Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 24. Kesenangan Yang Terganggu


__ADS_3

Aliana Stewartz tetap tergolek tertidur tanpa merasakan sakit akibat tusukan garpu pada bahu kirinya. Dokter Merrzy Arzulla memberikan dosis yang lebih untuk membuatnya tenang dan tertidur tanpa terganggu dan merasakan apapun.


Titik - titik air mata turun di sudut mata dan membasahi pipi Dokter Merrzy Arzulla. Memang ada rasa kelegaan di sudut hatinya saat bisa menyalurkan setiap rasa marah, perih dalam dirinya tetapi kenapa Dokter Merrzy Arzulla semakin terpuruk dengan dendamnya.


Dendamnya semakin membara. Semakin besar, sepertinya sudah tidak terpadamkan.


Dokter Merrzy Arzulla masih menggenggam garpu ditangan kanannya yang sudah berlumuran darah.


Nampak Aliana Stewartz masih terlelap di alam mimpinya. Darah banyak keluar dari bahu kanan Aliana yang sedkit robek.


" Dokter ! Dokter ! Apa yang Anda lakukan ? " seorang suster penjaga masuk dan meletakkan nampan yang berisi makanan untuk Aliana Stewartz.


Dokter Merrzy Arzulla masih berdiri mematung dengan garpu yang berlumuran darah digenggaman tangan kirinya dan akan mengayunkan garpu itu sekali lagi ke arah leher Aliana Stewartz.


Dokter Merrzy Arzulla belum bergeming. Wajahnya masih pucat kaku, keinginannya hanya satu membalas dendam kepada semua orang yang dekat dengan Aljendro Stewartz.


" Dokter Merrzy, apa yang Anda lakukan ? " Suster penjaga berusaha menyadarkan Dokter Merrzy Arzulla yang masih akan mengayunkan garpu ke arah leher Aliana.


Dengan berani suster penjaga mendorong Dokter Merrzy Arzulla menjauh dari ranjang tempat Aliana Stewartz berbaring.


Tubuh Dokter Merrzy Arzulla terdorong ke belakang dan membuat Dokter itu tersentak sadar bahwa ada orang lain di dalam ruangan.


Mata Dokter Merrzy Arzulla nampak bengis dan marah. Matanya menatap tajam Suster penjaga yang tadi mendorongnya.


" Apa yang Anda lakukan, Dokter Merrzy ? " tanya Suster penjaga curiga.


Tangan gesit suster penjaga segera membuka gaun pada bahu kanan Aliana, membersihkan luka dan segera memberikan obat dan membalutnya.


Dokter Merrzy Arzulla yang berang karena merasa kesenangannya terganggu, dengan liar meraih tubuh suster penjaga dan mendorongnya ke dinding.


" Jangan pernah merusak kesenangan saya, Suster Assy ! " ucap Dokter Merrzy Arzulla.


" Anda membuat saya marah, Suster Assy. Disini tugas Anda hanya membantu saya. Bukan merusak kesenangan saya ! " teriak Dokter Merrzy Arzulla marah.

__ADS_1


" Jangan merusak kesenangan Saya, Suster Assy ! " Wajah cantik Dokter Merrzy Arzulla nampak kejam dan mengerikan jika mode psikonya kambuh.


" Dokter Merrzy, Anda sudah berjanji untuk melawan keinginan Anda yang tidak sehat ini. Dokter Merrzy Anda passs..ti akh bisa. " suara Suster Assy tercekik.


" Sadar, Dokter ! Anda ha...rus sem...buh. Jangan sep..perrrti ini. Akh ... ." nafas Suster Assy tersengal - sengal karena kehilangan banyak pasokan udara akibat cekikan Dokter Merrzy Arzulla pada lehernya semakin kuat.


Tangan Dokter Merrzy mencekik leher Suster Assy dengan kuat. Kemarahannya benar - benar membuatnya hilang kendali.


Suster Assy mencoba memberontak tapi sedikit kesulitan karena tubuhnya yang terjepit diantara dinding dan tubuh Dokter Merrzy Arzulla yang memiliki postur tubuh lebih besar dari Suster Assy.


Tangan kiri Dokter Merrzy Arzulla menekan ujung garpu pada pinggang Suster Assy dengan marah. Menusuknya berulang kali.


Suster Assy terus memberontak mencoba melepaskan diri. Mencoba menendang. Tetapi tubuh Dokter Merrzy semakin kuat menekannya.


Bahkan siku tangan kanan Dokter Merrzy Arzulla yang sekarang juga ikut menekan leher Suster Assy.


" Akh... . " Suster Assy akhirnya lunglai dengan pinggang yang koyak dan darah sudah merembes kemana - mana.


Dokter Merrzy Arzulla melempar garpu yang sudah berlumuran darah. Lalu menangkap tubuh Suster Assy yang hampir luruh.


Suster Assy adalah satu - satunya teman perempuan yang dimiliki Dokter Merrzy Arzulla. Dokter Merrzy Arzulla adalah seorang yang tertutup, tidak mudah bergaul dan seorang yang mudah curiga dengan siapa saja. Sikap ini membuat Dokter Merrzy Arzulla tidak memiliki teman di lingkungan Rumah Sakit tempatnya bekerja.


Suster Assy adalah satu - satunya teman yang mendukung dan berusaha dengan keras membantunya melepaskan diri dari trauma masa lalu dan keinginan membunuh yang berlebihan pada Dokter Merrzy Arzulla.


" Assy. Assy. Bangun. Maafkan aku ! " panggil Dokter Merrzy dengan nada penuh kekhawatiran dan nada panggilan yang sudah berubah.


Dengan tangan yang sedikit gemetar dan rasa bersalah karena sudah menyakiti sahabatnya, Dokter Merrzy Arzulla segera menggendong Suster Assy dan membawanya ke ruangan lain. Kemudian Dokter Merrzy Arzulla membaringkan Suster Assy ke atas ranjang.


Tangan terampilnya dengan cekatan membersihkan luka, menjahit luka yang sedikit robek dibeberapa bagian di pinggang Suster Assy.


Beberapa saat kemudian tubuh Suster Assy sudah bersih dengan gaun baru yang baru saja Dokter Merrzy Arzulla ganti. Infus juga sudah mengalir melalui pergelangan tangan Suster Assy.


Suster Assy masih terkulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


Dokter Merrzy Arzulla sudah membereskan kegaduhan yang dibuatnya sendiri. Ruangan tampak terang dan bersih.


Sekalipun ruangan yang digunakan adalah ruangan bawah tanah yang lembab dan dingin, tetapi ruangan itu tetap bersih.


Ruangan yang sedang digunakan adalah sebuah ruangan dengan ruang rahasia di balik dinding yang dilengkapi dengan semua peralatan kedokteran yang lengkap. Ruangan khusus yang juga digunakan sebagai klinik darurat untuk merawat dan menyembuhkan para korban yang sedang dalam masa hukuman atau masa eksekusi.


Dokter Merrzy Arzulla nampak terduduk di ujung sofa setelah membereskan semua kekacauan dengan baik. Angannya melayang.


" Bagaimana aku harus hidup ? Tidak mungkin aku akan terus membunuh dan menyiksa orang kan ? " sebuah pertanyaan lirih terlontar dari bibir Dokter Merrzy Arzulla.


Mata Dokter Merrzy Arzulla sayu memandang sahabatnya yang masih tak sadarkan diri.


Suster Assy dibaringkan di atas ranjang putih, dengan tiang infus disamping yang tegak berdiri.


Sebuah tarikan nafas terdengar berat. Bayangan - bayangan masa indahnya bersama teman - teman waktu sekolah dulu berloncatan di pikiran Dokter Merrzy Arzulla. Bayangan saat semuanya masih dalam keadaan baik - baik saja sekalipun rumahnya selalu diwarnai dengan pertengkaran ayahnya yang selalu meminta uang hasil kedai roti ibunya, tapi hidupnya masih bisa menikmati kebahagiaan, masih bisa tertawa kesenangan ketika nilai ujiannya selalu yang terbaik, masih bisa merasakan bahagia ketika bersama ibunya membuat kue kue yang nantinya akan dijual di kedai.


Dokter Merrzy Arzulla menyesap kopi yang baru saja diseduhnya. Rasa pahit pada kopinya menetralisir perasaan yang sedang berkecamuk.


Biasanya setelah menyiksa korban, perasaan Dokter Merrzy Arzulla akan membaik. menyiksa dan membunuh menjadi mood booster-nya.


"Tapi sampai kapan aku akan terus membunuh dan menyiksa orang - orang sebagai pelampiasanku ? Aku juga ingin mempunyai keluarga, aku juga ingin bahagia seperti orang - orang pada umumnya. " batin Dokter Merrzy Arzulla.


Nafas Dokter Merrzy Arzulla sedikit berat. " Aku harus sembuh, " Tekad Dokter Merrzy Arzulla bulat.


Pikiran Dokter Merrzy Arzulla mengembara kemana - mana. Hingga rasa kantuk menghinggapi Dokter Merrzy Arzulla. Nafasnya mulai terdengar teratur dan akhirnya Dokter Merrzy Arzulla tertidur dalam posisi terduduk di ujung sofa.


👉 bersambung.


👉 Terima kasih sudah membaca dan support karya.


👉 Tolong tetap dukung author dengan rate, like, coment positif dan votenya ya. Jika suka bisa gift dengan poin atau koin.


👉 Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2