Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 92 Deg ( Part 3 )


__ADS_3

Tatapan mata keduanya bertemu dan saling mengunci untuk menyelami kedalaman tatapan mata yang sungguh membuat keduanya terdiam. Termenung dengan indahnya manik hitam yang membuat keduanya tenggelam memuja. Ada binar pujian dan perasaan memuja yang mulai tumbuh di hati keduanya.


Dan,


Alexander merasakan ada sensasi aneh yang benar-benar membuatnya hilang kendali. Dengan setengah mati, tubuhnya menahan hawa panas yang mulai membuatnya ingin berbuat lebih pada gadis di depannya.


Tetapi sekelebat bayangan asing tiba-tiba membuat tangannya yang tadi sedang menyusur belahan bibir Kinara yang mengkilat akibat lumatannya, tiba-tiba menarik tangannya dan melarikan tangannya ke arah leher jenjang Kinara yang putih.


Dengan garang lelaki sang penguasa itu mencengkeram leher Kinara dengan kekuatan penuh.


" Upppgft, uhuk ... Hkkkhkk, " Kinara terkejut dan mulai tersengal karena cengkeraman pada batang lehernya semakin kuat. Kinara susah payah mencoba melawan dan melepaskan cengkeraman tangan sang Tuan Besar tapi hasilnya nihil.


Tangan sang Tuan Besar terlalu kokoh untuk tangan kecilnya yang sejak tadi berusaha melepaskan, mendorong tubuh kekarnya.


Kinara benar-benar putus asa.


Tok ... Tok ... .


Terdengar suara ketukan dari arah pintu depan, dan kemudian langkah sepatu yang beradu dengan lantai marmer berjalan mendekat dan ... .

__ADS_1


Ceklek.


Pintu ruang walk in closet terbuka.


" Akh, Tu ... Tuan ? Anda di sini ? " seseorang bertanya dengan tergagap begitu tangannya membuka pintu dan mendapati sang Tuan besar sedang menghimpit seseorang.


Pria tersebut bukannya segera undur tetapi keingintahuannya membuat orang tersebut berjalan kembali untuk mendekati sang tuan besar.


Sang Tuan besar menggeletukkan giginya perlahan, menandakan bahwa dirinya sedang menahan emosi degan sangat.


" Rasa ingin tahumu, akan membuat kepalamu berlubang, Han, " geram Alexander sengit masih dengan merengkuh tubuh Kinara di balik tubuh kekarnya.


" Uhuk..uhukk ... . " Kinara tersengal dan terbatuk kasar. Gadis itu dengan wajah memerah tak berani bergerak, gadis itu hanya stuck dalam dekapan sang Tuan Besar.


Gadis itu meraup nafas sebanyak yang ia bisa tampung dalam dadanya yang tadi merasakan sesak karena kekurangan oksigen.


" Tuan, Anda baik - baik saja ? " selidik Han Liu masih berusaha ingin tahu dan berjalan dengan perlahan.


Kedua pasang anak manusia masih berdiri dengan membelakangi Han Liu.

__ADS_1


Kinara menahan nafas, merutuk kebodohannya, bagaimana mungkin tubuh terbukanya akan di lihat juga oleh sekretaris Han. Okh, Kinara sungguh ceroboh, umpatnya dalam hati.


" Han, maju selangkah lagi, timah panasku akan bersarang di otakmu ! Stop ! " perintah Alexander menggelegar.


Suasana hati sang Tuan Besar tiba-tiba merasa risau, belum tuntas hasratnya, kini sang sekretaris datang mengganggu kesenangannya.


" Maaf, Tuan, tapi Tuan Gery dan Tuan Silvester datang menunggu Tuan di ruang tamu, " ujar Han Liu memberitahu apa yang sedang terjadi hingga dirinya menggangu Tuannya yang akan bersenang-senang.


" Kau bisa menungguku, Han ! Ssshiitt. Kau sangat mengganggu, Han. " geram Alexander murka.


Alexander merengkuh Kinara semakin erat dalam dekapannya. Tanpa sadar gadis itu mendongakkan wajahnya ke arah Alexander, dan menatapnya takut.


Han Liu yang menatap tubuh besar sang Tuan besarnya yang seakan sedang menelan Kinara bulat - bulat merasa terganggu. Lelaki datar itu merasakan hatinya sedikit gelisah karena melihat sepintas kaki jenjang Kinara yang terpampang di depannya.


" Oh astaga, " decak Han Liu mulai menyadari sesuatu ketika matanya menangkap siluet tubuh Kinara dari pantulan kaca di lemari.


" Tutup matamu, Han ! Atau timah panasku akan benar - benar membawamu masuk ke neraka segera, "


" Tutup mata, dan berbalik ! Keluar ! " Geram Alexander dengan murka.

__ADS_1


__ADS_2