
Kinara masih duduk terpaku di lantai. Tangannya masih memegang buku bersampul biru yang ada di pangkuannya. Dengan sisa isak tangis dan rasa yang tak ia mengerti, Kinara menghela nafas sepenuh dadanya. Mencoba tetap tenang hingga mampu mencerna beberapa potongan ingatan yang acak menyerbu pikirannya.
" Apakah aku mempunyai dua orang ayah ? Rasanya, tak mungkin. Tapi jika mengingat ibu yang mempunyai kelakuan seperti kuda liar, ehm, rasanya bisa saja. Lalu siapa yang ku panggil papa ? Ayah ? " Kinara bergumam di sela sesenggukannya. Sesekali tangan kirinya mengusap air mata yang masih mengalir.
Hatinya penuh pertanyaan. Penuh tanda tanya mengapa sekian tahun setelah berpisah dengan ayahnya, dirinya seakan terjebak dengan dilema panggilan orang yang menjadi ayahnya. Hanya sebuah panggilan tetapi terasa ada yang lain di setiap panggilan itu. Ada rasa yang terasa lain di indera perasanya.
Di ranjang, Alexander menatap dengan pandangan yang tak terbaca. Mata elangnya menelisik tubuh gadis yang sedang duduk membelakanginya.
Gadis aneh yang sejak kedatangannya pertama kali di mansion ketika di bawa seorang dari keluarga Arkanzaz menjadi sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada rasa pernah dekat, ada perasaan nyaman di hati Alexander, pria arogan yang dingin dan kejam itu.
Pria yang masih terlihat lemah itu, lalu menggerakkan tubuhnya dengan perlahan, mengambil posisi bersandar di kepala ranjang. Dengan mata elangnya, pria itu kembali menatap Kinara yang masih terduduk di lantai.
Rasanya pria ini ingin meledak karena emosi. Sungguh gadis di depannya ini sering menguji emosinya. Selalu saja dirinya tersulut amarah jika menghadapinya. " Gadis tak tahu diri, " rutuk Alexander dalam hati.
Pria itu mengamati Kinara yang masih memangku buku bersampul biru miliknya.
Alexander benar - benar di buat emosi, apalagi sekarang, dengan berani gadis itu mengambil barang miliknya yang tidak boleh seorang pun menyentuhnya. Tak seorangpun. Catat ! Tak seorang pun, Alexander ijinkan untuk memyentuhnya, apalagi mengambil, membuka dan membaca isinya. Itu sungguh keterlaluan.
Alexander akan berteriak memaki, tetapi tenggorokannya terasa tercekat, pria itu merasa kehausan.
Alexander menoleh ke aras nakas, tidak ada segelas pun air. Pria itu akan memanggil Kinara tetapi bayangan gadis yang membelakanginya nampak seperti gadis itu. Gadis yang dalam ingatannya membawa sebuah nama yang wajahnya terasa samar dalam hatinya. Samar tapi terasa hangat.
Deg.
__ADS_1
Ya gadis kecil penolongnya dulu.
" Na. " Tanpa sadar, Alexander menggumamkan sebuah nama.
" Na, " panggilnya sekali lagi. Alexander menutup matanya, mencoba merasai nama itu. Berharap ada ingatan lebih banyak lagi yang bisa ia kenang.
Kinara terhenyak dari lamunanya. Sekalipun lirih tapi gadis yang masih bersimpuh di lantai itu mendengarnya.
" Ya, " jawab Kinara spontan sambil memalingkan kepala ke sumber suara. Seakan itu adalah panggilan untuknya.
Deg.
Jantung Kinara seakan melompat keluar.
" Na, iya. Itu panggilannya sewaktu kanak - kanak dulu. Mama sering memanggilnya Na dan seseorang anak laki - laki. akh siapa ya, kenapa aku lupa* ? "
Kinara memalingkan wajahnya ke sumber suara, gadis itu melotot tak percaya ketika matanya mendapati sang tuan besarnya sudah bangun dan sekarang duduk bersandar di kepala ranjang.
" Tuan, sudah sadar ? " Dengan wajah riang gadis itu bangun dengan tergesa hingga kotak kayu dan buku itu terjatuh ke lantai. Gadis itu hanya melihatnya sekilas tanpa berniat untuk memungutnya atau merapikannya.
Kinara tetap berjalan dengan cepat ke arah Alexander. Rasanya jika tak malu, pasti ia sudah memeluknya erat.
" Tuan Alexander, Anda sudah sadar ? " ulang Kinara sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi pria itu, bergerak ke leher seperti sedang mengecek suhu. Kemudian jari jemari lentik itu mengelus rahang pria itu dengan rasa tak percaya. Bahkan dengan berani Kinara menangkup kedua pipi Alexander, mengamati wajahnya dan tersenyum senang.
__ADS_1
" Anda baik - baik saja kan ? Apa ada yang terasa sakit ? Kepala ? Badan ? Kaki ? " tanya Kinara random dengan menyentuh secara acak setiap bagian tubuh Alexander. Sepertinya gadis itu sedang mengecek kondisi orang kesayangannya. Terlihat panik tetapi juga terlihat senang secara bersamaan.
" Syukurlah Anda sudah sadar. Waktu Anda tak sadarkan diri, saya sangat khawatir. Koq bisa pria gagah besar seperti Anda bisa sakit dan tak sadarkan diri beberapa hari. tapi jujur waktu Anda sakit, Anda terlihat sangat tampan, sangat imut, sungguh menggemaskan, " ucap Kinara seraya mencubit gemas pipi Alexander dan kemudian mengelus rahang pria itu dengan jarinya yang lentik. " Tidak memuakkan dan yang pasti tidak menakutkan, " imbuh gadis itu lagi dengan suaranya yang riang. Gadis itu tak menyadari jika kalimatnya akan menjadi bumerang baginya.
Kinara melakukan semuanya tanpa sadar. Tanpa mengingat jika yang ia perlakukan demikian adalah seorang tuan besar, Alexander Moralez Arzallane, yang tidak bisa di sentuh orang dengan sembarangan. Seorang pemimpin Klan bawah yang ditakuti.
Hingga ... . Grep.
Deg.
Kinara menelan salivanya dengan susah payah ketika ia menyadari bahwa dirinya sedang melakukan kesalahan. Gadis cantik bersurai panjang itu menggigit bibir dalamnya, dan mengarahkan pandangan matanya hingga bertemu dengan tatapan mata tajam Alexander yang membuatnya tercekat.
Keduanya saling mengunci dalam pandangan. Tangan Kinara pun masih menangkup kedua pipi sang tuan besar pemilik mansion Arzallane dengan tangan besar sang tuan yang kini juga ikut menelungkupkan tangan besarnya ke jemarinya.
Terasa hangat dan mendebarkan. Ya sekarang jantung Kinara sedang tak baik - baik saja. Ia berdebar seperti genderang yang di tabuh berulang - ulang.
Kinara sungguh kelimpungan di buatnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Wajahnya merona bahkan nafasnya mulai putus - putus.
Sungguh aura pria ini sangat berbahaya bagi kaum gadis sepertinya.
Alexander menatap Kinara dengan aura dingin yang menakutkan tetapi gadis yang di tatapnya bukan terlihat takut tetapi malah tersipu malu.
" Damn it, dia sangat terlihat menggemaskan, " rutuk Alexander dalam hati.
__ADS_1
Keduanya masih saling berpandangan, saling menatap seakan sedang ingin menyelami keindahan mata masing - masing. Mata hazel yang jernih, terlihat indah. Sangat berkilau. Terlihat menarik.