
Kinara mempercepat langkahnya. Bahkan kaki jenjangnya sedikit berlari kesembarang arah. Rasa takut dan kwatir berada di hutan membuat Kinara semakin merasa dirinya terancam. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.
Bayang - bayang di kegelapan membuatnya semakin membuatnya ketakutan dan menangis tersedu.
" Tuaaannnn !! Aku takut, jangan tinggalkan aku ! Huhuhuhu ... . " Kinara sesenggukan sambil terus berjalan. Tanpa di sadar Kinara sudah berjalan semakin masuk ke tengah hutan.
Semakin ke dalam hutan, suasana semakin mencekam, pohon dengan daun yang rimbun menutup cahaya matahari. Suara - suara binatang hutan menjadi alunan musik yang semakin membuat nyali ciut. Dirinya hanya seorang gadis belia, berada di tengah hutan yang lebat dan menyeramkan. Kinara menjadi semakin ketakutan.
" Ayahhhhh ! Kinara takut. "
" Tuannnn Dokter ! Tuannnn ! "
" Akkkh ... . " jerit Kinara histeris ketika tanpa di sadarinya kakinya terperosok ke arah tebing. Tubuh Kinara jatuh bergulung ke bawah menghantam batu besar.
" Kin ! Kinara ! "
" Oh ssshhhitt, gadis itu kemana ? Tidak mungkin anak buah Daniel Grase menangkapnya. Mereka sudah pergi dari semalam meninggalkan hutan ini. " Ryan Juville mengumpat kesal.
" Apa hubungannya dengan Daniel Grase ? Sepertinya aku melupakan sesuatu ... . "
" Daniel Grase ? " Ryan Juville terus berjalan mengelilingi hutan sambil mengingat seorang Daniel Grase.
" Akh, ya. Aku ingat. Daniel Grase ... bukankah dia pengusaha yabg juga ikut berebut protek megacity. Apa hubungannya dengan Kinara ? " Ryan Juville berjalan dengan banyak pikiran di otaknya. Tanpa dirinya sadari, langkahnya semakin jauh memasuki tengah hutan yang semakin gelap.
__ADS_1
Krosak. Krosak. Suara daun dan ranting kering seperti ada yang menginjaknya.
" Oh sshiitt, " Ryan Juville cukup terkejut ketika berbalik ke arah belakang sesaat setelah mendengar seperti daun yang terinjak. Matanya melotot terkejut ketika di hadapannya selingkar ular cobra yang menjulur dari atas dahan tepat sejengkal dari wajahnya menjulur. Kepalanya tegak dengan mata tajam menatap ke arahnya siap untuk mematukkan bisanya.
Dari arah bawah ular lain juga merayap perlahan.
" Demi dewa langit, aku tidak ingin mati dengan cara seperti ini. " Batin Ryan Juville kalut.
Ular mendesis dengan tatapannya yang tajam.
Ryan Juville mematung dan menahan nafas. Rasa takut jelas terlihat di wajahnya.
" Tenang ! Tenang ! " Ryan Juville menenangkan diri dan mengatur nafasnya. Ryan Juville berdiri tenang, tidak membuat pergerakan apapun yang akan membuat dua ekor cobra kaget dan menyerangnya.
Dengan terkejut ular yang sedang melata di bawah pun ikut mengejar Ryan Juville. Tubuhnya panjangnya melata dengan cepat mematuk ke arah kaki Ryan Juville yang sedang berlari cepat. Desisannya benar - benar membuat bulu kuduk merinding.
Ryan Juville berlari cepat semakin ke tengah hutan.
" Aaakkh, " teriaknya kencang ketika tubuhnya terpelanting jatuh ke dalam jurang. Tubuh Ryan Juville meluncur dengan cepat jatuh ke dalam jurang.
Braakk.
***
__ADS_1
Di sisi hutan yang lain, Alexander terus berjalan sambil menggendong seorang laki - laki yang hampir sekarat.
Langkah Alexander terhenti ketika tubuhnya seperti sedang bereaksi aneh. Alexander merasakan tubuhnya mulai berkeringat dingin dan pandangan matanya berkunang - kunang.
Alexander merasakan sedikit tersengal nafasnya. Alexander berhenti sejenak. Menata nafasnya yang mulai sedikit teesengal. Dadanya terasa sesak
Setelah sekian menit dengan helaan nafas beratnya, Alexander melanjutkan langkahnya untuk berjalan lagi.
Alexander melangkah dengan perlahan, sembari mengingat sebentuk wajah dari pria yang sedang ada dalam gendongannya.
Pria itu sebenarnya cukup tinggi, dengan perawakan yang nampak kekar dulunya - terlihat dari otot yang menyembul sisa -sisa keperkasaan. Wajahnya tirus dengan mata cekung yang tertutup rapat dengan bulu - bulu kasar yang membuatnya semakin sangat menyeramkan. Belum lagi rambut yang melebihi bahunya sedikit menutup wajahnya.
Laki - laki itu sekarang tubuhnya nampak kurus tak terurus, belum lagi luka - lukanya di seluruh permukaan kulit. Beberapa luka lebam di seluruh wajah dan permukaan kulit tubuhnya. Seperti bekas tendangan dan sayatan, luka robek, bekas tusukan besi. Di tubuhnya terdapat banyak luka terbuka akibat penyiksaan.
Seharusnya Alexander menyadari dirinya yang penggila kebersihan tidak bisa bersinggungan langsung dengan orang lain atau sesuatu yang notabene kotor. Bagaimana mungkin dirinya bisa menggendong orang asing dengan luka di sekujur tubuhnya ? Biasanya situasi seperti ini akan membuatnya mual, pusing dan bisa membuatnya melakukan tindakan reflek dengan bertindak kejam jika sesuatu terlalu mengintimidasi dirinya.
Alexander mulai tersengal lagi. Dadanya semakin terasa sesak.
Alexander menurunkan tubuh laki - laki kurus dari gendongannya dan menyandarkan tubuh rentanya ke sebuah pohon. Sejenak mata tajamnya mengamati siluet wajah renta dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya di hadapannya.
" Sepertinya aku mengenalnya, " gumam Alexander sembari memijit kepalanya.
Kepalanya mendadak terasa pening. Ada rasa nyeri yang tiba - tiba seperti memukul - mukul tempurung kepalanya. Rasanya berdenyut, seperti tersengat listrik.
__ADS_1
Alexander memejamkan matanya untuk mengusir rasa sakit yang membuatnya sedikit mengerang dan terus memijit kepalanya dengan keras. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Dadanya semakin terasa sesak.