
" Apa tidak mungkin ? " tanya Han Liu kembali dengan pandangan menuduh. Entah mengapa dirinya menjadi tak menyukai teman sang tuannya ini. Instingnya mengatakan pria yang menjadi dokter keluarga selain dokter Ryan Juville ini juga memiliki niat yang tak baik kepada tuannya. Mata jelinya menangkap gurat yang mencurigakan setiap pria itu menyentuh dan memeriksa sang tuan. Tapi sampai sekarang, ia belum menemukan kesalahan yang bisa ia jadikan alat untuk menyerangnya.
" Kau menuduhku, Han ? " tanya dokter Maxim tak terima. Dahinya berkerut tak percaya, bagaimanapun Alexander adalah temannya, dan lagi berkhianat katanya ? Berkianat apa? Untuk apa berkhianat ? Pikiran Dokter Maxim dipenuhi banyak pertanyaan.
"Wait ! Ini sebenarnya ada apa Han ? " tanya Dokter Maxim kebingungan. Ia tidak mau dirinya menjadi orang yang disalahkan karena suatu hal yang tidak ia perbuat. Dirinya bukan pria yang akan menghalalkan segala cara untuk melanggar sumpah dokternya. Tidak untuk dahulu, tidak untuk sekarang bahkan tidak untuk di masa depan, tekadnya bulat dalam hati. Tetapi wajahnya kembali menegang ketika di dapati sang tuan besar Arzallane mulai berkeringat dingin.
" Cukup ! " serunya meminta Han Liu untuk berhenti menuduhnya. " Aku tidak tahu apa maksud ucapanmu, Han. Alexander adalah sahabat baikku, dan aku tidak menghianatinya. Aku hanya khawatir akan kondisinya. Ia sedang tidak baik - baik saja. Jika kau memahaminya, bawa Alexander ke rumah sakit pusat ! Di sana akan di cek dengan alat yang lebih canggih dan lebih lengkap untuk hasil yang akurat. " jelas Dokter Maxim kemudian. Jelas kekhawatiran terbingkai di wajah tampannya.
" Di sini peralatan pun cukup canggih. Jika kurang pun, Anda bisa menyebutkan saja alat apa yang Anda butuhkan. Saya akan mendatangkannya segera jika itu untuk kesembuhan sang tuan, " balas Han Liu cukup datar dan dingin. Terselip ada nada sombong di dalamnya. Tapi itu pun wajar karena semua yang masih di bawah naungan Arzallane Corp.pastilah mudah mendapatkan apapun. Apapun.
Dokter Maxim hanya menarik nafas berat, tak habis pikir dengan asisten sang sahabatnya ini, " Alexander perlu tindakan cepat supaya dia tidak kehilangan kesadarannya lebih lama. Atau hal yang terburuk terjadi padanya," lanjutnya dengan harapan Han Liu dapat mengerti maksud permintaannya.
" Tidak. Tuan besar tidak akan di bawa ke Rumah Sakit Pusat lagi. Cukup di sini saja. " tandas Han Liu dingin dengan tegas. " Saya bisa datangkan semua peralatan tercanggih dan lengkap di sini. Sebutkan saja ! "
" Mengapa ? Apakah kau yang tak menginginkan kesembuhan untuk Alexander, Han ? Jika ya, ternyata kaulah penghianatnya, " tuduh Dokter Maxim balik dengan suaranya yang ikut dingin. Hatinya menjadi tidak terima dengan tuduhan sang asisten temannya ini.
" Jangan membuat kekacauan, Maximus White ! " peringat Han Liu datar tetapi terasa aura gelap menguar dari dirinya.
__ADS_1
Pria ini cukup berbahaya, pikir dokter Maxim. Ia harus berhati - hati bertindak. Sepertinya Han Liu mulai semakin waspada akan semua orang di sekelilingnya saat ini, " Aku tidak cukup bodoh menjerumuskan diri pada kesalahan yang akan membuat aku menyesal seumur hidup. Bagiku persahabatan di atas segala hal. Tidak untuk kekuasaan, harta ataupun cinta. Kau bisa pahami itu, Han ! "
" Pergilah ! " lanjut Han Liu memerintah dokter Maxim untuk pergi dari ruangan.
Dokter Maxim menatap Han Liu tak percaya, Pria ini sungguh keterlaluan. Apakah dia tak berpikir akan keselamatan sang tuan besar ? Hingga harus mengusirnya pergi. Bahkan menolak untuk membawa sang pemilik mansion Arzallane ke Rumah Sakit Pusat.
Pria dengan kemeja biru laut dan jas putih itu hanya mengendikan bahu acuh. " Pada akhirnya kepercayaanlah yang terkadang membuat seseorang terlihat bodoh. Entahlah. Mana yang lebih tepat ? Terlihat bodoh atau menjadi bodoh ? Kuharap kau tak termasuk di dalamnya, Han, " gumam dokter Maxim lirih.
" Ok. aku pergi. Tetapi jika keadaannya tak juga membaik atau ... " dokter Maxim menjeda ucapannya sebentar. Pada akhirnya pria itu mengalah untuk beranjak pergi. Tetapi sebelum ia keluar, pria itu mengamati sejenak kondisi teman baiknya, Alexander Moralez Arzallane yang masih terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang itu. Hatinya cukup mengkhawatirkan pria yang sangat berkuasa itu. " Hubungi aku jika ia tak sadar sampai besok pagi ! Tolong jangan abaikan permintaanku, Han ! " mintanya perlahan dengan kekhawatiran yang terlihat di bola matanya yang gelap.
***
Malam berlalu. Jam di dinding ruangan menunjukkan pukul satu, Han Liu yang masih asyik dengan layar laptop di atas meja dengan beberapa dokumen pekerjaan yang menumpuk, terlihat sangat gelisah. Sesekali mata hazelnya memperhatikan sang tuan yang tak kunjung bangun. Ada gurat kekhawatiran ketika mata hazelnya masih mendapati sang tuan tak kunjung terbangun.
Han Liu bangkit dari sofa tempatnya ia bekerja sambil menunggu sang tuan besarnya. Ia berjalan mendekat dan tangannya meraih pergelangan tangan sang tuan untuk memeriksa denyut nadi.
Sedikit berkerut dahi Han Liu ketika mendapati kulit tangan sang tuannya terasa dingin, bahkan terlihat bulir - bulir keringat di dahinya. Han Liu segera menarik tangannya dan meletakkan tangan di dahi Alexander untuk menyeka bulir keringat yang mulai membasahinya.
__ADS_1
" Aneh, " gumam Han Liu sambil memperhatikan wajah Alexander dengan cermat.
" Tuan, jika Anda mendengar saya, bangunlah ! Jangan membuat saya khawatir ! " gumam Han Liu perlahan.
Tak ada balasan dari Alexander karena pria itu masih tidak sadarkan diri. Pria itu masih memejamkan matanya dengan tenang. wajahnya terlihat pucat dengan sesekali kerutan samar di dahinya.
Han Liu berjalan ke arah jendela besar yang tertutup tirai berwarna hitam. Pria gagah itu menyibak sedikit tirai untuk melihat keadaan di luar.
Malam yang gelap. Tak ada satu pun bintang bahkan sinar rembulan pun tampak suram tertutup awan gelap.
Mata Han Liu pun menyapu seluruh halaman mansion dari sudut kaca yang masih bisa ia lihat. Di halaman hanya kegelapan yang terlihat. Tak ada pergerakan apapun yang mencurigakan. Tetapi mengapa hatinya sangat gelisah. Sekali lagi pria yang menjadi teman sekaligus asisten sang pemilik mansion itu mengamati halaman luas di bawah jendelanya.
Sepi. Gelap dan dingin.
Pria itu termemung sejenak dengan banyak pikiran yang bergelut di hatinya.
Untuk beberapa saat setelah terdiam cukup lama, Han Liu beranjak dari ketermenungannya untuk duduk kembali di sofa, bersandar di kepala sofa dengan mata terpejam. Pikirannya sedang kalut, terlalu banyak masalah yang belum terpecah. Dan dirinya cukup kewalahan menghadapi semuanya secara bersamaan karena ternyata ada orang - orang di sekitarnya yang menjadi penghianat.
__ADS_1