Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 93 Merutuki Kebodohan


__ADS_3

Han Liu masih terpaku di tempatnya berdiri, rasanya ia ingin menarik tubuh sang Tuan Besar untuk menjauhi tubuh Kinara, karena ia tahu sekali jika gadis yang masih terhimpit di sana dalam kondisi yang tidak baik.


" Kau masih tak bergerak, Han ? " Alexander Moralez mengingatkan lagi sang sekretaris untuk segera menjauh. Tetapi yang di panggil seakan sedang berada di dunia lain.


Han Liu masih terdiam dengan tatapan tajamnya. Terpaku dengan hatinya yang sedang meradang.


" Han ! " bentak Alexander yang masih menghimpit tubuh terbuka Kinara.


Han Liu terjengkit kaget, dan dengan berat hati kakinya bergerak melangkah.


Alexander Moralez masih berdiri dengan posisi menghimpit tubuh Kinara ketika langkah kaki Han Liu mulai bergerak menjauh dan membuka pintu.


" Ehm, maaf Tuan, Tuan ... . " ucapan Han Liu terjeda ketika terdengar suara berat sang Tuan Besar menggeram menahan emosi begitu menyadari dirinya menahan langkah dan bersuara.


Han Liu mengetatkan rahang menahan gemuruh dalam hatinya, tangannya mengepal. Ada emosi yang juga ia tahan dengan susah payah. Dan entahlah perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya saat ini.

__ADS_1


Ada rasa tak suka dan tak rela jika seorang gadis yang bernama Kinara itu ada dalam rengkuhan sang Tuan Besar tetapi apalah dirinya. Han Liu hanya seorang sekretaris, seorang anak buah dari sang Tuan Besar Alexander Moralez Arzallene. Seorang yang harus bisa mengesampingkan perasaannya demi kebahagiaan sang Tuan.


Entahlah, apakah kebahagiaan sang Tuan besar bersama gadis itu atau dengan yang lain. Hatinya memburam, ada tekad kecil yang tersemat di ujung gelap hatintmya, " Jika Tuan, membuat gadis itu sakit berkali - kali, akan saya pastikan, saya akan merebutnya dengan tanga saya sendiri . " batin Han Liu dalam hati.


" Kau masih menunggu apa, Han ? "


" Dan jangan pernah menginginkan wanitaku ! Apalagi berniat merebutnya dari tanganku, " peringat Alexander lagi dengan penuh penekanan.


" Permisi, Tuan, " pamit Han Liu tanpa memalingkan tubuhnya. Langkahnya penuh tekad keluar dari kamar Kinara.


Begitu pintu terdengar menutup, tangan Kinara segera mendorong tubuh pria yang masih setia menghimpit tubuh terbukanya.


Alexander yang masih terpaku dengan pikirannya, tidak siap menerima dorongan Kinara hingga akhirnya tubuh tegapnya terdorong dua langkah ke belakang.


Kesempatan yang baik, ketika tubuh Kinara terbebas dari himpitan dari sang Tuan besar, dengan cekatan Kinara meraih gaun yang ada ditangannya sejak tadi dan berlari ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Brak. Kamar mandi ditutup dengan sangat keras. Sang Tuan Besar yang sempat mengejar Kinara hanya mendapati bantingan pintu di depan wajahnya.


" Damn it. Awas kau, gadis nakal. " umpat Alexander sambil menggendor pintu dengan keras. Tapi sedetik kemudian wajah yang tadinya penuh kemarahan berubah dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Senyum tampan sang rupawan, senyum yang tidak pernah tersemat dalam hidupnya. Dan ini kali pertama setelah puluhan tahun hidup dengan keras.


Sedangkan di balik pintu kamar mandi nafas gadis itu sedang memburu dengan hebat, tubuhnya bergetar dan jantungnya berdegub dengan keras. Bahkan tubuh gadis itu sudah merosot ke lantai kamar mandi yang dingin.


Kinara menebah dadanya berulang kali untuk menetralisir debaran jantung yang tak juga tenang. Wajahnya memerah dengan ekspresi antara jengah dan marah.


" Akh, dasar tuan besar mesum, bodoh, menjengkelkan sekali ... . " umpat Kinara marah dengan menutup matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.


Bayangan pria itu ******* bibirnya bahkan memeluk tubuhnya dengan erat masih sangat terasa. Bahkan tubih Kinara merasa panas tiba-tiba.


" Bodoh, Kin. Jangan pikirkan ! Jangan pikirkan ! Jangan diingat lagi ! " sentak Kinara sambil mengetuk kepalanya berkali - kali guna mengusir bayangan insiden tadi.


" Akh, dasar ceroboh kamu Kin ! " rutuk Kinara untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2