
" Aaargghh, penyakit sialan. " umpatnya marah sambil bangkit berdiri dan sedikit menjauh dari sosok laki - laki kurus di di depannya.
Alexander Moralez melangkah menjauh, tubuhnya sedikit sempoyongan, menahan rasa pening di kepalanya dan mual yang mulai menderanya. Rahangnya mulai mengeras juga menahan rasa tak nyaman yang mulai meracuni pikirannya ketika bersentuhan dengan orang lain. Rasa marah yang tak terkendali. Tetapi anehnya Alexander Moralez tak ingin menyakiti laki - laki kurus itu.
Berulang kali Alexander Moralez mengumpat menyalurkan emosi yang mulai memenuhi pikirannya. Rasa jijik juga bersamaan muncul membuatnya hampir mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Inilah mengapa sosok Alexander Arzallane Moralez di kenal sebagai Tuan Besar yang tak tersentuh, dingin dan arogan.
Masa lalu yang buruk telah
membentuk seorang kanak - kanak Alexander Moralez Arzallane yang ceria dan ramah menjadi pria kejam tak tersentuh siapa pun.
Alexander Moralez melangkah mendekati pohon di sisi jalan yang berlawanan sedikit
lebih jauh dari lelaki kurus yang masih tergeletak di tanah tak sadarkan diri.
Ada perasaan lain ketika melangkah menjauhinya. Antara rasa jijik dan enggan menjauh sekaligus rasa tenang saat berdekatan dengan sosok pria tersebut. Sebuah rasa yang pernah ada seakan berkembang di sela - sela rasa frustasi karena mysophobianya sedang kambuh.
Alexander terduduk di tanah, bersandar di dahan pohon dengan nafas tersengal karena menahan emosi, rasa jijik dan sebuah rasa lain yang muncul ke permukaan.
Alexander menatap pria yang masih tak sadarkan diri itu dari jarak yang cukup jauh. Mata tajamnya menelisik seraut wajah yang terlihat tirus karena kurus tak terurus. Wajah yang sepertinya cukup familiar di pikirannya tetapi entah siapa sosok tersebut.
Ada bagian memori yang terlupakan oleh Alexander yang sering
__ADS_1
membuatnya seperti orang linglung karena kesulitan untuk mengingat sesuatu di masa lalunya. Tidak semua hilang. Tetapi ada bagian - bagian tertentu yang benar - benar hilang tanpa bekas.
Dahinya berkerut sesaat setelah ada bayangan samar berkelebat di pikirannya. Sosok yang familiar tetapi sungguh terlupakan identitasnya. Itulah mengapa dengan segala rasa jijik dan emosi yang dia tahan sejak berada di lorong rahasia rumah sakit milik Soarez dirinya tetap berupaya supaya dapat membawa keluar pria kurus itu.
" Akh, ssshitt. Mengapa susah sekali untuk mengingatnya ? Awas saja Kau, Dominic jika antidot itu gagal. "
***
" Pelan - pelan Tuaannn, akhh, sakit, " Kinara mengaduh tertahan ketika tubuhnya kecilnya hampir terhempas ke tanah saat tubuh Ryan Juville memberat dalam rangkulan tangan Kinara.
" Aku sangat lemas Kin, " desis Ryan Juville menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. " Tubuhku terasa remuk, sepertinya tadi saat terjatuh membentur bebatuan dan pohon, " rintihnya lagi.
Kinara memandang laki - laki di sampingnya dengan tatapan menelisik. Sepertinya dia memang tidak baik - baik saja, batin Kinara sambil menyentuh kening Ryan Juville.
Wajah Ryan Juville terlihat pucat, tubuhnya panas dan mulai bergetar dalam rangkulan Kinara.
payah. Langkahnya sedikit terseok, karena sosok Ryan Juville yang lebih tinggi di banding tubuh Kinara yang kecil.
" Pelan - pelan ! " ucap Kinara sambil terus memapah Ryan Juville yang mulai kehilangan banyak tenaga. Nampak Kinara juga mulai kewalahan menahan berat tubuh Ryan Juville dalam rangkulannya.
Sangat berat, akh. Gumam Kinara dalam hati.
" Aku pusing Kin, " ujar Ryan Juville mengeluh saat kepalanya seperti berputar. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya, belum lagi rasa dingin yang tiba - tiba menerjangnya membuat tubuh Ryan Juville sedikit bergetar, menggigil.
Brukk.
__ADS_1
" Awww, Tuannnn, akkkh ... . "
Kinara nampak terkejut ketika Ryan Juville kehilangan kesadaran sehingga Kinara yang tidak siap menahan berat tubuh Ryan Juville akhirnya juga luruh terjatuh berguling.
Keduanya terguling jatuh tak terkendali semakin meluncur ke bawah, ke daerah yang lebih rendah. Kinara hanya memejamkan mata, rasa takut mulai menyergapnya lagi. Rasa yang sama saat jatuh dari ketinggian air terjun beberapa waktu lalu. Rasa yang sama sepertinya akan lebih dekat
mencapai surga, memeluk ajal.
Kinara memejamkan mata dan mematikan seluruh tubuhnya saat banyak batu kecil dan ranting pohon, duri dan semak yang di terjangnya. Kulitnya seperti tersayat, perih, dalam waktu yang cepat tubuhnya pun menggelinding tak terkendali.
Brukkk.
Tubuh keduanya berhenti menggelinding saat menabrak ke batuan tepat sebelum tubuh mereka terhempas ke aliran sungai di bawahnya.
~ bersambung
😎 Hai reader terlope.
Terima kasih tetap stay di karya ini. Terima kasih atas dukungannya.
Tetap tinggalkan jejak like, coment, vote or gift ya.
Terima kasih.
Semoga harimu menyenangkan dan selalu diberkahi. Amin
__ADS_1
Salam sehat.