
Di tempat lain di sebuah ruang bawah tanah, Han Liu masih bergelut dengan kemarahan yang sedang membuncah di dadanya.
" Kurang ajar, " Han Liu menendang seorang laki - laki gempal dengan kekuatan penuh.
Lelaki gempal itu terjungkal ke belakang. Kepalanya membentur lantai yang keras sehingga berdarah. Tubuh laki - laki itupun sudah penuh luka lebam dan banyak darah yang mulai mengering, tubuhnya sudah lemah dan tak bisa melawan. Lelaki gempal itu meringis menahan rasa remuk disekujur tubuhnya. Kepalanya berdenyut nyeri.
" Paksa dia sampai mengaku, jika tak buka mulut, biarkan isteri, anak dan semua keluarganya ikut merasakan hal yang sama, " perintah Han Liu dingin seraya duduk di atas meja.
Han Liu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebatang cerutu dan mulai menghisap dalam - dalam nikotin yang untuk dua bulan terakhir menjadi kegemarannya.
Han Liu bukanlah pecandu nikotin, tetapi sejak menghilangnya tuan besarnya - Alexander Moralez Arzallane dan Kinara, Han Liu menjadi berkawan karib dengan nikotin.
Sebuah tarikan nafas terdengar berat. Beban berat yang ada di pundaknya seakan semakin menghimpit hidupnya. Pencarian keberadaan tuan besarnya menghadapi jalan buntu, belum lagi Kinara entah dimana keberadaannya. Bahkan beberapa proyek terbengkalai karena Han Liu kehilangan fokus atas pekerjaan di kantor Arzallane corp.
Han Liu menyugar rambutnya dengan kasar, nafasnya kembali memburu, seiring emosi yang semakin meledak ketika layar ponselnya memperlihatkan sebuah berita atas proyek megacity yang sedang dikerjakannya diserobot oleh perusahaan Graseland.
" Cabut semua kukunya, dan remukan semua tulangnya jika masih tak buka mulut ! " Han Liu memerintahkan anak buahnya dengan dingin ketika mata tajamnya menatap tubuh gempal yang masih membungkam mulutnya.
" Perlakukan hal yang sama dengan anak, isteri dan seluruh keluarganya ! " imbuh Han Liu lagi.
" Baik. Sesuai perintah Anda, Sekretaris Han, " ucap anak buah Han Liu dengan sigap.
__ADS_1
Krek Krek.
" Awwww ... . " Laki - laki bertubuh gempal itu menjerit histeris, Rasa sakit yang luar biasa ketika seorang mulai mencabut kuku pada jari - jari tangannya.
" Satu, dua, tiga, empat ... sepuluh ... sembilan belas, dua puluh. " Seorang dengan meringis penuh kepuasan menghitung sambil menggenggam sebuah alat penjepit dan mulai menarik dengan menyentak kuku pada jari - jari tangan dan kaki satu demi satu.
Lengkingan kesakitan terdengar memenuhi ruangan eksekusi. Dinding yang lembab menambah suasana menjadi semakin mencekam. Belum lagi bau anyir darah yang lamat - lamat masih tercium.
Han Liu menyipitkan matanya menatap lelaki yang terkapar tak berdaya.
Beberapa menit kemudian Han Liu beranjak dari meja yang didudukinya dan berjalan ke arah Fenuel Golland. Fenuel Golland adalah anak buah seorang gangster bawah tanah. Hanya saja entah kepada siapa dirinya mengabdi. Pendiriannya terlalu kuat untuk tak membuka mulut. Sesuai janji untuk semua klan mafia bawah tanah, menjunjung tinggi loyalitas sampai titik darah terakhir. Sekalipun kadang nyawa saudara atau keluarga yang tak berdosa pun menjadi taruhannya.
Fenuel Golland sesekali meringis menahan rasa sakit yang luar biasa. Seluruh tulangnya telah remuk tapi nyawanya pun entah mengapa tak jug terputus sehingga dengan susah payah dirinya merasakan semua rasa sakit yang sangat luar biasa.
" Kesempatan terakhir, Golland dan jawab dengan jujur, siapa tuanmu ? " Han Liu bertanya dengan penuh tekanan. Emosinya hampir meledak lagi ketika lelaki itu masih membungkam mulutnya, tak juga berujar apa - apa.
Han Liu menekan tulang belakang Fenuel Golland dengan ujung sepatunya. Bunyi krek terdengar beberapa kali, menandakan ada tulang yang patah untuk kesekian kalinya.
Lelaki bertubuh gempal itu menggigit kuat - kuat bibirnya menahan rasa sakit.
" Masih belum membuka mulut juga ? " hardik seorang anak buah Han Liu.
__ADS_1
" Katakan ! Dimana kau sembunyikan tuan besar Alexander Moralez ? " Han Liu beralih dan menginjak jari - jari lelaki itu dengan ujung sepatunya.
Bunyi krek kembali terdengar.
Nampak lelaki itu hanya meringis menahan rasa sakit ketika ruas - ruas jarinya mulai patah karena injakan kaki Han Liu yang mulai menekan dengan kekuatan penuh.
" Cuih, sampai mati pun aku tidak akan mengatakan. Alexander pantas mendapatkannya. Siapa suruh dia keturunan Arzallane yang bodoh, " desis Fenuel Golland dengan lemah.
Han Liu meremang mendengar kata - kata Fenuel Golland. Dengan sekali tendangan penuh tubuh Fenuel terlempar ke dinding.
" Dendam apa yang Kau miliki dengan keluarga Arzallane, Golland ? "
Bruk ... brakkk. Tubuh Fenuel Golland terhempas ke dinding batu dan luruh ke lantai sehingga menimbulkan suara berdebam yang cukup keras.
" Kau cari tahu sendiri, Han ! Dendam kesumat yang tidak akan hilang sekalipun tujuh turunan berlalu. " desis Fenuel Golland.
" Siksa dia sampai mengaku, hanya sayangkan nyawanya. Buat neraka baginya karena sudah berani bermain - main dengan keluarga Arzallane. " perintah Han Liu dengan dingin.
" Dengan senang hati, Tuan. " jawab Renno, sang anak buah dengan sigap
Han Liu menatap tajam mata Fenuel Golland, mencoba menilai dari gestur tubuhnya yang mulai melemah.
__ADS_1
Han Liu hanya mengibaskan tangannya, dan berlalu keluar ruangan.