Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 90 Deg ... Deg ... .


__ADS_3

" Akh, Kau membuatku jengkel Huang Lee, kau adalah kepala pelayan seharusnya sekecil apapun di mansion ini adalah tanggung jawabmu. "


Alexander meletakkan peralatan makannya dengan suara beradu. Tubuh tegapnya bergegas bangkit dari duduknya dan berdiri.


" Maafkan saya, Tuan ! Saya lalai menjalankan tugas, saya terlalu fokus mendampingi perawatan Dokter Ryan Juville di paviliun perawatan. Saya takut ada orang yang mempergunakan kelemahannya untuk menyerang mansion ini ... . "


" Apa maksudmu Huang Lee ? Apakah keamanan sistem di mansion ini sudah lemah ? " Alexander bertanya dengan mata menyelidik.


" Duduklah sebentar, Tuan ! Saya akan menjelaskan ! "


" Tunggulah di ruang kerjaku, Huang, Han ! " perintahnya kemudian dan kembali memundurkan kursinya untuk melangkah pergi menaiki box besi yang terletak di ujung ruangan.


Alexander memencet tombol angka empat dan beberapa saat kemudian, lift kembali bergerak ke lantai empat.


Begitu pintu lift terbuka, tubuh tegapnya langsung bergegas keluar dan menyusuri lorong panjang menuju ruangan paling ujung dengan pintu berwarna putih.


Di dalam ruangan tampak seorang gadis sedang berjalan keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk putih yang membungkus tubuh telanjangnya.


" Kebiasaan, mandi selalu lupa membawa baju ganti, " rutuk Kinara sambil berjalan keluar menuju walk in closet dengan jajaran lemari besar.

__ADS_1


" Dasar, orang kaya. Pemuja perempuan gak bener, " Kinara mengerucutkan bibirnya sambil membolak balik gaun-gaun seksi yang terbuka.


" Masa isi lemari hanya gaun - gaun kurang bahan seperti ini, mana seperti saringan tahu, okh astaga ... Sungguh tidak bermoral. Ups, " Kinara menutup bibirnya sendiri karena keceplosan bicara. Pikiran nakalnya membayangkan para gadis sedang mengenakan gaun-gaun saringan tahu dan berjalan berlenggak - lenggok di depan sang Tuan Besar. Kinara bergidik geli sekaligus ngeri.


" Akh, " tanpa sadar Kinara menjerit perlahan ketika otaknya mencurigai adanya kamera pengintai yang terpasang di ruangan itu. Kemudian matanya segera bergerilya menatap setiap sudut ruangan apakah ada kamera pemindai.


Dirinya cukup ngeri membayangkan jika di ruangan tempat dirinya membolak-balik gaun seksi terdapat gaun seksi. Apalagi tubuhnya hanya berbalut handuk putih yang hanya membungkus tubuh setengah pahanya.


" Akh, aman, " senyum Kinara tersemat di ujung bibirnya seraya mengelus dadanya perlahan merasa lega.


" Gaun ini sepertinya bagus, " monolog Kinara perlahan sambil menyentuh sebuah gaun dengan warna biru laut dengan potongan sedikit terbuka di bahunya. " Okh astaga ... Depan cantik walau terbuka bahunya tetapi mengapa bagian belakang seperti lubang neraka ... . " umpat Kinara mengembalikan gaun itu kembali dan bergidik ngeri. " Bukan terlihat cantik, masuk angin iya, " gumamnya perlahan.


Kinara membuka semua lemari dan semua gaun tidak cocok dengan seleranya.


" Akw, " jerit Kinara tersandung pada kakinya sendiri karena berjalan tak hati-hati. Sering ceroboh, itulah dirinya.


Handuk putih yang membelit tubuhnya terlepas dari belitannya. Karena kesal tak mendapat juga apa yang diinginkan, Kinara hanya membiarkan handuk itu luruh di lantai. Dan dengan kesal kembali berjalan telanjang ke arah lemari di ujung ruangan.


Di ujung ruangan tepat di depan pintu penghubung, Alexander yang sejak tadi berdiri dengan tertegun memandang drama pagi yang cukup membuatnya hampir tertawa terbahak. Pemandangan di depannya sungguh di luar nalar dirinya.

__ADS_1


Bagaimana mungkin seorang gadis mengumpatinya dengan gaun-gaun mahal miliknya.


Alexander menelan salivanya dengan susah payah ketika mata tajamnya menangkap pandangan gadis cantik yang terus mengomel berjalan ke arah ujung lemari dengan tubuh telanjangnya.


Sebenarnya melihat tubuh telanjang seorang gadis adalah hal biasa baginya karena dirinya juga pemain wanita, tetapi dalam sejarah hidupnya belum pernah ada seorang gadispun yang dapat menarik perhatiannya dan menguras emosinya seperti pada diri Kinara.


Dan Kinara mampu membuat dirinya emosi tingkat tinggi bersamaan dengan jantungnya yang akan berdegub kencang jika berada di dekatnya.


Kinara sampai pada ujung lemari, membukanya dengan kasar dan mulai mencari apa yang diinginkan hatinya.


" Hola, " serunya riang seperti sedang menemukan berlian. Sebuah t-shirt berwarna putih besar dia temukan di lipatan paling bawah, sepertinya cukup untuk membungkus tubuhnya, toh pikirnya dirinya hanya dikurung di dalam kamar saja. Pakaian yang nyaman yang akan membuat moodnya tidak semakin hancur karena sudah merasa jenuh hanya berada di dalam kamar.


" Ekhm, " suara berat membuat Kinara hampir melonjak kaget. Deru nafas panas terasa di belakang telinganya.


Deg.


Deg.


Deg.

__ADS_1


***


bersambung


__ADS_2