
" Astaga ... . " teriak keduanya berbarengan karena panggilan telah tersambung dengan mode video call. Dan ponsel terjatuh dengan posisi tegak berdiri, mempermudah melihat keduanya yang sedang tumpang tindih tanpa sehelai benang.
Dokter Ryan Juville segera bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya dan melempar bantal ke arah ponsel yang masih tersambung.
" Mengganggu saja. " umpat Dokter Ryan Juville marah karena aktivitas kesenangannya terganggu.
Wajahnya memerah frustasi. " Lagi - lagi kesenanganku terganggu, " Dokter Ryan Juville membatin.
" Kau berani menutup panggilan Dokter Ryan Juville ? " suara Han Liu masih terdengar penuh tekanan dari panggilan telephone yang masih tersambung.
" Akh ... Kau sangat mengganggu, Han. " teriak Dokter Ryan Juville frustasi karena miliknya belum sampai puncak sudah diinterupsi dengan sambungan video call.
" Tolonglah Dokter Ryan Juville ! " suara Han Liu terdengar tertekan.
" Ini sangat penting. Dokter Ryan Juville, Tuan Besar kambuh. Dan sekarang Tuan besar tak sadarkan diri. " sambung Han Liu lagi.
Tutt. Tutt.
Sambungan terputus.
Seperti tersambar petir, Dokter Ryan Juville melompat bangun. Tubuh telanjangnya terpampang jelas.
" Honey ? " suara Dheandra kekasih Dokter Ryan Juville mulai terdengar merajuk.
" Sayang, aku harus pergi. " ucap Dokter Ryan Juville bergegas meraih celana dan kemejanya yang berserakan di lantai. Lalu laki - laki itu berjalan melangkah ke kamar mandi.
" Selalu seperti ini. " omel Dheandra tidak terima.
Beberapa menit kemudian, Dokter Ryan Juville keluar dengan tubuh yang segar setelah mengguyur tubuhnya di bawah shower.
" Selalu begini. Kau selalu meninggalkan aku sebelum selesai. Dan selalu gara - gara Tuan Besarmu. Apakah Tuan Besarmu lebih penting dariku ? " omel Dheandra tak terima sesaat setelah Dokter Ryan Juville keluar dari kamar mandi.
Dokter Ryan Juville menatap wanita yang terduduk di ranjang dengan tubuhnya yang masih telanjang.
Dokter Ryan Juville menghembuskan nafas jengkel. Kemudian laki - laki itu membungkuk dan meraih tengkuk kekasihnya. ******* sejenak bibir merahnya.
" Maaf ! " ucap Dokter Ryan Juville tidak enak hati dengan kekasihnya.
" Tunggulah ! Aku akan segera kembali. I swear. " janji Dokter Ryan Juville mencoba menenangkan kekasihnya.
" Ryan Sayang, aku kekasihmu. Sekarang pilih, aku atau Tuan besarmu itu ? " ucap Dheandra sambil beranjak dari duduknya dan memeluk tubuh kekasihnya.
" Mengapa Kau diam saja ? Jika kau diam berarti ku anggap kau memilih Tuan besarmu. Itu artinya kau minta kita putus. Aku tidak mau jadi kekasih yang selalu dinomor duakan. Apa - apa Tuan besar. Akh. " Dheandra mulai merajuk dan terus memeluk tubuh Dokter Ryan Juville dengan posesif.
" Aku berharap jika kita sedang quality time, Kau bisa mengabaikan Tuan besarmu. Nanti setelah kita selesai, Kau bisa kembali dengan pekerjaanmu. Aku juga ingin diperhatikan Ryan sayang. "
__ADS_1
Dokter Ryan Juville menatap tajam perempuan yang masih memeluknya dan menggodanya.
Sedetik berikutnya dengan kasar Dokter Ryan Juville menghentak melepaskan tubuh Dheandra dan mendorongnya jatuh ke atas ranjang.
Wanita itu nampak terkejut atas reaksi kekasihnya, Dokter Ryan Juville.
" Kau tega, sayang ? " Rajuk Dheandra berdiri dan akan kembali memeluk tubuh Dokter Ryan Juville.
" Pahami batasanmu, Dhe ! Jangan berlaku seperti wanita yang tak tahu diri ! " ucap Dokter Ryan Juvile dingin.
Nampak wanita itu mwnunduk sedih. Ada bulir air mata yang jatuh di sudut matanya.
Dokter Ryan Juville bergegas melangkah pergi.
" Jika kau tetap melangkah pergi, kita putus. " teriak Dheandra marah sebelum tangan kekasihnya meraih handle pintu.
Dokter Ryan Juville berhenti sejenak, berbalik, " Terserah, Aku tidak peduli. " jawab Dokter Ryan Juville dingin.
" Akh ... . " Dheandra berteriak marah dan melempar bantal dan selimut ke segala arah untuk menumpahkan kekesalannya.
Dheadra hanya menatap nanar tubuh kekasihnya yang melangkah keluar dan menutup pintu
" Akh ... sialan ! Tuan besar. Tuan besar, memang siapa dia ? Awas saja kalau ketemu, akan ku buat Kau bertekuk lutut. " Dheandra bergumam jengkel.
" Aarghhh ... . " Dheandra berteriak sekali lagi.
" Hai Norman, dimana Kau ? " ucap Dheandra begitu panggilannya tersambung.
" Temani, aku ! " lanjutnya lagi.
" Halo sayang. Dengan senang hati, sayang. Kau dimana ? "
" Hotel XY. " jawab Dheandra dengan senyum cantiknya.
" Aku akan segera ke sana. Tunggu aku ! " balas seseorang dari seberang panggilan.
***
Di mansion utama keluarga Arzallane.
" Tuan ... . " Han Liu masih menepuk pipi Alexander untuk menyadarkannya.
Sesekali matanya melirik ke arah smartwatchnya melihat menit yang berlalu untuk menunggu seorang Dokter Ryan Juville.
Nampak wajah Alexander Moralez masih pucat pasi. Tubuhnya mulai terasa dingin, dengan keringat yang semakin membasahi tubuhnya. Terdengar sesekali giginya bergemletuk.
__ADS_1
Han Liu akan meraih ponselnya lagi ketika tiba - tiba Huan Lee, kepala Pelayan datang mengetuk pintu.
" Maaf Sekretaris Han, Kondisi gadis itu melemah. " lapor Huan Lee.
Han Liu menatap tubuh Alexander Moralez yang masih tak sadarkan diri dan menatap Huan Lee bergantian.
" Akh ... . " Han Liu menarik nafas berat.
" Panggil Dokter Zalline ? Dan minta Lucy untuk membantu memantau gadis itu. " perintah Han Liu.
" Baik, Sekretaris Han. "
" Pastikan pengamanan saat Dokter Zalline menuju mansion, Huan. Saya tidak ingin ada penyusup masuk. Kau paham, Huan ? "
" Baik. Saya undur diri. Permisi " ucap Huan Lee hormat.
Huan Lee melangkah keluar ruangan.
Tangan Han Liu meraih ponselnya dan kembali menghubungi nomer Dokter Ryan Juville.
Tiba - tiba bunyi ringtone ponsel terdengar berisik memenuhi ruangan.
" Aku sudah datang, Han. Tak perlu menghubungiku lewat ponsel. " Ucap Dokter Ryan Juville memasuki ruangan dengan tergesa.
" Kau terlambat, Dokter Ryan Juville ! " tegas Han Liu tidak senang.
" Jangan wanita terus ! " sambung Han Liu lagi.
" Berisik. "
" Hhhmmm ... Kau tidak tahu rasanya berhenti di tengah rasa nikmat, Han. " suara Dokter Ryan Juville terdengar frustasi.
" Ehhhmmm ... . " Han Liu hanya berdehem, wajahnya tiba - tiba memerah.
" Bagaimana keadaan Tuan besar ? " Han Liu mencoba mengalihkan pertanyaan dan mencoba fokus terhadap Tuan besarnya, Alexander Moralez.
Dokter Ryan Juville segera meriksa keadaan Alexander Moralez. Keningnya berkerut berpikir sesuatu.
" Han ... . " panggil Dokter Ryan Juville dan menjedanya beberapa saat.
" Kita harus membawanya keluar negeri. Apa yang kutakutkan sepertinya terjadi Han. "
" What ? Jangan bercanda Dokter Ryan Juville ! Periksa lebih teliti ! " ucap Han Liu menolak diagnosa Dokter Ryan Juville.
" Aku selalu mengingatkan, jangan memaksa mengingat sesuatu ! Itu berbahaya. Syaraf otaknya bisa rusak, karena kenangan yang terblok tidak bisa dipaksa untuk diingat. Bisa dicoba diingat hanya dengan cara yang pelan, jika kepala mulai terasa pening, usahakan berhenti mengingat. Nanti bisa dicoba lagi, ini tidak untuk dipaksa. "
__ADS_1
" Sudahlah ! Bawa ke negara R saja ! Ada temanku Dokter Dominic yang bisa mengusahakan supaya kondisi Al tidak memburuk. Al akan jadi orang yang tidak akan tahu apa - apa selamanya jika terlambat, Han. Kau paham maksudku, Han ? " ucap Dokter Ryan Juville menerangkan.
- bersambung