Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 80 Sakit


__ADS_3


" Maaf, Tuan saya tidak berani. " jawab Han Liu dengan sedikit membungkukkan badannya. Bagaimanapun ucapan Sang Tuan adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakannya.


" Han, " panggil Dokter Ryan Juville mendekat ke arah Han Liu yang berdiri tegak membelakangi dirinya.


Dokter Ryan Juville berjalan lambat ke arah Han Liu sambil di papah oleh Anx. Tubuhnya masih terlihat lemah, tapi begitu pun, Ryan Juville masih sangat penasaran akan apa yang sedang terjadi. Hingga dirinya berjalan tertatih mendekat ke arah Han Liu.


Sedangkan Derryan nampak terduduk di tanah dengan nafas yang masih tersengal karena kelelahan mendaki bukit dengan ransel masih di punggungnya.


" Ada apa Han ? Aku mendengar ada suara baku hantam tadi ? " sambung Dokter Ryan Juville sambil terus berjalan mendekat. Wajahnya masih pucat, dengan tubuhnya yang mulai melemah. Sesekali langkahnya nampak terhuyung. Dan Anx dengan susah payah menyeimbangkan langkahnya, menahan tubuh Dokter Ryan Juville yang mulai memberat supaya tidak terjatuh.


Bruk.


Keduanya jatuh ke tanah. Anx nampak kepayahan menahan berat tubuh Dokter Ryan Juville yang ambruk di bahunya.


Semua pandangan langsung terarah kepada tubuh Ryan Juville yang ambruk ke tanah.


" Tuan, " seru Kinara sambil berlari ke arah Dokter Ryan Juville yang ambruk ke tanah. Tangan Kinara dengan cepat menyentuh dahi kemudian pergelangan tangan untuk mengukur denyut nadi.

__ADS_1


Tubuh Dokter Ryan Juville terasa dingin dan berkeringat. Wajahnya pucat seputih kapas. Bahkan di beberapa bagian kulitnya mulai nampak ruam biru.


" Tuan, Tuan ! " panggil Kinara dengan terus menepuk perlahan pipi Ryan Juville supaya tetap dalam keadaan sadar. Tapi lelaki itu nampak diam tak bergerak.


Kinara dengan cekatan menggerakan kedua tangannya untuk membuka kancing kemeja Ryan Juville supaya longgar.


Alexander Moralez hanya menatap tajam Kinara yang sedang berusaha membuka kancing kemeja Ryan Juville. Dan itu sangat membuat hatinya terasa panas. " Sial, " umpat Alexander marah.


Tapi belum Kinara sempat terbuka kancing kedua, Alexander Moralez dengan kasar menarik tangan gadis itu dan menarik tubuhnya ke arahnya.


" Hei apa yang akan kau lakukan ? " seru Alexander Moralez sambil meraih tangan Kinara dengan keras. Matanya menatap tajam gadis dihadapannya yang masih meronta minta di lepaskan.


" Kau punya nyali besar Nona, berteriak di hadapanku ? " Alexander menatap tajam mata Kinara.


Keduanya saling tertaut dalan pandangan. Entah keberanian darimana, Kinara membalas tatapan sang Tuan Besar dengan berani. Pikirannya hanya bagaimana cara menolong Dokter Ryan Juville yang sudah berulang kali menolongnya.


" Apa ? " tantang Kinara saat mata tajam Alexander Moralez menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Terasa dingin juga kejam.


Mata kelam dengan tatapan tajam. Mata kelam yang sangat menghanyutkan. Mata yang indah, mata yang tajam dan terasa sangat kejam tetapi sangat menarik untuk menatapnya lebih lama. Seperti tenggelam dalam pusaran air yang dalam, Kinara menatap mata Alexander.

__ADS_1


Keduanya tertaut dalam pandangan dan tidak ada seorang pun yang ingin mengalihkan mata. Suasana terasa sunyi.


Sementara itu nampak Han Liu berjongkok di samping tubuh Ryan Juville, " Ryan, " Han Liu mencoba membangunkan Ryan Juville dengan tepukan di kedua pipinya, sesekali mengguncang bahunya perlahan untuk mengembalikan kesadarannya. Tetapi tetap saja laki - laki itu tidak bergerak.


" Masih ada denyutnya, tapi sangat lemah, " lapor Anx.


" Kita harus cepat bergerak, nyawa Dokter Ryan dalam bahaya, " tambah Anx lagi. " Dokter Ryan harus segera di bawa ke rumah sakit. "


" Apakah ini ada hubungannya dengan ... ? " ucapan Han Liu terhenti ketika sebuah tepukan di pundaknya memintanya sedikit berpindah.


Alexander Moralez berjongkok di samping Ryan Juville, Dokter pribadi sekaligus sahabatnya. Lelaki tegap itu sekalipun kesehatannya juga belum pulih mencoba memeriksa sahabatnya. Meraba tengkuknya dengan perlahan.


Raut wajah Alexander Moralez nampak suram. Ada keterkejutan dan kepanikan yang sempat terbaca sekilas. Tapi dengan cepat sang Tuan Besar bersikap datar.


" Kita bergerak sekarang ! " perintahnya cepat sambil kembali tegak berdiri.


-- bersambung


Hai - hai reader terkece. Tuan Besar up lagi. Jangan lupa koment. like dan votenya yah. Tetap dukung karya ini supaya saya tetap semangat up. terima kasih untuk semua dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2