
Wanita tersebut menatap penuh kebencian pada lelaki di hadapannya yang masih sibuk dengan beberapa tabung kecil dan beberapa kali menyuntikan isinya ke dalam selang infus.
" Pembalasan selalu lebih kejam, Dominic. "
Wanita yang dipanggil Dominic hanya menatap laki - laki di hadapannya dengan mata yang berkabut, antara marah, benci dan campuran rasa cinta yang kuat yang menyatu. Wajahnya sesekali nampak menahan rasa sakit di sekujur tubuhnnya karena efek beberapa zat yang dipaksa masuk ke dalam tubuhnya melalui suntikan dan infus yang masih terpasang dipergelangan tangannya.
" Aakkhh, " wanita yang di panggil Dominic itu mengerang tertahan, rasa perih dan panas mulai terasa di kulitnya. Nampak kulitnya yang putih bersih mulai memerah dan tonjolan urat - urat semakin membiru. Beberapa bagian kulitnya bahkan mulai melepuh.
Dominic sesekali menatap jarum yang tertancap di tangannya, rasanya ingin menariknya lepas tetapi tubuhnya terasa lemas, lemah tak ada tenaga. Sesekali saja tubuhnya menggeliat lemah menahan rasa sakit.
" Aaarggghh, " Dominic menahan rasa sakit yang luar biasa, seluruh tubuhnya mulai berkeringat dingin. Detak jantungnya berpacu sangat cepat, belum lagi nafasnya yang mulai pendek - pendek, terasa sangat sesak seperti di ganjal bongkahan batu besar.
Nampak laki - laki itu menatap tajam tubuh Dominic yang beberapa kali menggelinjang lemah menahan rasa sakit. Ada senyum licik yang tercetak di balik masker medis yang ia kenakan.
Maaf, jika bukan semua yang terjadi karena kamu Dominic, semua akan baik - baik saja. Sejak kecelakaan maut itu aku membencimu dengan sangat. Karena kamu penyebab kematian Daddyku. Ayahmu membunuh Mommyku di depan mataku. Kalian menghancurkan masa kanak - kanakku, hingga aku harus mengalami semua masa kelam yang membuatku menjadi orang terkejam. Kau pantas mendapatkan semuanya Dominic. Laki - laki bermasker itu membatin dengan kemarahan yang dia tahan.
Ingatan laki - laki itu akan masa kelamnya mulai terbayang sehingga terlihat dari pancaran matanya yang mulai memerah menahan amarah dan dendam yang besar.
__ADS_1
Laki - laki itu beranjak ke sisi kiri dengan jajaran rak buku yang tersusun rapi. Dengan sekilas pandang dia menyadari bahwa di balik rak buku itu ada sebuah ruangan lain sebagai tempat rahasia. Hal itu terlihat dari garis memanjang yang samar terlihat di atas rak buku.
Alexander meraba beberapa buku sambil mata tajamnya mengamati adakah kunci atau sesuatu yang dapat membuat dinding di balik rak buku itu terbuka.
Alexander memicingkan matanya menatap barisan buku - buku kedokteran dan hukum yang terjajar rapi. Dan sebuah buku yang nampak berbeda dari yang lain, sedikit kumuh dengan sampul yang telah usang.
Tangan Alexander terulur mengambilnya dan tiba - tiba rak buku itu berputar membuka memperlihatkan sebuah ruangan tersembunyi di belakang rak.
Dengan hati - hati Alexander masuk dan tiba - tiba rak buku kembali bergerak dan kembali ke tempat semula.
Alexander mengamati ruangan besar itu, beberapa sofa di tengah ruangan dan meja kerja sedikit di sudut kanan dengan barisan lemari kaca besar yang berdiri kokoh menempel di dinding.
Aleksander mengamati ruangan dan melihat adakah kamera pengintai yang tersembunyi. Wajahnya menegang ketika menyadari ada sesuatu yang tidak biasa di ruangan itu.
Ruangan itu lebih besar dari ruangan tempat dirinya meninggalkan Dominic. Ruangan itu bercat hitam dengan furniture mewah, terkesan jika penghuninya memiliki cita rasa seni yang tinggi.
Lemari - lemari kaca berdiri kokoh di sepanjang sisi kanan tembok. Lemari kaca pertama memperlihakan banyak senjata dengan beragam seri. Senjata - senjata yang mahal dan berteknologi tinggi.
__ADS_1
Lemari kedua merupakan etalase dengan berbagai tabung dan kotak obat.
Alexander mengerutkan keningnya ketika membaca sample - sample nama obat. Hampir semuanya merupakan obat ilegal yang hanya ada di dunia bawah. " Bagaimana mereka mendapatkannya ? Atau mereka yang memproduksinya ? Sialan ... . " Alexander mengumpat marah ketika menyadari sesuatu. " Jadi mereka mengincar kedudukanku hanya karena ingin menguasai pasar gelap. "
Alexander melangkah ke samping lagi di bagian lemari kaca yang ketiga, nampak Alexander sedikit tercengang ketika membuka pintu lemari yang sedikit terbuka. Beragam racikan racun yang tersimpan dalam botol dan tabung kecil yang tersegel rapi.
Alexander yang masih mengenakan sarung tangan medis, mengambil tabung kecil yang sedikit tersembunyi di balik tumpukan botol - botol berwarna coklat. Terasa familiar tabung itu dengan tulisan huruf kecil - kecil. Tabung berwarna biru muda dengan logo lingkaran ular cobra berwarna emas.
Alexander mencoba mengingat kilasan masa lalu yang sama - samar. Tabung biru muda dengan lingkaran ular cobra berwarna emas ini pernah di temukannya di ... .
Alexander mengalami kesulitan dalam mengingat kejadian di masa lalu. Kepalanya sedikit berdenyut nyeri.
" Shhhiiitttt, " Alexander mengumpat marah karena kepalanya mulai terasa pening. Tubuhnya mulai berkeringat dingin.
" Sialan, sepertinya ini jebakan, " Alexander mulai mengerang kepayahan dalam bernafas. Dengan cepat tangannya memasukan tabung kecil itu ke dalam sakunya dan bergerak akan keluar. Tetapi mata tajamnya menatap layar monitor yang masih menyala d sudut kiri yang memperlihatkan beberapa orang berseragam putih mencoba memasuki ruangan tempat Dominic berbaring.
" Sial, " Alexander segera menyelinap masuk di balik tirai untuk bersembunyi. Tiba - tiba lantai tempatnya berpijak berputar 180ᵒ dan Alexander tercengang ketika matanya langsung berhadapan dengan lorong panjang yang sangat gelap.
__ADS_1