Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 116


__ADS_3

" Damn it, " batin Han Liu menguasai diri. Gadis di depannya sungguh memabukkan. Wajahnya kembali datar tetapi pandangan matanya seakan ingin meraup semua pemandangan indah di depannya.


Gadis cantik dengan rambut hitam yang terikat satu menyisakan helain di dekat telinga, alis yang hitam, bulu mata yang lentik. Mata hazel yang menarik banyak pria untuk menyelami kedalamannya. Jangan lupakan lesung pipi dan bibir mungil semerah ceri yang seksi. Sangat seksi.


Gadis itu terlihat sangat sempurna, tidak terlalu tinggi pasti pas jika direngkuh dalam pelukan yang hangat. Lekuk tubuh yang ramping tetapi ada bagian yang menonjol yang pas pada porsinya. Bongkahan padat yang sempurna, bukit kembar yang indah.


" Sialan, " umpat Han Liu sekali lagi dalam hatinya.


Han Liu kembali menyesap kopinya dengan tenang. Pria datar dan kaku itu berusaha menormalkan detak jantungnya dan pandangan matanya yang ingin tetap terus menatap sang pujaan.


" Pujaan ? " sebuah pertanyaan terjengit di sudut hatinya. Kapan dirinya menetapkan seorang gadis menjadi pujaan hatinya. Apalagi untuk seorang Kinara.


Di dunia ini tidak ada tempat di hatinya untuk seorang wanita, tidak. Tidak juga untuk seorang ibu apalagi seorang gadis, batin Han Liu dengan wajah yang mulai mengeras.


Sekelebat bayangan masa kecil membuatnya kembali sadar bahwa tidak ada makhluk berjenis wanita harus menetap di hatinya. Tidak untuk dahulu maupun masa sekarang. Tidak juga untuk masa depan. Semua hidupnya hanya harus mengabdi kepada tuan besarnya kini, iru sumpahnya kepada almarhum Tuan Arzallane dahulu.


Han Liu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Kinara dengan pandangan tak terbaca. Pria tampan dan tinggi itu menarik nafasnya dengan berat, rahangnya mengeras, hatinya berkecamuk. Ia mengakui bahwa gadis di depannya ini memiliki daya tarik tersendiri. Daya tarik yang sanggup memikat lawan jenis seperti magnet saja. Dan bodohnya ia tertarik padanya, tertarik dengan gadis yang sudah di cap kepemilikannya oleh sang tuan besar, Alexander Moralez Arzallane. Dan itu tabu baginya. Itu hal yang mustahil ia lakukan. Sebuah pelanggaran besar.


" Hei Tuan Han, " cicit Kinara sekali lagi. Gadis itu berdiri dari duduknya dan membungkuk dari kursinya, tangannya menyeberangi meja untuk menyentuh tangan Han Liu.


Han Liu cukup terkesiap mendapat sentuhan dari Kinara. Tangan lembutnya menyentuh tangannya yang besar dan kokoh. Han Liu menatap sekilas jari lembut yang menyentuh punggung tangannya. Hanya sebuah sentuhan tetapi mampu menghantarkan listrik dan menyengat hatinya dengan sangat.


Deg. Deg. Deg.


Han Liu menatap gadis di depannya dengan pandangan tak terbaca. Tubuh kecilnya terlihat kesulitan ketika membungkuk dari seberang meja. Dan itu membuatnya semakin kehilangan kendali. Kehilangan kendali untuk tidak jatuh cinta kepada Kinara.

__ADS_1


Deg.


Pemandangan di depannya membuat sisi kelelakiannya berkedut gelisah. Ini untuk pertama kalinya. Yah pertama kalinya, seorang Han Liu membiarkan dirinya terpesona dengan seorang gadis. Gadis yang menjadi milik tuannya.


Apakah gadis ini tidak sadar dengan posisi ia seperti ini akan membuat gaun bagian atasnya tertarik ke bawah dan memperlihatkan belahan indah bukit kembarnya. " Sialan, " maki Han Liu dalam hati. Dirinya cukup frustasi pagi ini.


Pemandangan yang indah.


" Duduklah dengan sopan Nona ! " suara dingin Han Liu akhirnya tercetus untuk mengusir rasa gugup dan debaran jantungnya yang tak juga mau berhenti berdegub sangat kencang. Han Liu harus menguasai dirinya dengan benar. Biasanya ia tidak seperti ini.


Han Liu terdidik sebagai pria berdedikasi tinggi, dengan penguasaan diri yang mumpuni tetapi setiap berdekatan dengan Kinara, semua penguasaan dirinya seperti tak terkendali.


Han Liu menarik nafas perlahan, menetralkan semua perasaan dan pandangan matanya. Pria itu kembali menatap Kinara dengan datar.


" Pria aneh, " dumel Kinara pada akhirnya sambil kembali duduk.


Gadis itu menghempaskan bokong indahnya ke kursi. Menyesap susu sebentar.


" Saya memanggil Tuan berulang kali, " protesnya, " tapi Tuan tak juga menyahut, malah hanya memandang saya dengan tatapan bodoh, " omel Kinara selanjutnya, " saya dari tadi bertanya kepada Anda, Tuan Han Liu sekretaris yang terhormat. "


" Hah, tatapan bodoh ? " beo Han Liu tanpa sadar. Terlihatkah ? tanyanya dalam hati. Sialan, rutuknya lagi dalam hati.


Gadis ini menganggap tatapannya sebagai tatapan bodoh. Awas saja jika bukan milik Tuan besar, pasti sudah habis tak tersisa kau Kin, desahnya dalam hati.


Jelas dalam hati, semuanya itu hanya akan terucap dalam hati. Hanya dalam hati, karena itu akan hanya menjadi rahasianya. Tidak untuk diungkapkan apalagi diperlihatkan karena itu seperti dirinya yang sedang berkhianat kepada sang tuan besarnya.

__ADS_1


Rasa cinta, mungkin jika boleh disebut demikian, apalagi jatuh cinta kepada milik sang tuan, itu di luar jangkauannya.


" Jangan membuat saya marah Nona ! " Han Liu kembali mengingatkan. Wajahnya kembali datar, suaranya terdengar dingin dan kaku.


" Harusnya saya yang marah kepada tuan Han, di panggil koq tidak menyahut. Anda tidak tuli kan Tuan ? " tanya Kinara dengan bibir mengerucut. Terlihat gadis itu merengut sebal.


Han Liu hampir memperlihatkan senyum gemasnya. Gadis ini benar - benar membuatnya gemas, rasanya ingin merengkuhnya dan memeluknya seharian.


" Makanlah kembali sarapan Anda ! " Han Liu memutus rasa gilanya dengan meminta gadis itu menghabiskan sarapannya. Ia tidak mau terhanyut oleh perasaan sesaatnya.


" Ya, ini hanya perasaan sesaatnya. Jatuh cinta, No. Tidak ada dalam kamusnya. " tandas Han Liu dalam hati untuk menguasai diri. Menguasai perasaannya supaya tidak tumbuh benih yang tidak semestinya.


Kinara kembali mengunyah sarapannya. Tapi hatinya kembali tak tahan untuk tahu di mana sang monster, si tukang marah yang mesum. Ups, pikirnya keceplosan. Semoga tidak terucap, batin Kinara.


" Di mana tuan monster ? " tanya Kinara asal ceplos. Panggilannya tidak dia ubah. Karena gadis itu berpikir suaranya tak akan sampai di pendengaran pria di depannya, Han Liu sang sekretaris tuan besar.


" Tuan monster ? Gunakan bahasa dengan benar Nona, Anda akan mengalami kesulitan karenanya jika bersikap keterlaluan, " peringat Han Liu. Sekali lagi tawanya hampir meledak.tapi pria kaku itu menahannya dengan cepat. Dasar gadis aneh, dia memanggil tuan besar dengan sebutan tuan monster ? Habis dia jika tuan besar yang mendengarnya, rutuk Han Liu gemas dalam hati.


" Selesaikan sarapanmu dan saya akan membawa Anda pada Tuan Besar. "


" Akh, tidak. Tidak. Tidak. Anda tidak perlu membawa saya kepada Tuan besar, saya salah bertanya. Lupakan ! " cicit Kinara dengan gugup. Ada rasa takut, gugup dan malu ketika Kinara mengatakannya. Sekelebat ingatan tentang pagi kemarin yang dirinya lakukan dengan sang tuan membuat pipinya merona merah.


Han Liu mengernyitkan dahi melihat wajah Kinara yang bersemu merah. Gadis itu terlihat semakin menggemaskan, " pipi Anda merah Nona. Apakah ada sesuatu yang Anda lewati dengan tuan Alexander ? " tanya Han Liu penasaran.


***

__ADS_1


bersambung


__ADS_2