Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 65. Keluar


__ADS_3

Detik demi detik berlalu, para pengerja yang sedang meretas sistem pintu bekerja di bawah tekanan. Beberapa orang berjas lengkap sedang menodongkan senjata ke arah para pengerja dan perawat.


Tak berapa lama pintu terbuka, dan beberapa laki - laki berjas putih lengkap segera melesak masuk ke dalam ruangan. Mata mereka tampak terkejut ketika mendapati seorang wanita yang sedang mengerang dengan lemah di atas brankar.


Dominic dengan kulit yang memucat dan otot yang nampak membiru dipermukaan kulitnya tampak semakin mengerikan. Belum lagi kulit yang mulai melepuh dan di beberapa bagian mulai berkeriput.


" Astaga, Dominic, sayang apa yang terjadi ? " seru seseorang menerobos masuk.


Thomas Soarez, paman sekaligus kekasih Dominic begitu terkejut mendapati keponakannya mengalami keracunan.


" Cek seluruh cctv gedung dan pastikan pelaku tertangkap ! " perintah Thomas Soarez dengan wajah penuh amarah.


***


Di persimpangan lorong gelap nampak Alexander sedikit termangu menentukan jalan. Samar - samar telinganya mendengar rintihan seseorang.


Dengan langkah hati - hati, Alexander mencari sumber suara dan di ujung lorong sebelah kiri terdapat sebuah ruangan dengan lubang kecil sebagai pintu.


Alexander menatap tajam dalam kegelapan, mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam ruangan.


Sebuah tuas nampak menyembul di sisi tembok.


Dengan hati - hati, Alexander menarik tuas ke bawah dan dengan perlahan penutup lubang berbentuk lingkaran itu bergeser kesamping. Alexander masuk ke dalam ruangan.


Ruangan tampak suram dan lembab dengan sedikit celah udara di dinding yang mulai mengelupas, sehingga ada sedikit sinar matahari yang masuk.


Nampak di ujung ruangan dan tengah beberapa ekor ular yang melingkar. Sosok laki - laki terikat di ujung dengan tubuh yang tampak lemah tak berdaya. Beberapa luka mulai mengering. Tubuh kurus kering seperti tidak mendapat asupan makan untuk beberapa waktu.

__ADS_1


" Aarggghh, "


Alexander mengamati laki - laki tersebut dengan mata tajamnya.


" Seperti seorang yang pernah ada di masa laluku, tapi entah siapa. " gumam Alexander sambil mengingat laki - laki di depannya.


" Shiiittt, " Alexander mengumpat perlahan ketika samar - samar dari arah dia datang tadi ada langkah berderap yang semakin mendekat.


Dengan cekatan, Alexander melepaskan tubuh laki - laki kurus itu dan memapahnya keluar. Dengan cepat dirinya kembali keluar ruangan dan menutup pintu. Alexander dengan memapah laki - laki kurus itu dengan tergesa melangkah kembali ke persimpangan jalan untuk mengambil langkah jalan di sisi kanan.


Jalan setapak yang lebih sempit dengan lorong gelap. Alexander dengan cepat menyelinap ke sisi gelap untuk menghindari lampu - lampu yang tiba - tiba mulai menyala terang di sisi dinding.


" Shhhittt, " Alexander mengumpat sekali lagi ketika jalan yang dilalui ternyata jalan buntu. Sedangkan langkah kaki berderap semakin mendekat.


Alexander semakin terpojok dan merapat di sisi dinding yang gelap.


" Itu dia, " seru seseorang ketika melihat Alexander yang akan bergerak berpindah ke sisi yang lebih gelap.


" Tangkap ! " seru beberapa anak buah Thomas Soarez untuk menangkap Alexander.


Beberapa laki - laki tampak bergerak mengepung Alexander dan mulai menangkap dirinya. Dengan sekuat tenaga Alexander menepis pergerakan mereka. Sehingga perkelahian di ruangan sempit itu terjadi.


Alexander dengan kekuatan penuh dengan mudahnya melumpuhkan ketiga laki - laki yang berniat menangkapnya. Alexander akan bergerak maju untuk melangkah tetapi tubuh besarnya yang sedang memapah seorang laki - laki yang tak berdaya terperangkap di sudut dinding.


Alexander mulai merasakan tubuhnya terperangkap dan sulit melepaskan diri. Semakin keras berusaha, semakin tubuhnya terperangkap seakan akan terjerembab akan jatuh ke dalam.


Bruk.

__ADS_1


Tak berapa lama tubuh besarnya jatuh ke dalam lubang. Ternyata sudut dinding tempatnya berdiri merupakan sebuah lubang. Tubuh Alexander bergulung jatuh di bebatuan.


" Astaga, " Alexander menahan tubuhnya sehingga tidak terjatuh ke dalam aliran air yang tampak deras.


" Aaargggh, " desis laki - laki itu dengan lemah ketika tubuh kurusnya menghempas bebatuan.


Dengan cepat Alexander bangkit berdiri dan mengamati sekeliling. Nampak hutan belantara dengan aliran sungai deras di sisinya.


" Shiiit, " Alexander mengumpat perlahan ketika kakinya terpleset bebatuan yang licin.


Brukk. Tubuh tinggi besarnya berguling lagi jatuh ke tanah berbarengan dengan tubuh laki - laki yang sejak tadi ada dalam gendongannya. Mereka jatuh berguling ke tanah yang lebih rendah dan menghempas ke akar pohon yang menjalar dan menyembul di atas tanah.


***


Di mansion keluarga Arzallane, nampak Han Liu sedang mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari titik sesuai permintaan dalam pesan yang diterima Han Liu beberapa waktu lalu.


" Titik koordinat sudah ketemu, Hans ? "


" Sudah, Sekretaris Han. Hanya mengapa koordinat nampak bergerak menjauh dari pertama kali pesan di kirim ? Apakah ini jebakan ? "


" Cek ulang maps ! " perintah Han Liu dengan tangan yang masih sibuk dengan aplikasi di ponselnya. Sebuah alat pemindai yang coba ia lacak keberadaannya. Sebuah chip yang sedang ia lacak yang hanya dirinya saja yang tahu.


" Kita berangkat ! " perintah Han Liu begitu mendapati sebuah titik koordinat dari chip yang tadi ia lacak.


" Pastikan mansion terjaga aman Huang Lee, " lanjut Han Liu ke arah Huang Lee.


Huang Lee mengangguk patuh, " Siap, Sekretaris Han. Hati - hati ! "

__ADS_1


Mereka berangkat dengan beberapa helikopter menuju negara tujuan.


__ADS_2