Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 118


__ADS_3

Keduanya melanjutkan lagi berjalan hingga mencapai sebuah pintu kayu yang kokoh dengan list berwarna keemasan. Mewah.


Ceklek.


Han Liu membuka sebuah pintu yang hanya bisa di buka dengan sidik jari. Masuk ke dalam dengan langkah tenang dan tanpa suara.


" Berjalanlah tanpa suara ! " perintah Han Liu sebelum melangkah masuk.


Kinara mengangguk patuh.


Kinara yang berjalan di belakangnya pun akhirnya mengikuti seperti yang pria itu lakukan di depannya. Berjalan dengan perlahan dan tanpa suara tapak alas kaki. Seakan takut menimbulkan suara yang akan menggangu sang pemilik ruangan. Tanpa sadar kepala Kinara melongok ke depan, terasa jalan masih jauh hingga sampai di tujuan, terasa sangat penasaran siapa yang akan di temui. " Mengapa harus bersikap sehati - hati ini sih ? Jalan mengendap seperti pencuri saja, atau kamar ini di lengkapi ranjau ? " pertanyaan Kinara hampir membuat Han Liu mengapit leher gadis di belakangnya. Gemas. Ada saja pikirannya yang konyol tercetus dalam setiap pertanyaannya.


" Selamat pagi, tuan besar, " sapa Han Liu perlahan ketika sampai di sisi ranjang besar dengan bed yang empuk dan mewah.


Kinara sedikit mengernyitkan dahi ketika sampai di samping orang nomer satu kepercayaan sang tuan besar Arzallane.


" Selamat pagi, Tuan Alexander. " Kinara ikut menyapa.


Gadis manis dengan gaun biru laut itu tampak mengerut tak senang.


" Sombong, " cetusnya kemudian ketika Kinara tak juga mendengar suara balasan. " Anda tidak menjawab salam, Tuan Alexander? " tanya Kinara lebih lanjut. Bibirnya sudah gatal ingin berkomentar.


Kinara sekali lagi mengernyitkan dahi, "Kenapa dia diam saja, Tuan ? " tanya Kinara bingung kepada Han Liu. " Koq diam? " Kinara mengulang pertanyaannya dan akan menyentuh wajah Alexander yang masih terbaring tak sadar.


Han Liu menangkis tangan Kinara yang akan menyentuh wajah Alexander.


Plak.

__ADS_1


" Ish, " Kinara mendesis tak terima, " hanya sentuh saja, tidak banyak. " ucap Kinara sambil mendekatkan jari telunjuk dan jempol membentuk sudut kecil untuk menggambarkan kata sedikit menurut gadis itu.


Han Liu tak menggubrisnya.


" Tuan Alexander dalam kondisi yang tak baik. Jika Anda mau bekerja, bekerjalah di sini. Rawat dan perhatikan tuan besar ! " ujarnya datar dan dingin. Tapi perkataan Han Liu terdengar seperti perintah di telinga Kinara yang harus dilaksanakan.


" Tuan Alexander sakit apa ? Orang besar begini kenapa bisa sakit ? " tanpa sadar Kinara menusuk pinggul sang tuan besar sambil terkikik geli, " Badan aja besar, tapi gampang sakit. "


" Nona Nara, " peringat Han Liu ketika melihat tawa Kinara yang masih memperlihatkan gigi putihnya.


Gadis cantik dengan ekor kuda itu mengerucutkan bibirnya. Tak senang tawanya di hentikan


" Anda keterlaluan, Nona. Sebaiknya Anda tidak menertawakan orang sakit, " Han Liu berujar dengan sinis. Hatinya sedikit tersentil.ketika gadis di sampingnya menertawakan sang majikan.


Apa gadis ini tidak tahu seorang tuan besar Alexander Moralez Arzallane ? pikir Han Liu dalam hatinya. Tanpa sadar pria itu menggeleng tak percaya ada seorang gadis yang kadang bersikap seenaknya kepada sang majikan.


" Jaga tingkah laku Anda, Nona ! " Han Liu memperingati Kinara dengan suara sedikit meninggi.


" Maaf, saya tidak akan mengulangi, " cicit Kinara sedikit gugup.


Suasana hening.


" Bagaimana ? " Han Liu mengulang pertanyaannya kepada Kinara dengan menatap lamat - lamat wajah di depannya. Rasanya matanya selalu ingin menatap gadis di depannya sebanyak mungkin, jika perlu selama mungkin. Ada rasa nyaman dan perasaan aneh yang tumbuh di sudut hatinya yang selama ini gelap.


" Saya bukan perawat, Tuan. " Kinara mengucapkan pemikirannya, " Tuan kan bisa cari perawat yang lebih berpengalaman jika itu untuk tuan besar. Segala sesuatu harus yang terbaik dan yang berpengalaman di bidangnya. Saya bukan menolaknya tapi ... . " Kinara menjeda ucapannya. Gadis itu nampak berpikir sejenak kemudian mencicit pelan, " hehe, saya takut. "


Han Liu hampir melotot tak percaya, alasan gadis ini sungguh di luar ekspektasinya. " Takut ? "

__ADS_1


Kinara hanya tersenyum gugup. Gadis itu masih berdiri menempel di samping ranjang tuan besar Alexander. Bahkan tanpa sadar gadis itu juga masih mempermainkan pergelangan tangan pria yang masih asyik menutup matanya tak sadarkan diri, tanpa sepengetahuan Han Liu.


Jelas saja tanpa sepengetahuan Han Liu, karena pria itu sedang sibuk memperhatikan dokter Maxim dan perawat yang sedang memeriksanya.


Kinara masih asyik dengan kegiatannya. Sesekali jari lentiknya menyentuh dengan sedikit menekan sampai ke sela - sela jemari Alexander. Semuanya di luar kesadaran Kinara, Kinara asal saja menggerakkan jari - jarinya sampai ke telapak tangan besar sang tuan yang kini mulai terasa hangat.


Kinara dan Han Liu masih berdiri mematung di tempatnya masing - masing bahkan sampai ketika dokter Maxim masuk dengan seorang perawat untuk memeriksa kondisi sang tuan.


Kinara masih asyik dengan kegiatannya, rasanya menyenangkan meyentuh kulit kecoklatan yang mulai terasa hangat dengan jari telunjuknya. Sedikit menusuk, bahkan mengelus dari pergelangan tangan hingga telapak tangan.


Sampai ... grep.


" Akhh, " Kinara menjerit terkejut ketika jari - jemarinya di genggam oleh tangan yang sejak tadi ia sentuh.


Deg.


Han Liu, Dokter Maxim dan seorang perawat langsung menoleh ke arah Kinara. Tatapan mereka penuh tanya.


" Ada apa ? "


***


bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen yang membangun.


Terima kasih sudah stay di karya ini.

__ADS_1


__ADS_2