Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 98.


__ADS_3

" Terima kasih untuk sapaannya, Han ! Sungguh kacung yang setia, " bisik Silvester Josh di telinga Han Liu sambil menepuk dada Han Liu dengan keras.


Kedua tamu tak diundang itu segera meninggalkan ruangan dengan senyum licik. Mereka merasa rencananya akan berjalan mulus tanpa mereka sadari akan ada bahaya yang siap menerjang sebentar lagi.


" Kau akan kehilangan semuanya, Alexander. Sama seperti papamu ! " gumam Silvester Josh lirih sambil berlalu dengan langkah sombong. Pikirnya ternyata sang tuan besar Arzallane yang di dengungkan orang diluar sana tak seperti apa yang mereka lihat hari ini. Josh berpikir sang pria yang ia jumpai saat ini hanyalah seperti pria tak berguna yang ada di balik punggung para kacung.


Sedangkan di dalam ruangan, nampak Alexander masih duduk dengan angkuh sambil memainkan smartphone di tangannya. Mata elangnya masih mengamati pergerakan seorang gadis melalui cctv yang langsung tersambung dalam smartphonenya.


" Cari informasi tentang kedua orang itu dan jangan biarkan mereka keluar dengan selamat ! " perintah Alexander cepat setelah kedua orang itu berjalan keluar ruangan.


" Kalian meremehkan saya ? " bisik Alexander dengan senyum smirknya, meletakkan gawainya di atas meja dan membuka laci mejanya untuk meraih sebuah belati kecil. Belati kecil dengan kepala tengkorak berwarna perak. Belati yang pria itu dapatkan ketika sekelompok orang menyerangnya di tengah hutan beberapa hari lalu.


" Hanya orang bodoh yang berani mengusik seorang Alexander Moralez Arzallane. " gumam pria itu lirih.

__ADS_1


Senyum kejam tercetak di ujung bibirnya. Harusnya mereka tahu klan bawah di dunia gelap seharusnya sudah paham dengan sepak terjangnya di dunia bawah. Tapi ternyata masih ada tikus - tikus pengerat yang tidak tahu kekuasaannya.


" Bagaiamana kabar pria yang ku bawa dari rumah sakit itu, Han ? " Alexander memainkan belati ditangannya dengan meliuk-meliukkan gagangnya dengan tangan kokohnya.


" Pria itu masih mengalami shock berat. Masih sulit untuk diajak komunikasi. Ada kemungkinan bisu. Menurut Dokter Zain, trauma jangka panjang itu disebabkan siksaan dan trauma yang berat. Apakah Tuan memiliki ingatan dengan pria tersebut ? " Han Liu bertanya sambil terus menatap layar gawai di tangannya.


" Tolong, perhatikan ini ! " ucap Han Liu menyela perbinacangan tentang pria yang dibawa sang tuan, Han Liu kemudian menyerahkan smartphonenya ke arah Alexander.


Pria dengan wajah dingin dengan aura gelap yang masih membayang, sedikit memicingkan matanya. Berulang kali mata tajam itu mengerjap tak percaya ketika membaca sebuah informasi yang baru saja Han Liu dapatkan dari rekannya.


Nampak Han Liu sedikit bimbang, tetapi seorang Lennox bukanlah hacker biasa sehingga akhirnya Han Liu dengan anggukan kepala mencoba mengiyakan pertanyaan sang tuan besar.


" Apa tindakan Anda selanjutnya, Tuan ? Kita tidak akan membiarkan para pecundang merongrong kerajaan bisnis ini. Proyek megacity memungkinkan sebuah kekuasaan yang berporos pada satu pemimpin. Jika sampai jatuh ke tangan orang yang tak tepat akan merusak tatanan yang sudah ada. "

__ADS_1


" Menurutmu siapa orang yang tepat, Han ? " tanya Alexander masih dengan memperhatikan smartphone di tangannya.


" Anda masih bertanya, Tuan ? Ataukah Anda memang sudah tak menginginkannya lagi ? " Han Liu menyelidik dengan tatapan memicing tak percaya. Tanggapan Alexander yang mempertanyakan siapa yang pantas menyiratkan banyak hal dalam otaknya. Adakah sesuatu yang salah atau sang penguasa ingin menunjukan kemampuannya ? Sepertinya keduanya bukan pilihan tepat.


" Jangan mencoba mencari tahu isi kepalaku, Han ! Kau akan pusing. " cibir Alexander dengan senyum smirk.


" Maafkan saya, Tuan ! "


***


" Bodoh ! "


" Ampun, Tuan !

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2