapi masih tetap gagal lagi.


Kinara terisak perlahan.


" God, help me, please ! " rintih Kinara dalam hati.


Titik - titik keringat menetes perlahan. Semangatnya sudah kendor, karena sudah beberapa saat Kinara mencoba menggerakkan tangan. Tapi tidak berhasil.

__ADS_1


Pandangan Kinara menyapu seluruh ruangan. Sepi. Tidak ada seorang pun.


Pikiran Kinara melayang beberapa waktu lalu jika dirinya mencoba kabur dari mansion Tuan Besar Alexander Moralez.


" Ingatan terakhirku bahwa aku berada di Mansion Tuan Besar Alexander Moralez karena Jefri Arkanzaz membuatku menjadi pelunas hutang wanita singa itu. Kemudian aku disekap di sebuah ruangan dan aku berusaha kabur melalui lorong di balik pintu lemari. Aku turun melalui tangga dan sampai ke sebuah lorong kemudian aku ... terjatuh dan masuk ke dalam air dan hanyut ... kemudian terhempas kesana kemari hingga jatuh dari air terjun. Oh tidak. Aku tidak cacatkan ? " Batin Kinara mengingat detail dirinya terpeleset dan kemudian jatuh ke aliran sungai sampai terhempas dari ketinggian air terjun.


Rumah Utama Alexander Moralez Arzallane memang terletak di hutan diatas bukit dengan sungai yang mengelilinginya. Sebuah sungai menjadi pembatas antara rumah penduduk dan kawasan hutan milik keluarga Arzallane. Di bawah bukit adalah lembah dengan tanah ladang milik keluarga Arzallane.


Sungai juga membelah dari tepi hutan masuk ke tengah hutan tepat di bawah menara pemantau dan bertemu lagi diujung perbatasan hingga membentuk air terjun yang cukup tinggi. Letak mansion atau rumah utama keluarga Arzallane cukup strategis di atas bukit dengan pemandangan yang indah.


Ruangan tempat Kinara berbaring nampak sepi dan lengang. Tidak seorang maid pun yang datang menjenguk.


Kinara sudah merasa kehausan, rasa lapar juga sudah menggelitik perut ratanya.


Kinara mencoba lagi menggerakkan kakinya. Tidak bergerak sama sekali.


Kinara menangis tertahan.


" Tidak mungkin. Tidak mungkin aku lumpuh. Bagaimana kehidupanku selanjutnya ? Bagaimana aku harus hidup dengan kondisi seperti ini ? Aku tidak mungkin berada di atas tempat tidur seperti ini seumur hidupku kan ? " batin Kinara frustasi.


" Bagaimana aku bisa menemukan ayah ? Bagaimana cara aku keluar dari tempat ini ? Oh astaga, Jefri Arkanzaz awas kalau bertemu denganmu. Tidak. Aku harus sembuh dan keluar dari tempat ini. Tapi bagaimana ini kaki dan tanganku tidak bisa digerakkan. Oh God help me, please ! " Kinara merintih dalam hati. Sudut matanya telah basah oleh air mata.


Menjelang pagi, sosok tinggi tegap khas Tuan Besar Alexander Moralez pemilik mansion memasuki ruangan tempat Kinara berada. Langkah kakinya mendekat ke arah ranjang tempat Kinara berbaring.


Tuan besar Alexander Moralez baru saja kembali dari perjalanan keluar kota untuk urusan mega proyek pembangunan city land di Kota F bersama dengan Han Liu.


Entah angin apa yang membuat seorang Alexander Moralez seperti seorang yang sedang berburu waktu ketika ada di Kota F. Semua pekerjaan dilakukan tanpa henti dan terkesan ingin segera selesai. Hingga membuat Sekretarisnya Han Liu kelimpungan menghandle semua dengan cepat.


Keinginan Alexander Moralez hanya ingin cepat pulang dan melihat keadaan Kinara. Tanpa beristirahat, setelah turun dari jet pribadi, Alexander Moralez bergegas ke manara pemantau menuju lantai tertinggi.


Langkah Alexander Moralez berhenti tepat di sisi ranjang tempat Kinara berbaring.


Alexander Moralez tanpa sadar mengulurkan tangan dan menghapus sudut mata Kinara yang masih tergenang air mata. Alexander mengerutkan kening.


Reflek Alexander menarik tangannya dan mengambil hand sanitizer yang ada di atas nakas dan membersihkan tangannya.


" Sialan. " umpat Alexander marah pada dirinya sendiri yang berinisiatif menghapus air mata Kinara.


" Kau sudah sadar rupanya, hai wanita ? " tanya Alexander.


Kembali tangan kanan Alexander terulur untuk membingkai wajah pucat Kinara dan menepuk pipinya.

__ADS_1


" Hai, gadis bodoh ! Bangun ! Bangun ! " ucap Alexander sambil menepuk pipi Kinara dengan lebih keras mencoba membangunkan Kinara.


Tapi Kinara tetap terdiam, tak sadarkan diri.


Tiba - tiba karena jengkel Alexander meraih leher Kinara dan mencengkiknya dengan kuat.


" Hai gadis bodoh, bangun ! "


Tangan Alexander Moralez semakin keras mencekik leher Kinara.


" Kalau kau tak bangun, Saya pastikan kau tak bernyawa malam ini... . "


Titttttttttttt.


Bunyi alarm pendeteksi jantung terdengar berbunyi dan reflek tangan Alexander melepas cekikannya.


Sedetik kemudian dengan rasa panik dan amarah suaranya sudah menggelegar menghubungi semua orang di dalam mansion.


Han Liu yang baru akan terlelap di sebuah kamar dilantai dua rumah utama langsung melompat siaga menuju ruang pemantau di lantai teratas.


Beberapa maid, kepala pelayan dan beberapa bodyguard dengan sigap juga menuju ruang pemantau setelah menerima panggilan dari interkom. Mereka berlari berhamburan menuju menara pemantau di lantai teratas karena mendengar suara panik Tuan Besarnya.


" Tuan ! " Panggil Han Liu dengan nafas memburu setelah dalam hitungan lima menit sampai di ruangan terlebih dahulu.


Kemudian beberapa maid, kepala pelayan dan bodyguard sudah berjajar dengan rapi di dalam ruangan.


Alexander Moralez menatap beberapa orang yang berbaris rapi dengan marah, " Mana si Dokter Landak itu ? "


Semua orang yang berada dalam ruangan saling menatap satu dengan yang lain.


" Siapa Dokter Landak ? Apakah Tuan memelihara binatang landak ? " Tanya kepala pelayan penasaran.


" Han, " teriak Alexander frustasi. " Panggil Dokter, gadis bodoh itu ... . "


Tiiitttttt ... .


👉 Terima kasih sudah membaca dan support karya.


👉 Tolong tetap dukung author dengan rate, like, coment positif dan votenya ya. Jika suka bisa gift dengan poin atau koin.


👉 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2