Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 51. Mencoba Menawar


__ADS_3

" Hai, dude, mengapa Kau tersenyum aneh ? Kau tidak sedang tertarik pada gadis ini kan ? " tanya laki - laki itu dengan penasaran.


Dokter Max hanya tersenyum singkat sambil meletakkan kembali alat tensi di atas nakas. " Kalau aku tertarik, memangnya kenapa ? Tidak masalah kan, aku single dan ku yakin gadis ini juga single. "


" Jangan main - main, Max ! Aku sudah janjikan bahwa gadis ini untuk Tuan Aljendro, ku dengar dia sedang mencari gadis yang ditahan di rumah Arzallane. Susah payah aku mendapatkannya. Kau tahu itu ? "


" Kau gila, Daniel Grase. Aljendro itu hyper bisa mati gadis ini. Lagian gadis ini tidak dapat menggerakan kaki dan tangan. Kau tidak kasihan ? " Max mencoba bernegoisasi dengan Daniel Grase. Hati kecilnya merasa gadis ini tidak pantas diperlakukan demikian.


" Jangan gila, Daniel ! " ucap Max dengan sarkas.


" Asal proyek megacity lancar not to bad, aku tidak rugi. Hanya gadis cacat saja. Aku akan berikan apapun sebagai gantinya. Uang dapat menyelesaikan segalanya dengan mudah. "

__ADS_1


" Kau gila Daniel Grase, aku tidak setuju. Kau tidak kasihan akan nasibnya nanti di tangan si hyper Aljendro ? Dia hanya gadis biasa, tidak pantas diperlakukan seperti itu. " Max masih mencoba menyadarkan sahabatnya.


" Diperlakukan seperti apa ? Hhmm ... Memangnya apa ? Hahaha ... Hanya kenikmatan. Tidak buruk. Dia akan terbiasa. Bisa jadi dia akan menikmati dan menyukainya. " Daniel Grase tertawa licik.


" Kau sama gilanya dengan Aljendro, Daniel. " Max jengah dengan tingkah sahabatnya. Tangannya segera meraih tas dokternya dan berlalu pergi tanpa pamit.


Sebelum mencapai pintu, Max berbalik badan, " Yang penting aku sudah mengingatkanmu, Daniel Grase. Kau mengambil gadis itu dari rumah keluarga Arzallane itu adalah tindakan bodoh, apalagi jika sampai menyerahkan wanita Alexander Moralez ke tangan musuhnya, itu tindakan paling bodoh. Kau akan tahu akibatnya. Apa yang kau bangun dengan susah payah selama ini dapat hancur dalam hitungan menit. Camkan itu ! " Max berbalik dan melangkah keluar dengan tergesa.


Rainbow Island adalah sebuah pulau pribadi dengan resort yang menjanjikan kelimpahan keuntungan. Selain pesona wilayah yang sangat menjanjikan kenikmatan mata, Rainbow Island sudah menjadi incaran para pengusaha.


" Seharusnya kau, Max, bersyukur. Rainbow Island harga yang wajar jika kau sanggup menyembuhkan kaki, tangan dan pita suara gadis ini dalam waktu satu minggu. Bagaimana ? " Tawar Daniel Grase lagi.

__ADS_1


" Jangan kau lewatkan kesempatan emas, Max. Aku tidak menawarkan dua kali untuk sebuah kesempatan. " Daniel Grase masih mencoba mengajak Max, sahabatnya untuk bekerja sama.


Max tidak menggubris perkataan Daniel Grase. Max hanya mengibaskan tangannya, menganggap lalu perkataan sahabatnya. Dirinya tetap melangkah keluar ruangan dengan hati tak tenang. Max mengepalkan tangannya, rasa kacau dalam hatinya membuatnya sedikit frustasi.


" Bagaimana mungkin si bodoh ini memberikan wanita Alexander Moralez kepada Aljendro ? Semua akan hancur. Bener - bener gila, tidak habis pikir dengan cara berpikirnya. Akh, " Max bergumam sambil mrlangkah keluar menjauhi ruang tempat Kinara berbaring.


" Aku sudah memperingatkanmu, Daniel Grase, " gumam Max sambil terus melangkah keluar.


Kinara termenung dalam diamnya. Sepertinya hidupnya tidak akan baik - baik saja. Hidupnya di ambang bahaya. Alarm tanda bahaya dalam otaknya sudah berpendar sejak dirinya sadar beberapa jam lalu.


Daniel Grase hanya menatap gadis di atas ranjang dengan tatapan tak terbaca. Beberapa kalimat yang diucapkan Max sahabatnya barusan sudah mengganggu hatinya.

__ADS_1


" Proyek megacity ini sangat penting bagiku. Aku tidak mungkin gagal. Akan kugunakan segala cara yang penting proyek berjalan lancar. " Daniel Grase berujar dengan tekad yang besar.


__ADS_2