Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 43. Sadar


__ADS_3

Deg.


" Soarez ? " batin laki - laki itu masih dengan mata tertutup. Ingatannya melayang jauh, seperti mencoba mengenang sesuatu yang sulit sekali. Kepalanya berdenyut lagi.


" Soarez ? " laki - laki itu membatin lagi dalam hatinya. " Siapa dia ? Sepertinya, aku sangat mengenalnya. " Laki - laki itu nampak berpikir mencoba mengingat. Alexander tetap diam tidak bergerak, telinganya, ia pasang baik - baik untuk mendengar dua orang perawat laki - laki yang sedang memeriksanya.


" Bagaimana ? "


" Akan ku periksa. Seharusnya pasien sudah sadar, " ucap seorang perawat dengan tangannya yang masih mengukur suhu tubuh Alexander.


" Oh itu. " Seorang sedang menarik troly mendekat dengan peralatan untuk membersihkan tubuh. " Tidak masalah pasien tidak sadar karena itu mempermudah injeksi bekerja lebih optimal. Kau tahu Dokter Dominic sedang membuat peneliitian akan keampuhan serum pelumpuh ingatan dan laki - laki ini menjadi sample kedua untuk uji cobanya. "


" Akh, mengapa harus laki - laki ini ? "


" Tolong, Kau ganti sekalian dengan infus yang baru, itu hampir habis, " seorang menunjuk kantong infus yang hampir habis.


" Kau belum menjawab pertanyaanku, Gery ? " omel temannya sambil tangannya mengganti botol cairan infus yang baru.


" Untuk apa serum pelumpuh otak ? "


" Jangan banyak bertanya, Martin ! Sssttt ... diamlah, Martin ! Pertanyaanmu sangat berbahaya ! " ucap seorang dengan berbisik.


" Ruangan ini dilengkapi cctv, Martin Run. " imbuhnya.


" Kau membuatku penasaran, Ger. Ini sekalian tubuhnya kita bersihkan saja ya ? "


" Ok. " Seorang bernama Gery mengiyakan temannya untuk menyeka tubuh Alexander. " Laki - laki ini namanya Alexander Moralez Arzallane, seorang pengusaha sukses di negara QY sekaligus musuh yang menjadi incaran Tuan Soarez sejak dulu. Sebenarnya mereka bersaudara. Kau tahu, Tuan Soarez adalah ayah kandung Dokter Dominic ... . " ucap seorang yang dipanggil dengan nama Gery sambil berbisik.

__ADS_1


" Aku tidak tahu bagaimana cara laki - laki ini sampai ketempat ini, tapi yang ku dengar bahwa pesawat yang ditumpanginya landing mendadak di kota Q perbatasan dengan negara T. Kata orang - orang yang mengantarnya ke rumah sakit, pesawat dibajak oleh mafia negeri ini. Dan mafia itu pimpinan Aljendro Stewartz. Mereka membunuh semua orang yang berada di dalam pesawat tersebut. Tapi ada seorang anak buah yang bisa membawa laki - laki ini kabur dari pesawat. Tapi naas orang itu mati ditembak karena ketahuan. Sedangkan laki - laki ini jatuh ke dalam jurang. Beruntung jurang tidak terlalu dalam dan diketemukan oleh anak buah Dokter Dominic ketika mereka akan berlatih di lembah Qla. Kau tempat itu kan, kamp latihan untuk semua sniper Tuan Soarez ? " papar laki - laki yang bernama Gery.


" Oh ... . "


" Hanya Oh, Martin ? Setelah aku panjang lebar menceritakannya padamu ? " Gery berdecak kesal.


" Lalu apa hubungannya laki - laki ini dengan Dokter Dominic ? " Martin bertanya lagi lebih antusias.


" Oh, astaga Martin ? Jangan membuat kepalaku pusing. Sudah, kau lap saja badannya, biar aku yang ganti celananya ! " ucap Gery sambil tangannya meraih kait pada celana Alexander.


Alexander hampir berteriak marah, karena rasa jijiknya kembali kambuh ketika ada seseorang menyentuh tubuhnya. Alexander mencoba menahannya dengan seluruh tenaga.


" Sialan, mereka menyentuhku, Arghh, menjijikan. " umpatnya dalam hati. Perut Alexander mulai bergejolak, perasaan mau muntah dan rasa jijik yang teramat tiba - tiba membuat tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Alexander mencoba menguasai diri dengan susah payah. Ia tenangkan pikirannya supaya tubuhnya tidak merespon dengan sembarangan. " Tenang ! Aku harus tetap tenang dan pura - pura belum sadar. Supaya aku tahu informasi lebih lanjut. Akh sial, tubuhku sepertinya tidak bertenaga, terasa lemah sekali. Dan apa ini, kurang ajar mereka menyentuhkan. Oh sh*it ! "


" Oh ya, Gery, apa serum pelumpuh ingatan itu ? Apa untungnya coba untuk laki - laki ini ? " Martin bertanya lagi kepada Gery dengan wajah penuh tanda tanya. Tangannya masih dengan cekatan mengelap tubuh Alexander Moralez tanpa menyadari bahwa pasien telah sadar.


Martin mengangguk, tapi hatinya banyak pertanyaan. Ia masih akan bertanya membuka mulutnya lagi tapi dari arah luar terdengar langkah kaki yang semakin mendekat.


Tuk. Tak. Tuk. Tak. Bunyi high heels beradu dengan lantai keramik.


" Bagaimana kondisinya ? " sebuah suara yang lembut terdengar di gendang telinga keduanya setelah kaki jenjangnya sampai ke samping ranjang. Matanya menyorot tajam memperhatikan seorang laki - laki yang masih terbaring di atas ranjang.


" Selamat pagi, Dokter Dominic. " sapa keduanya dengan menunduk hormat.


" Pagi. "


" Sial, laki - laki ini masih tetap seperti dulu, sangat mempesona. Dan aku tidak pernah bisa melupakanmu, Alex. " seseorang membatin dengan perasaan penuh sayang.

__ADS_1


Dokter Dominic seorang dokter cantik dengan tubuh tinggi semampai, body goals yang sempurna, rambut panjang kecoklatan yang digulung ke atas. Bibir merah terlihat sempurna. Jika dilihat dari postur tubuhnya Dokter Dominic lebih cocok menjadi seorang foto model dari pada menjadi dokter.


" Bagaimana kondisinya hari ini ? " Wanita itu mengulang pertanyaannya dan menatap keduanya dengan pandangan tak terbaca. Sepersekian detik mata yang cantik itu kembali memperhatikan tubuh yang terbaring di atas ranjang. Hatinya bergetar penuh perasaan rindu.


" Kalian sudah cek semua ? Jika tubuhnya stabil, aku bisa menyuntikan serum itu, sekarang. " ucapnya lagi.


" Kondisi stabil, semua hasil pemeriksaan aman, Dok. " Gery memperlihatkan hasil cek kondisi tubuh Alexander kepada Dokter Dominic.


Dokter Dominic mengangguk samar. Senyum lembut terpatri di wajahnya yang cantik. Tangannya bergerak akan menyentuh kening Alexander tapi terganggu dengan pertanyaan perawat yang berdiri di sampingnya.


Dokter Dominic menoleh ke arah suara. Seorang perawat dengan kulit putih pucat, dengan alis tebal sedang menatap ke arahnya dengan penuh tanda tangan.


" Mengapa harus kondisi stabil Dok untuk menyuntikan serum itu ? Bukankah yang penting serum bisa masuk ke dalam tubuh dan akan bekerja dengan sendirinya ? Apa hubungannya laki - laki ini dengan Dokter ? Jika dia adalah musuh Tuan Soarez, bukankah lebih cepat membunuhnya akan lebih aman daripada menyuntikan serum pelumpuh otak ? " Martin dengan bodohnya bertanya penuh ingin tahu.


Gery melotot memperingatkan ke arah Martin. Tapi laki - laki itu nampak tidak peduli. Keingintahuannya lebih besar untuk menerima penjelasan.


" Serum itu akan bekerja dengan cepat ketika kondisi tubuh stabil. Jika kondisinya belum atau tidak stabil jika dipaksakan menerima serum itu, dipastikan dia akan lumpuh total seperti mayat hidup. Dan aku tidak mau itu terjadi, dia tidak akan berguna untuk aku. Aku hanya akan membuatnya tidak mengenal siapa - siapa sehingga aku bisa mengendalikan semuanya, " sebuah senyum licik tersungging jelas di ujung bibir Dokter Dominic.


" Sial, siapa perempuan ini ? " Alexander membatin lagi.


Martin terkejut mendengarnya.


Dokter Dominic tersenyum lembut ke arah Martin. Perawat itu nampak sedikit gugup ketika melihat mata dan senyum Dokter Dominic.


" Kau sudah jelas, Martin ? Karena kau sudah terlalu ingin tahu dan banyak tahu, maka ... . " Dokter Dominic menjeda kalimatnya. Senyumnya tersungging dengan pandangan mata tajam yang menusuk ke arah Martin. Ia menarik sesuatu dari jas dokternya dan mengarahkan tepat ke jantung Martin.


Tanpa bunyi tembakan, tiba - tiba tubuh Martin ambruk bersimbah darah pada bagian dadanya.

__ADS_1


" Rasa penasaranmu akan membunuhnu, Martin. " Dokter Dominic mengibaskan tangannya dengan acuh sambil berlalu dari ruangan, " Bereskan, Ger ! "


__ADS_2