Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 115


__ADS_3

Untuk beberapa saat setelah terdiam cukup lama, Han Liu beranjak dari ketermenungannya untuk duduk kembali di sofa, bersandar di kepala sofa dengan mata terpejam. Pikirannya sedang kalut, terlalu banyak masalah yang belum terpecah. Dan dirinya cukup kewalahan menghadapi semuanya secara bersamaan karena ternyata ada orang - orang di sekitarnya yang masih menjadi penghianat.


***


Pagi yang cerah dengan udara pagi yang segar. Sinar matahari yang hangat menerpa kulit putih Kinara. Gadis itu setelah mandi dan berdandan, ia berjalan ke arah balkon kamarnya. Membiarkan kulit indahnya diterpa hangatnya mentari pagi.


Moodnya cukup baik hari ini dan wajah manisnya selalu menyunggingkan senyum cantiknya.


" Pagi, duniaku, " sapanya kepada dirinya sendiri. Gadis itu terkikik geli mengingat dari sejak bangun ia berbicara sendiri. Entahlah, hatinya merasa ringan saja. Tak ada keinginan apapun hari ini yang membuatnya harus berpikir keras untuk mewujudkannya. Karena pada akhirnya ia tak mampu keluar dari tempat ini.


Gadis itu berpikir sejenak, mungkin lebih baik bersikap kooperatif kepada sang pemilik mansion daripada berusaha kabur. Toh sejauh apapun ia berlari selalu saja akan kembali ke tempat ini. Tapi dirinya juga mempunyai kehidupan tersendiri, punya cita - cita dan keinginan walau nantinya pun pasti akan di kejar - kejar dengan Jefri Arkanzaz.


" Aaarrggh. " tanpa sadar Kirana melenguh frustasi mengingat kelakuan Jefri Arkanzaz.


Pikiran gadis itu melayang jauh, teringat pertama kali kabur dari mansion ini, ia harus terjatuh dari air terjun dengan ketinggian yang sangat membuatnya hampir mati. Ia lumpuh dan bisu karenanya.


Kinara bergidik takut, " Tidak. Aku tidak ingin seperti itu lagi, " cicitnya pelan begitu ingatannya merasai perihnya terluka karena jatuh dari ketinggian.


Kedua kalinya kabur ia harus masuk hutan yang mengerikan, dikejar musuh dan hampir membuatnya mati juga.


Deg.


Hutan. Ia teringat akan dirinya yang membunuh atau melukai beberapa orang waktu itu.


Kinara mengerjapkan mata berulang kali berharap ingatannya tak semakin mengembara kemana - mana yang pada akhirnya akan membuatnya bersedih. Gadis manis dengan surai panjang yang terikat asal itu menarik nafas perlahan mengusir semua hal negatif yang akan merusak moodnya pagi ini.


Tok ... tok ... .


Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu di ketuk dari arah luar, tetapi tak ada pergerakan apapun dari Kinara. Gadis itu masih asyik dengan lamunannya. Diam mematung di balkon kamar dengan pandangan lurus menatap jauh.


" Pagi, Non, " pada akhirnya seorang maid masuk dan memberikan sebuah sentuhan di bahu Kinara dan menyapanya dengan sopan ketika beberapa kali memanggil namanya tak juga gadis itu menyahut.


Sapaan dan usapan di bahunya dari seorang maid itu menyentakkan Kinara dari lamunannya.

__ADS_1


" Pagi, " balas gadis itu setelah sadar dari keterkejutannya, " kau membuatku terkejut Nani, " Kinara merengut manja.


Nani adalah pelayan tertua di mansion Arzallane, ia adalah kepala pelayan. Dengan sifat keibuan, gadis manis itu cepat akrab dengannya. Kinara seperti menemukan sosok seorang ibu yang sangat menyayangi putrinya.


" Maafkan saya, Nona ! Saya sudah mengetuk pintu berulang kali. Memanggil Non Kinara sampai lelah tak juga Nona menoleh kepada saya, " balas maid yang dipanggil Nani itu.


" Iyakah ? Maafkan saya Nani ! Aku keasyikan melamun, " jawab Kinara tersenyum malu karena ketahuan sedang melamun di pagi hari.


" Anak gadis jangan suka melamun, Non ! " peringat Nani dengan senyum lembut, " kalau Nona ada sesuatu, Nona bisa cerita kepada saya. " lanjut wanita setengah baya itu sambil mengelus sejenak rambut panjang Kinara.


" Mari turun sarapan Non, Tuan Han sudah menunggu Anda. "


" Ok Nani. " jawab Kinara pelan.


Keduanya berjalan berdampingan dan tanpa risih gadis cantik dengan gaun berwarma biru laut itu berjalan dengan menggandeng Nani, sang pelayan.


" Pagi, " sapa Kinara sopan ke arah Sekretaris Han Liu yang sudah duduk dengan tenang menghadap sarapannya.


Han Liu mengangkat wajahnya sejenak untuk melihat sumber suara, dan pandangan keduanya bertemu. Saling menatap untuk sesaat.


Deg.


Jantung Han Liu tiba - tiba berdetak dengan keras.


" Indah. Sangat indah, " gumam Han Liu tanpa sadar dengan tatapan menilainya ke arah Kinara.


Kinara masih berdiri mematung, belum juga duduk sekalipun tangannya sudah menarik kursi.


Yah untuk sesaat mata mereka saling mengunci. Kinara seakan tenggelam dengan mata hitam di depannya. Mata teduh yang menenangkan seakan mata itu membuatnya nyaman.


" Silahkan duduk Nona ! " pada akhirnya suara Nani memecah kesunyian dan memutuskan dua anak manusia berbeda jenis yang saling tatap.


Pipi Kinara merona untuk sesaat. Ia cukup malu bahwa ternyata Nani mengetahui keterpukauannya kepada sang sekretaris.

__ADS_1


Gadis cantik itu duduk dengan sedikit menunduk malu, mengarahkan matanya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan mata kelam di depannya.


Han Liu adalah seorang pria dewasa dengan wajah tampan, rahang keras, tinggi tegap. Sebelas dua belas dengan sang tuan besar pemilik mansion, Alexander Moralez Arzallane. Bedanya Han Liu lebih datar dan dingin seperti kulkas empat pintu. Kaku dan sulit di dekati.


" Anda sarapan apa Nona ? " sekali lagi Nani menginterupsi Kinara dari lamunannya.


" Seperti biasa Nani. Salad buah dan roti tawar dengan segelas susu hangat, " jawab Kinara dengan senyum yang mengembang malu, " aku lapar sekali Nani, " bisiknya rendah.


" Tunggu sebentar Nona. "


" Apa kabar hari ini Nara ? " sebuah suara bariton terdengar menyapa gendang telinga Kinara.


" Ehm, saya baik Tuan, " jawab Kinara sopan.


Untuk sesaat, sekali lagi pandangan mata mereka bertemu, saling mengunci, hanya sesaat karena setelahnya Kinara segera menarik pandangnya untuk melihat sekeliling. Seperti ada yang janggal. Ada yang kurang. Akh ya raksasa itu tidak ada. Kemana dia ?


" Tuan raksasa kemana ? Tidak ikut sarapan ? " tanya Kinara tiba - tiba penuh selidik. Tanpa sadar ia menyuarakan isi hatinya.


" Tuan raksasa ? " dahi Han Liu mengkerut.


" Ehm ... maksud saya Tuan besar Alexander, " cicit Kinara memperbaiki ucapannya.


Han Liu hampir meledak tertawa. Panggilan Kinara untuk sang tuan besar pemilik mansion ini cukup unik. Andai sang tuannya dengar, pasti sang tuan akan mengamuk tak suka. Dasar bibir kecil yang suka sembrono berucap, batin Han Liu.


Untuk sesaat lagi Han Liu menatap Kinara, bibir merah seranum ceri segar sedang bergerak mengunyah salad buahnya setelah Nani mengambilnya dari dapur.


" Bibir yang indah, " gumam Han Liu lirih.


" Apa Tuan Han ? " wajah Kinara terangkat, mata hazel yang indah kembali menatap Han Liu berharap pria itu akan kembali mengulang perkataannya.


" Damn it, " batin Han Liu menguasai diri. Gadis di depannya sungguh memabukkan. Wajahnya kembali datar tetapi pandangan matanya seakan ingin meraup semua pemandangan indah di depannya. Gadis cantik dengan lesung pipi dan bibir mungil semerah ceri yang seksi.


" Sialan, " umpat Han Liu sekali lagi dalam hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2