
Mereka tidak pernah berpikir apa dampak dari menginginkan milik sang tuan besar. Kematian. Semua yang akan merampas atau menginginkan sesuatu yang di miliki sang tuan besar hukumannya adalah kematian.
Alexander hanya memiringkan wajahnya, menatap dingin pria dihadapannya. " Kalian sadar apa yang kalian ucapkan ? Hah ? "
Alexander menyeringai pongah. Ada aura dingin yang tiba - tiba membuat suasana tegang menjadi semakin tegang dan gelap.
Gery Aslan meneguk saliva dengan susah payah. Ia lupa sedang berhadapan dengan siapa. Ia pikir
ketika dirinya dan rekannya bisa bertemu dengan sang tuan besar pemilik mansion akan mempermudah urusannya tetapi ternyata ia salah memperkirakan. Sang pemilik mansion bukan orang biasa yang mudah diajak kompromi.
Jangan lupakan bahwa sang pemilik adalah pemimpin dan penguasa klan bawah yang cukup di segani. Terkenal dingin dan bengis. Namanya ada di atas Aljendro Stewardz, cukup menjadi monster yang mengerikan ketika dirinya disinggung atau bermusuhan secara langsung.
" Ehm, beg ... gini maksud sa ... saya. Saya hanya bermak ... sud meminta wanita bekas Anda. Jika Anda sudi memberikannya ... . " Silvester Josh mencoba merubah kalimat penawarannya menjadi sebuah permintaan. Yah, lebih baik meminta daripada menukarnya langsung atau anggaplah sama saja karena mereka hanya memerlukan gadis itu untuk memuluskan rencana mereka.
" Ehm, dan saya tidak memintanya dengan cuma-cuma karena ada nilai tukar yang lebih besar daripada harga barang bekas pakai ... . " lanjut Silvester Josh mulai percaya diri.
__ADS_1
Brak.
" Lancang ! " seru Han Liu marah dan bergerak cepat menendang pria botak yang sedang tersenyum dengan percaya diri.
" Siapa yang kalian maksud gadis bekas itu ? Hah ?! " Han Liu mencengkeram krah kemeja dari Silvester. Tubuh tingginya menjulang diantara tubuh yang sedang terjengkang ke belakang bersama dengan kursi yang didudukinya tadi.
" Hai, hai, Han ! Ehm, maaf Sekretaris Han, memangnya sebutan apalagi yang pantas untuk barang bekas dari banyak pria. Toh gadis itu ... Akh bukan wanita itu sudah belasan kali di jual oleh Arkanzaz untuk membayar hutang ayah ibunya. Akh bukan ayah ibunya tetapi ibu pengasuhnya. "
Bugh. Bugh.
Han Liu dengan kalap memukuli si botak dengan membabi buta.
Brugh.
" Akh, Sekretaris Han !? " seru Gery Aslan bertanya sekaligus terkejut ketika mendapati sang asisten tuan besar dengan mata yang berkilat marah menghantam pria botak temannya dengan tendangan yang cukup mematikan. Memukulnya berulang kali hingga pria klan bawah itu sudah terlihat sangat memprihatinkan.
__ADS_1
" Uhuk ... Uhuk ... . "
Silvester Josh mencoba bangkit dari kursi yang sudah membuatnya terjengkang ke lantai. Dengan terbatuk dan sengal nafas yang sedikit tercekat di tenggorokannya, pria botak itu mencoba bangkit dengan susah payah, " Sekretaris Han ? Anda sungguh keterlaluan jika menolak penawaran saya. Gadis itu hanya barang bekas dari seorang pecundang Arkanzaz. Tak akan bernilai jika dibandingkan dengan megacity yang akan menjadi kekuasaan Anda Tuan Moralez dari klan bawah. Karena seorang Aljendro akan memberikan megacity jika bisa menemukan putrinya. Dan putrinya itu adalah gadis yang ada di mansion Anda. "
Deg.
" Putri ? Putri Aljendro Stewardz ? Tidak mungkin Kinara adalah putri Aljendro Stewardz ? " batin Alexander.
Alexander Moralez Arzallane masih diam seribu bahasa. Otak jeniusnya berpikir keras mencoba merangkai semuanya menjadi satu. Kemungkinan memang masih ada tetapi sungguh itu bukan jawaban yang diinginkan. Karena benang merah dalam perasaan bahkan otak bawah sadarnya meyakinkan dirinya sangat mengenal betul gadis ceroboh itu.
" Ini informasi yang Anda butuhkan, Tuan, " Silvester Josh mengangsurkan sebuah alat perekam data, " jika Anda berubah pikiran, hubungi saya ! Tapi ... Jangan salahkan saya jika Anda menolak memberikan gadis itu, kami akan bertindak dengan cara kami ! "
" Terima kasih untuk sapaannya, Han ! Sungguh kacung yang setia, " bisik Silvester Josh di telinga Han Liu sambil menepuk dada Han Liu dengan keras.
Kedua tamu tak diundang itu segera meninggalkan ruangan dengan senyum licik.
__ADS_1
***
Bersambung