
Keduanya masih saling berpandangan, saling menatap seakan sedang ingin menyelami keindahan mata masing - masing. Mata hazel yang jernih, terlihat indah. Sangat berkilau. Terlihat menarik.
Kinara benar - benar tenggelam di dalamnya. Jantungnya berpacu dengan kencang. Pria di depannya ini sungguh sangat membuat jantungnya tak baik - baik saja.
Hening untuk beberapa saat hingga ... sebuah ketukan di pintu terdengar dan pintu terbuka. Seseorang muncul dengan troly berisi makanan masuk ke dalam ruangan.
" Apa yang sedang Anda lakukan, Nona ? " sebuah suara terdengar menginterupsi begitu pandangannya melihat jika Kinara sedang berdiri di sisi ranjang dan seakan sedang melakukan sesuatu dengan wajah sang tuannya.
Kinara terkejut dan menoleh ke arah sumber suara, " Paman ? "
Kepala pelayan masuk dan menunduk hormat ke arah Kinara sambil membawa troly mendekat ke arah sisi ranjang.
" Jangan melakukan hal yang tidak sopan, Nona ! Anda tahu Tuan besar bukan orang yang mudah bermurah hati, " peringatnya tajam.
Kinara menunduk mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah sang tuan besar. Tetapi cengkeraman pada jemarinya seakan membuat gadis manis bersurai panjang itu kembali mengangkat wajahnya. Mengerjapkan mata sejenak lalu membuang pandang ke sembarang arah.
Hati Kinara tak menentu, bergemuruh. Sesekali matanya mengerjap dengan bulu lentik yang bergoyang untuk menutupi rasa panas yang mulai menjalar di wajahnya.
__ADS_1
Gadis itu sadar bahwa pria di hadapannya menatapnya dengan intens, seakan sedang menuntutnya untuk melakukan hal yang sama. Saling menatap, saling menyelami hingga dasar hati.
Ada yang bergolak di sana. Ada debaran aneh yang membuat Kinara semakin salah tingkah di buatnya. Apalagi remasan lembut di jemarinya seakan menyalurkan pendar - pendar listrik yang menyengat hingga membuat tubuh gadis itu untuk sejenak mulai merasa kepanasan.
Di satu sisi, sang kepala pelayan mulai berjalan mendekat ke arah sisi sofa di samping ranjang dan pria dengan jas hitam itu tampak kaget ketika matanya menyadari bahwa sang tuan besar sudah dalam posisi duduk bersandar. Kepala pelayan itu berpikir bahwa Kinara sedang melakukan hal yang tidak baik, tapi nyatanya matanya melihat hal yang membuatnya hatinya bertanya - tanya. Mengapa sang tuan besar Arzallane bisa menyentuh seorang gadis tanpa mual dan muntah ? Karena yang ia tahu bahwa sang tuan memiliki penyakit yang tak bisa di sentuh oleh sembarang wanita. Bukan hanya wanita tapi dengan pria pun akan mengalami hal yang sama.
" Anda sudah sadar Tuan ? " tanya sang pelayan sopan walau dengan suara yang sedikit bergetar takut bahwa kedatangannya mengganggu sang tuan besar. Oh ya jangan lupakan apa yang ia lihat itu membuat sebuah tanda tanya besar. Bagaimana bisa sang tuan sedang menangkup tangan seorang gadis tanpa merasa risih ataupun kesakitan seperti biasanya
" Saya akan panggilkan dokter Maxim, " ujarnya dengan cepat sambil menundukkan wajahnya. Walau tak dipungkiri bahwa hatinya menjadi bahagia, akhirnya sang tuan sadar.
Alexander masih terdiam. Pria itu masih menatap Kinara dengan pandangan tak terbaca.
Gadis cantik itu berniat menurunkan tangannya dari pipi Alexander, tetapi pria itu tak melepaskannya. Pria itu tetap menggenggamnya dan tetap menelungkupkan jemarinya yang besar di punggung tangan Kinara.
" Maaf, tuan. Tolong lepaskan ! " cicit Kinara pada akhirnya dengan gugup. Gadis itu tampak membasahi bibirnya dan matanya mengerjap memohon. Terlihat sangat menggemaskan di mata Alexander seperti kelinci kecil yang tertangkap basah.
" Kalau aku tidak mau ? " suara berat itu terdengar tak mengenakan hati.
__ADS_1
Kinara merasakan desir aneh. Pria ini yang tadi tak sadarkan diri terlihat imut dan menggemaskan, kini memperlihatkan sisi dominan, arogan dan tak terbantahkan walau masih terlihat tetap tampan di mata Kinara.
" Tapi Anda harus makan dulu, ehm ... tolong lepaskan saya ! Ya, Anda harus makan. Anda sudah beberapa hari tidak makan, Anda ... . " mohon Kinara sekali lagi.
" Jangan memerintahku ! " desis pria dominan itu dengan hembusan nafas hangat tepat di wajah Kinara.
Gadis itu terlihat mengerjapkan matanya berkali - kali. Wajahnya yang pias kini terlihat semakin pias dengan rona merah hingga ke daun telinganya. Ada sedikit rasa takut. " Please ! " Kinara masih menggeliatkan tangannya dari kungkungan sang tuan besar, tapi pria yang sedang duduk bersandar itu tak juga melepaskannya.
Alexander tersenyum tipis, jika tak mengamati dengan baik tak akan terlihat ada lengkungan di sudut bibirnya. Pria itu tersenyum tipis sekali lagi.
" Tetap di sini dan suapi aku ! " perintah Alexander pada akhirnya pria itu melepaskan salah satu tangan Kinara tetapi tangan yang lain masih tetap ia genggam.
" Bagaimana bisa menyuapi kalau begini, " Kinara menunjuk tangan yang ada dalam genggaman tangan pria itu.
" Aku tak peduli. "
" Tuan Alexander, Anda terlihat semakin menyebalkan kalau sudah sadar begini. Huhft, " Kinara mengerucutkan bibirnya dengan wajah sebal.
__ADS_1
" Tidak bisa, Tuan. " cicit Kinara lagi ketika tangannya mengalami kesulitan untuk mengambil makanan hanya dengan satu tangan. Apalagi jarak troly yang sedikit jauh dari jangkaunnya dan banyaknya masakan yang kepala pelayan itu bawa.