Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 77 Jangan Bergerak Nona !


__ADS_3


" Ok, kita kembali sekarang. " putus Han Liu.


" Nona, bangunlah ! " Han Liu menepuk punggung tangan gadis itu dengan perlahan. Mencoba membangunkan Kinara yang sedang memejamkan mata.


Nampak Kinara hanya melenguh perlahan dan memalingkan kepala saja tanpa berniat membuka mata sedetik pun. Wajahnya terlihat lelah dan sedikit pucat.


" Maaf, Sekretaris Han, biar saya gendong Nona Kinara saja ! Sepertinya Nona sangat kelelahan, " ungkap Derryan.


Mendengar perkataan Derryan, Han Liu hanya menatapnya tajam. Rahangnya sedikit mengeras menahan rasa geram. Entah perasaan apa yang menelusup dalam hatinya, ada perasaan tidak rela jika Kinara di sentuh orang lain. " Orang lain ... akh dirinya pun juga orang lain. " gumam hati Han Liu.


Han Liu menatap takjub ciptaan Tuhan yang sangat sempurna dalam pandangannya. Gadis cantik dengan rambut panjang, wajah yang lembut dengan kecantikan alami, bibir tipis merah cerinya, bulu mata yang lentik dibingkai dengan alis tebal. Sebentuk lesung pipi yang sering terlihat jika gadis ini tertawa. " Akh, sepertinya saya sudah jatuh hati pada Anda, Nona. "


" Jangan melampaui batasanmu, Der ! " sentak Han Liu. Lalu sedetik kemudian, Han Liu mengarahkan pandangan matanya ke arah Kinara dengan seksama. Nampak gadis itu sangat lelap tertidur walau hanya bersandar pada batu besar.


" Maafkan saya ! Saya ... . "


" Hhhmm, biar saya saja, Derr ! " Han Liu menaruh gadis itu di belakang tubuhnya dan menggendongnya.


" Kau bantu Anx memapah Dokter Ryan saja ! " perintah Han Liu.


" Kita bergerak sekarang dari sisi yang lain melalui pinggiran ! " perintah Han Liu.


Rombongan kecil itu mulai bergerak cepat menyusuri jalan setampak untuk naik ke puncak bukit dan akan turun melalui sisi yang lain supaya tidak bertemu rombongan lain.


Hari beranjak sore dan sinar matahari masih cukup terang tetapi rombongan Han Liu nampak bergerak cepat naik ke atas bukit dan turun melalui pinggir sungai tepi barat. Arah berlawanan dari mereka datang.

__ADS_1


" Akkh, " desis Ryan Juville ketika ujung kakinya terantuk batu kecil.


" Maaf, Tuan. " ucap Derryan sesaat setelah bahunya yang digunakan untuk menopang tubuh Ryan Juville terasa kebas dan pegal.


Brukk.


Ketiganya ambruk ke tanah karena tubuh Ryan Juville yang memberat dan kaki Anx yang tidak kuat menahan tubuh keduanya.


" Sorry Anx, bahuku kram ... . " Derryan sedikit menyengir karena cukup lelah.


" Kalian ini, membuatku tambah sakit saja, " keluh Ryan Juville setelah beberapa saat sadar dan masih dengan tubuh yang bergetar. Tubuhnya masih panas dan demam.


" Tubuh kekar tapi tak ada tenaga. " sindir Ryan Juville lagi. Wajahnya terlihat pucat.


" Hehehe, maaf Tuan, tapi sungguh menaiki bukit ini sangat menghabiskan tenaga. " Anx tersenyum kikuk karena menyadari kesalahannya. Ketiganya lalu tertawa.


" Jangan sembarangan Derr ! Yang


menghabiskan daging siapa ? Tengah malam mengendap ke dapur dan menghabiskan persediaan makanan. " sarkas Anx mengingatkan sambil melirik tajam ke arah Derryan.


" Akh, iya ... sepertinya aku, " Derryan tertawa jengah karena Anx ternyata mengetahui kelakuannya. " Hehehe ... . "


" Ukh, " lenguh Kinarabyang masih


ada dalam gendongan Han Liu.


" Akh, " jeritnya kemudian dan hampir melompat turun jika tangan Han Liu tidak mencengkeram kedua kakinya kuat. Bisa jadi mereka akan terguling lagi ke bawah.

__ADS_1


" Diamlah Nona ! Jangan bergerak ! Tempat saya berpijak masih di tanah yang miring. " desis Han Liu sambil mencengkeram kedua kaki Kinara yang masih melingkar di perutnya. Han Liu sedikit menggeram ketika gadis dalam gendongan di punggungnya sedikit bergerak. Gerakan tubuh Kinara di punggungnya sungguh membuat Han Liu hampir kehilangan akal. Desiran panas mulai menyerang tubuh bahkan wajahnya.


" Nona, tenanglah ! Shiit ! " Han Liu menggeram dengan suara berat.


Kinara tanpa sadar menggesek tubuh bagian depannya pada punggung Han Liu, makksud hati hanya sedikit menjauhkan diri dari punggung orang kepercayaan sang Tuan besar, orang yang sama dingin dan datarnya. Ada rasa tidak enak karena sudah di gendong seorang laki - laki dan rasa tidak nyaman karena sudah menyusahkan orang lain. Karena menaiki bukit dengan menggendong tentulah sangat sulit dan berat. Pikir Kinara dalam hati.


" Akkkhh, Tuan, maafkan ! Bisakah kau turunkan aku ? " cicit Kinara yang mulai tak nyaman berada di punggung laki - laki kepercayaan sang Tuan Besar.


" Jangan bergerak Nona ! " suara Han Liu terdengar berat. Tangannya menekan kedua kaki Kinara semakin melingkar di perutnya. Sebuah gerakan kecil pada tubuh Kinara membuat kakinya sedikit terhuyung ke belakang karena beban lebih berat ada di punggungnya.


" Diam ! Atau saya lempar Anda ke bawah Nona. " sentak Han Liu masih dengan suara berat karena menahan sesuatu yang mulai mengeras di bawah sana. Sesuatu yang hampir tidak pernah menunjukkan pesonanya, karena Han Liu termasuk lelaki yang dingin dan kaku, tidak suka bergaul dengan wanita. Bukan tidak menyukai wanita, tetapi karena ada bayangan gelap dari masa lalu yang membuat seorang Han Liu menjauhi para wanita. Ketertarikan pertamanya pada wanita adalah saat pertama kali bertemu dengan Kinara. Gadis manis yang sudah distempel menjadi kepemilikan sang Tuan Besar, Alexander Moralez Arzallane.


Sesaat setelah mendengar ancaman Han Liu, Kinara melirik tempat mereka berpijak. " Hhuaaa, " Mata Kinara membola terkejut. Cukup tinggi jika di bandingkan saat mereka ada di bawah. Dan tempatnya berdiri sekarang adalah tanah miring yang cukup curam.


Saat ini dirinya ada dalam gendongan Han Liu yang sedang berdiri di tanah dengan kemiringan yang cukup ekstrim, salah bergerak saja bisa jatuh menggelinding ke bawah, seperti dirinya dan Dokter Ryan Juville yang jatuh berguling dari atas sampai ke bawah bukit. Tubuhnya bergidik ngeri ketika bayangan jatuh ada dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang Kinara segera melingkarkan kedua tangannya memeluk leher Han Liu dengan erat. Bahkan tanpa sadar kakinya sudah melingkari perut Han Liu dengan sempurna. Tubuhnya menempel kuat di punggung Han Liu.


" Jangan lempar aku, Tuan ! " pinta Kinara hampir menangis sambil kedua tangannya memeluk erat leher Han Liu. Bahkan tanpa sadar Kinara sudah menelusupkan kepalanya di ceruk leher Han Liu.


Han Liu menarik nafas berat. " Cobaan ini terlalu berat, Nona. " Han Liu menggeram frustasi karena bibir dan nafas hangat dari Kinara menyentuh lehernya. Desiran panas itu benar - benar membuat seorang Han Liu yang dingin, kaku dan datar merespon cepat. Wajahnya berubah memerah dan degub jantungnya mulai memacu dengan cepat.


Sang penakluk pun mengembang sempurna memicu hasrat yang terkubur hampir tak pernah menunjukkan pesonamu. Han Liu tampak sangat frustrasi. Rahangnya mengeras menahan hasrat sekaligus rasa yang sudah menguat dalam tubuhnya.


~ Bersambung


Terima kasih masih stay di sini.


Tetap tinggalkan jejak like, koment, vote or gift ya untuk tetap dukung karya ini.

__ADS_1


Salam sehat dan tetap bahagia


__ADS_2