
" Aku sudah memberikan suntikan penenang, Han. Untuk beberapa jam ke depan Al akan tertidur. Aku akan menghubungi Dokter Dominic di negara R untuk memastikan masih ada jadwal kosong. Jika jadwalnya masih kosong paling tidak lusa aku bisa bawa Al ke negara R. "
Keesokan hari pagi - pagi buta, beberapa bodyguard sudah berbaris rapi di landasan di belakang mansion dengan pesawat pribadi yang telah siap.
" Bagaimana persiapannya, Han ? " suara Dokter Ryan Juville memecah keheningan setelah semalaman bergelut dengan semua prosedur Rumah Sakit di negara R.
Prosedur di Rumah Sakit negara R memang sedikit lebih rumit karena memang hanya prioritas dengan kasus - kasus urgent untuk vip class.
" Ok, persiapan sudah beres. Tuan besar sudah di dalam. Pesawat dan beberapa bodyguard akan ikut serta. Seperti biasa penjagaan harus diperketat karena disana sarang perempuan sinting. Anda paham maksud saya, Dokter Ryan ? " suara Han Liu sedikit lebih lirih, sambil sesekali menyesap kopi hitam kegemarannya dan kemudian memberikan gelasnya kepada seorang maid yang berdiri di belakangnya.
" Saya sebenarnya mengkhawatirkan keselamatan Tuan Besar jika tetap harus ke negara R, Dok. Apalagi Tuan besar dalam kondisi yang tidak baik - baik saja. " lanjut Han Liu lagi.
Tangan Han Liu mengepal disisi pahanya dengan keras. Ada kegundahan nampak dari wajahnya.
" Ini satu - satunya jalan supaya Al mendapatkan penanganan Dokter spesialis. Dokter Dominic adalah dokter yang sangat luar biasa. Mendapatkan jadwal kosongnya adalah sesuatu yang luar biasa. Sebelum terlambat, Han. " Dokter Ryan Juville menjawab optimis.
" Saya paham. " ucap Han Liu mencoba menenangkan diri. Tapi entah ada perasaan gelisah yang tidak dapat ditutupinya, sedangkan dirinya tidak bisa turut serta dalam perjalanan kali ini.
" Arrrghh ... . " Han Liu beranjak dari duduknya dan menggeram kesal. Mencoba menyalurkan emosi dan kegelisahan.
" Ok, Saya percayakan Tuan besar kepada Anda, Dok. Tolong jaga Tuan Besar ! Saya menaruh harapan besar untuk kesembuhannya. " Han Liu menunduk hormat.
Dokter Ryan Juville merangkul tubuh Han Liu.
" Kita ini adalah sahabat, Han. Al sahabat kita. Aku pastikan aku akan menjaganya dengan baik, Jika perlu sampai titik darah terakhir. " janji Dokter Ryan Juville sambil menepuk pundak Han Liu.
" Aku paham kekhawatiranmu. Tapi kita harus tetap pergi demi kesembuhan Alexander. "
" Ok. Aku akan bersiap. Setiap perkembangan Al, aku pasti akan kabarkan padamu. Urus perusahaan dengan benar dan jangan lupa transfer biaya lebih !Karena aku pasti butuh sedikit hiburan. " ucap Dokter Ryan Juville lagi sambil mengerling penuh arti.
" Jangan banyak bermain Dokter ! Saya pastikan Anda tidak akan punya waktu untuk bersenang - senang disana, Dok. " Han Liu mencibir geli mengingat setiap kali ada hal urgent, pasti Dokter Ryan Juville sedang bermain dan selalu berakhir kegagalan.
" Jangan tertawa, Han ! Awas kalian akan kubalas suatu saat nanti. " tekad Dokter Ryan Juville jengah.
" Arrrgghhh ... Awas kalian ! Akan kubalas lebih menyakitkan nanti ... . " Dokter Ryan Juville membatin dengan senyum licik memikirkan berbagai trik pembalasan dendam.
__ADS_1
" Hahaha ... . " Tanpa sadar Han Liu tertawa.
Dokter Ryan Juville dan beberapa bodyguard yang mendengar Han Liu tertawa terkejut dan menoleh ke sumber suara.
" Ku pikir Kau ini Alien dari mana dengan wajahmu yang kaku, ternyata Kau bisa tertawa juga, Han. "
Han Liu memperbaiki mimik wajahnya kembali kaku. Ingatannya tentang Dokter Ryan Juville yang gagal dengan ular pitonnya membuat Han Liu bersemu merah.
" Sudahlah ! Berangkatlah ! Hati - hati ! Kabarkan semua perkembangan Tuan besar ! " Suara kaku Han Liu mengakhiri perbincangan di pagi itu.
***
" Dokter Zalline, bagaimana kondisi Nona Kinara ? " tanya Han Liu begitu langkahnya memasuki sebuah kamar tempat perawatan Kinara. Kebetulan seorang dokter cantik sedang memeriksa kondisi Kinara.
Dokter Zalline nampak terkejut dengan wajah yang pias menatap kehadiran Han Liu.
" Selamat pagi Sekretaris Han, " suara lembut Dokter Zalline menyapa Han Liu. Ada wajah sumringah yang coba Dokter Zalline tampilkan. Tangannya dengan cepat memperbaiki anak rambut yang sedikit menjuntai di keningnya.
" Hhmmm. Pagi. " Han Liu menjawab malas.
Hening sejenak.
Aura dingin terpancar dari kehadiran Han Liu. Tetapi karena Dokter Zalline sudah menaruh hati kepada Han Liu sejak beberapa tahun lalu nampak semakin pias wajahnya. Ada gurat bahagia karena dapat bertemu dan berbincang dengan Han Liu.
Mata Dokter Zalline sesekali mencuri pandang tubuh tinggi tegap di sampingnya. Wajah ganteng dengan rahang yang keras selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi Dokter Zalline. Jantungnya kembali berdegub dengan kencang.
" Akh kenapa dengan jantungku ? " batin Dokter Zalline sambil memegang dadanya.
" Kau belum menjawab pertanyaan saya, Dokter Zalline ? " suara Han Liu terdengar mengintimidasi.
Dokter Zalline kaget. Wajahnya memerah menahan malu saat tatapan keduanya bertemu. Jantung Dokter Zalline kembali berdegub kencang. Tangannya gemetar ketika mengganti botol infus yang telah habis sehingga menjatuhkan tiang infus.
Prang.
Tiang infus jatuh sehingga menimbulkan suara nyaring yang memekakan telinga.
__ADS_1
" Sembrono. " Han Liu mengumpat kesal, sambil menunduk mencoba meraih tiang infus yang jatuh di lantai. Tapi naas karena Dokter Zalline juga berinisiatif mengambil tiang infus, keduanya saling beradu kepala.
" Aw ... . " pekik Dokter Zalline mengaduh kesakitan sambil mengelus keningnya yang sedikit memar akibat beradu kepala dengan Han Liu.
" Sembrono. " ucap Han Liu lagi.
" Obati sendiri. Anda kan Dokter. " lanjut Han Liu dingin.
" Anda belum menjawab pertanyaan saya, Dokter. " ucap Han Liu lagi dengan kaku.
Dokter Zalline terkejut. Konsentrasinya hilang seketika setiap berdekatan dengan sosok Sekretaris Han Liu pasti fokusnya hilang.
" Keningku sakit sekali. Kepalanya terbuat dari batukah ? " batin Dokter Zalline sambil sesekali mengelus keningnya.
" Ma ... af ! " ucap Dokter Zalline tergagap.
Beberapa detik kemudian Dokter Zalline sudah dapat menguasai dirinya. Dokter Zalline tersenyum manis.
" Kondisi Nona Kinara sudah mulai stabil, Sekretaris Han. " kata Dokter Zalline perlahan.
" Hanya perlu pemeriksaan lebih lanjut apakah Nona Kinara lumpuh permanen atau hanya sementara. Saya akan coba konsultasi dengan Dokter Ricko specialis Ortopedi di Rumah Sakit pusat. " jawab Dokter Zalline sambil menata hatinya yang tidak karuan.
" Hhmm. Lakukan yang terbaik ! Cari Dokter wanita terbaik ! " ucap Han Liu sambil berlalu keluar ruangan. Sebelum tangannya menyentuh handle pintu, Han Liu berbalik.
" Kerjakan semua dengan baik dan tetaplah fokus ! Saya tidak suka orang yang tidak sungguh - sungguh dalam pekerjaannya. " kata Han Liu dengan tegas.
" Ba ... baik, Sekretaris Han. Saya akan lebih fokus dalam bekerja. " jawab Dokter Zalline dengan jantung yang terus berdegub dengan keras. Tangannya sedikit gemetar ketika memperbaiki selang infus yang tersumbat.
" Akh, jantung sialan. Setiap berdekatan dengan Sekretaris Han, jantungku kenapa berdegup dengan keras. Bodoh, Zalline. Akh, kapan bisa ngedate kalau hanya berdekatan begini aku jadi tidak fokus. Ughh. " Dokter Zalline membatin malu. Wajahnya bersemu merah lagi ketika mengingat betapa dekatnya posisi berdiri dirinya dengan Han Liu dan insiden yang baru saja terjadi. Sangat memalukan.
Han Liu mengepalkan tangan dan melangkah keluar dengan sedikit rasa jengkel di hatinya.
" Dasar perempuan. Merepotkan saja. " dengus Han Liu.
" Selamat pagi Sekretaris Han, mobil sudah siap. " sapa Huan Lee begitu Han Liu keluar dari ruangan tempat perawatan Kinara sambil menunduk hormat.
__ADS_1
" Huan, pastikan pengawasan atas Nona Kinara diperketat. Awasi Dokter Zalline. Jika masih ceroboh ganti dengan Dokter lain. " ucap Han Liu memerintah.
- bersambung