Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 69 Bingung


__ADS_3

" Bagaimana Sekretaris Han ? Kita akan langsung menuju taman sesuai titik koordinat yang dikirimkan melalui pesan atau mengarah ke tempat lain ? " Anx mencoba memastikan setelah beberapa saat berputar di udara mencari titik koordinat sesuai pesan terkirim pada ponsel Han Liu beberapa waktu lalu.


Han Liu masih mencermati smartwach dengan layanan tercanggih yang sudah terkoneksi dengan chip dalam tubuh Alexander yang baru beberapa hari lalu Han Liu aktifkan. Dirinya hampir tidak memiliki keberanian ketika menanamnya dalam tubuh Sang Tuan Besar beberapa bulan lalu.


" Arahkan ke pinggir hutan dekat Rumah Sakit Pusat milik Soarez, " cetus Han Liu setelah berpikir sejenak.


" Baik, bersiaplah Sekretaris Han, kita akan segera turun, "


" No, lebih jauh Anx, ada radar terpasang di sana ! Kita berjalan kaki untuk mendekati area itu. Saya tidak mau mereka tahu kedatangan kita. "


" Baik, "


Tak sampai satu jam beberapa helikopter sudah bergantian menurunkam beberapa orang yang sengaja Han Liu bawa untuk mencari Sang Tuan Besar.


" Bagaimana Sekretaris Han ? " tanya seorang anak buahnya setelah mereka menapak tanah di dataran luas sedikit lebih jauh dari area hutan perbatasan.


Dataran luas yang hanya ditumbuhi rumput liar dan pohon - pohon besar dipinggir sepanjang jalan datar mengarah ke area hutan perbatasan.


" Jarak masih cukup jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Tapi itu lebih aman daripada kita harus ke kota dan mengambil mobil untuk memasuki kawasan hutan. Banyak radar elektoronik yang terpasang sebagai antisipasi musuh datang mendekat. " Han Liu berujar pelan.


" Bagilah beberapa kelompok dan sisir jalan dari pinggir sungai. Lepaskan semua peralatan elektronik yang dapat mendeteksi keberadaan kalian ! 1x24jam kita kembali ke titik kumpul di ujung bukit itu, " perintah Han Liu.


" Jika terjadi sesuatu atau keadaan darurat atau telah menemukan Sang Tuan Besar beri tanda dengan cepat. "

__ADS_1


" Bersiaplah ! Kita berjalan sekarang ! "


" Siap, " jawab beberapa orang secara serempak.


***


" Ughh, " Kinara melenguh lemah ketika kesadarannya telah kembali. Matahari dengan teriknya cukup membuat mata gadis itu silau karena cahayanya. Dengan susah payah gadis cantik itu menarik tubuhnya untuk duduk bersandar pada sebongkah batu besar di dekatnya.


" Aww, " desis Kinara lagi ketika lututnya tertarik karena Kinara sedang memperbaiki duduknya.


Kinara sesekali menggigit bibirnya ketika tangannya mulai menyibak ujung gaun yang digunakan. Lututnya terluka, sedikit robek karena benturan pada batu. Rasa ngilu dan perih langsung menderanya. Belum lagi siku tanganya yang mulai terasa perih juga.


Kinara mengedarkan pandangan matanya. Matanya melotot tak percaya ketika sudut pandangnya mendongak ke atas melihat dari tempatnya terjatuh.


Kinara menghela nafas berulang kali membayangkan bagaimana tadi tubuhnya terhempas jatuh dari tempat tinggi hingga menghantam batu di sebelahmya.


Kinara akan bangkit berdiri tapi tubuhnya kembali terhempas ke rerumputan lagi. Lututnya terasa ngilu. Tubuhnya terasa lemas dan bergetar.


Gadis itu mengaduh kesakitan sambil menggigit bibirnya.


" Ukh, " desisnya lagi sambil tangannya sesekali mengelus pinggiran luka robek yang masih meneteskan darah.


Kinara menggeserkan tubuhnya kembali untuk bersandar di batuan besar. Tubuhnya terlalu letih.

__ADS_1


Hidup ini memang aneh. Banyak hal yang sudah kulewati. Selalu hidup dalam ketakutan dan tekanan. Dari hidupku yang selalu dikejar - kejar Jefri Arkanzaz dengan hutang - hutang wanita sialan itu. Selalu dikorbankan jadi alat tukar pada tuan tanah tua-tua itu, sampai harus berurusan dengan Tuan Besar Moralez sekarang di kejar - kejar Daniel Grase. Ada apa dengan hidupku ? Apa ada seseuatu yang ku lewati ? Apa ada rahasia yang Ayah tinggalkan ? Mengapa hidupku tidak tenang ? Aku juga ingin hidup normal, bekerja, pergi nonton, kencan ... Akh Ayah ... .


Kinara menarik nafas dengan berat. Lamunannya mulai merangkai semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.


" Ayah, " bisik Kinara pelan.


Tunggu.


" A ... yah. Dad ... dy. Daddy, "


Kinara mengeja kata yang bermakna sama tetapi dalam pengucapannya menimbulkan getaran yang berbeda dalam hatinya. Dahinya mengernyit berpikir.


Beberapa kali mata lentik itu mengerjap, mencoba menyalurkan sebuah rasa asing dari dua kata yang berbeda dalam pengucapannya tetapi memiliki arti yang sama.


" Ayah. Daddy. Ayah. Daddy. "


" Ukh, mengapa kepalaku jadi sedikit pusing. Ada apa ini ? " Kinara mulai memijit kepalanya yang mulai nyeri.


***


Halo ... halo, maaf lambat up karena habis sakit dan kesibukan RL.


Terima kasih untuk stay dan menikmati karya receh ini. Jangan lupa tetap dukung author dengan jejak like, coment or gift votenya ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2