
" Hahahaha ... Jangan melucu di hadapanku, Aljendro ! Kau tahu dendamku yang sudah mendarah daging ini, apapun akan ku lakukan agar mereka membayarnya -- Lunas. " Pria bernama Thomas itu nampak mulai terlihat emosional.
" Jangan pernah mengusikku, Tuan Aljendro yang terhormat ! Kau bukan tandinganku ! " ujar Thomas sarkas.
Aljendro hanya tersenyum dingin memandang pria di hadapannya dengan tatapan tak terbaca. Ada gurat kemarahan ketika peringatannya tak di hiraukan pria itu. Tetapi pria yang masih keturunan bangsawan itu hanya memgulas senyum dingin dengan tangan terkepal di sisi sandaran sofa.
" Aku hanya berharap tidak membunuh lawan yang tak berdaya, Thomas. " ujar Aljendro pelan. " Lagi, " pria itu menjeda ucapannya dan memandang sekeliling dengan senyum dinginnya. " Kau tak akan bisa keluar dari tempatmu sendiri, Thom. Tempat ini sudah menjadi milikku. Pikirkan baik-baik permintaanku barusan. "
" Brengsek, Kau Aljendro. Pantas saja kau ditinggalkan wanitamu. Kau terlalu ambisius, "
" Apa tidak sebaliknya Thomas ? Kau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan sebagai tuan besar di keluarga Arzallane. Apa kau lupa berapa banyak nyawa saudaramu yang mati mengenaskan karena ambisimu ? "
" Hahaha ... nyawa mereka tidak ada harganya. Posisi tuan besar harus menjadi milikku. Aku yang berhak dan yang pantas mendapatkannya. "
__ADS_1
" Kau gila dan terlalu serakah, "
" Hahahaha ... jangan lupa dirimu juga sama gilanya. Hiperseks, "
" Jangan lupa, kalau kau berhutang banyak hal kepadaku. Dan ... suatu saat aku akan menagihnya. Ku harap kau akan membayar lunas semuanya. " sarkas Aljendro penuh ancaman.
Tak berselang lama pria itu lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dengan langkah angkuh, " Sekali kau mengusik milikku, aku akan hancurkan dirimu sampai tak tersisa. Bahkan aku akan memperhitungkan itu sebagai hutang sampai keturunanmu kelak jika tetap melanggarnya, " kalimat penuh ancaman terlontar sebagai salam perpisahan.
Pria yang bernama Thomas Soarez hanya berdiri dengan tatapan marah, dendamnya masih sama besar dengan keinginannya untuk menguasai keluarga Arzallane, " tapi kau tak akan pernah menang dariku Aljendro, " suara Thomas menggeram marah tak terima dengan ujaran bernada ancaman yang membuat egonya tersentil. Bagaimanapun dirinya harus mencapai apa yang sudah ia targetkan sejak lama. Membalas dendam dan mengambil alih kepemimpinan klan bawah di mana semua klan akan tunduk dan menghargainya sebagai sang penguasa. Tuan besar.
***
" Tuan, rapat dengan Grase Land sudah bisa di mulai sepuluh menit lagi. Tapi ...." seorang wanita dengan wajah pucat dan nafas memburu datang melapor kepada Han Liu. Wanita dengan stelan kerja berwarna hitam itu nampak kewalahan mengatur nafasnya.
__ADS_1
" Ada apa ? " Sebuah kernyitan di dahi Han Liu menyiratkan pertanyaan. "Ada masalah? "
Han Liu menghembuskan nafas pelan, merasa terganggu dengan laporan sekretaris kedua di kantornya. Pria itu nampak menghentikan gerakan jarinya pada keyboard dan matanya yang berbingkai kacamata menatap datar wanita di hadapannya.
" Ehm, itu... di depan ada seorang wanita sedang marah - marah ingin bertemu Tuan Alexander. Saya sudah meminta bagian keamanan untuk menahannya, tetapi mereka kewalahan, Tuan. "
" Kau tahu apa yang harus kau lakukan Stefanny, "
" Iya, Tuan. Saya sudah memberitahunya untuk tidak datang beberapa hari ini karena Tuan Alexander sedang sibuk tetapi dia masih ngotot ingin bertemu. Wanita itu bilang dia calon tunangan Tuan Alexander, "
" Who ? "
" Miss Dimitri... ups no. Bukan Miss Domino. Miss Dominic, Tuan. Yap Miss Dominic. "
__ADS_1
***
Bersambung