Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 109


__ADS_3

" Maaf Nona, silahkan ikut saya ! " Han Liu mendekat ke arah Dominic dan mempersilahkan keluar ruangan.


Wanita itu tak menggubris ucapan Han Liu. Pandangannya masih tertaut kepada sang pemilik perusahaan, cinta pertamanya.


Wanita itu membasahi bibirnya yang tiba - tiba terasa kering ketika mata beningnya menatap wajah sang pujaan tetapi ia hanya mendapati raut yang terlihat datar dengan aura dingin yabg menguar di sekirarnya. Tetapi dengan sekuat tenaga, Dominic tetap bersikap tenang bahkan raut ketakutan yang sempat menghias wajahnya, dengan cepat ia coba ganti dengan raut wajah penuh puja dan cinta.


Wanita itu tersenyum manis dan sesekali membasahi bibirnya dengan sensual, seakan sedang menggoda pria tampan di depannya.


" Kau keterlaluan Xander, aku bangun dari koma dan langsung teringat dirimu, aku bawakan serum pemulih ... . " jeda Dominic dengan wajah kecewa ketika pria di depannya mengusirnya keluar dari ruangan.


Pria dengan tubuh tinggi tegap itu hanya menatap dengan dingin tanpa menghiraukan perkataan Dominic. Baginya gadis di depannya ini hanya seekor rubah betina yang sangat licik. Tidak sepantasnya ia mendengar perkataan gadis itu, karena baginya ia tidak ingin terpedaya untuk kedua kalinya. Cukup beberapa tahun lalu yang efeknya cukup membuatnya kehilangan jati dirinya hingga sekarang.

__ADS_1


" Perempuan sialan, " batin Alexander masih mencoba menahan emosi. Tidak mungkin ia meluapkan emosinya saat ini.


" Xander, please dengarkan aku ! " pinta Dominic sekali lagi dan keras menubruk tubuh tinggi menjulang di depannya, memeluknya dengan erat.


Untuk sekian detik, perempuan dengan gaun seksi berwarna hitam gold itu merasakan tubuh kokoh yang selama ini ia rindukan dengan sepenuh hati. Dominic mengetatkan pelukannya, dan wajahnya, ia sandarkan pada dada pria itu.


Perempuan itu mulai mengendus harum tubuh Alexander yang sangat ia rindukan. Harum tubuh khas maskulin dengan campuran wangi kayuan yang sangat memikat dan itu membuat seorang Dominic mulai beegairah.


" Xander, kau tahu sejak dahulu aku sangat mencintaimu. Apapun akan ku lakukan untukmu. Percayalah ! " bisik Dominic dengan suara yang di buat dengan mendayu, karena ternyata perempuan itu mulai bergairah hanya dengan menyentuh dan menghirup harum tubuh pria pujaannya.


Sedangkan pria bernama Alexander Moralez Arzallane, sang tuan besar dari keluarga Arzallane itu masih mencoba bertahan dengan tubuhnya yang mulai kaku, dengan permukaan kulit yang tertutup kemeja dan jas tiga lapisnya juga ikut memerah menahan gejolak penolakan untuk disentuh orang yang baginya adalah sumber penyakit.

__ADS_1


" Xander, kau tahu sejak peristiwa itu, aku sangat trauma dan kehilanganmu. Kau pergi kemana waktu itu ? Aku mencarimu belasan tahun hingga kita bertemu lagi pada masa kuliah, kau sangat tampan Xander, dan aku sangat memujamu ... . " celoteh Dominic dengan suara manjanya.


" Dan soal serum itu- " perempuan bertubuh seksi itu menjeda kalimatnya, mendongakan wajahnya, menatap wajah pria yang tak juga menatap ke arahnya. " Lihat aku, Xander ! Aku ini sahabat kecilmu, jangan terlalu dingin kepadaku ! " Dominic mulai tersulut emosi karena pria yang sedang ia peluk nyatanya tak sedikitpun melirik apalagi memperhatikannya.


" Apa karena gadis brengsek itu, kau berubah seperti ini ? Sejak kecil, hanya aku yang ada untukmu, dan gadis itu ... " Dominic mengetatkan rahangnya, " seharusnya mamimu juga tidak menyukainya. Dia hanya anak dari seorang penghianat. "


Sejenak, Alexander mencoba mencari ingatannya. Kembali ke belasan hingga dua puluh lima tahun lalu sungguh tubuh dan otaknya kembali merespon aneh. Ingatan itu seakan tertutup tembok tebal, yang sangat sulit untuk mencari celah melewatinya. Ia sudah mencoba memaksakan pikirannya untuk nekad menerobos tapi sekuat apapun ia berusaha mengingatnya, sekat itu tak juga bisa ia tembus.


Alexander mengepalkan tangannya erat di kedua sisi tubuhnya. Pria itu masih berusaha menahan semua respon tubuu yang sangat menolak sentuhan dan pelukan Dominic, sekalipun Alexander masih ingat betul jika perempuan yang masih bergelayut manja ini adalah teman masa kecilnya, yang juga adalah sepupunya, putri dari pamannya, adik sang papa.


***

__ADS_1


Bersambung


***


__ADS_2