Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 81 Serangan


__ADS_3


" Kita bergerak sekarang ! " perintah Alexander Moralez cepat, sambil kembali berdiri tegak. Tubuhnya tinggi besar terlihat gagah sekalipun dalam kondisi belum stabil, tersangga sempurna dengan tulang - tulang kuat dan otot liat sebagai pembentuk tubuh yang terlatih dan sempurna. Wajah tampannya menjadi daya tarik tersendiri bagi kaum hawa.


Laki - laki itu mengetatkan rahangnya, wajahnya mulai mengeras dingin dan suram, bahkan terlihat dahinya berkerut dalam. Sebuah pikiran buruk terlintas, bahkan helaan nafas terdengar berat. Belum terpecahkan penyakitnya, sekarang Ryan Juville, dokter sekaligus sahabatnya mengalami hal yang sama. Bahkan teka - teki sosok lelaki yang di bawanya pun masih terasa samar, walau ada perasaan dekat atau nyaman saat bersamanya.


Alexander Moralez menatap tajam sekeliling. Matanya memindai dengan cepat suasana hutan yang mulai mencekam sekalipun hari masih sore.


Sinar matahari yang kemerahan masih sesekali memasuki sisi hutan dari celah pepohonan.


Beberapa anak buah Alexander yang di bawa Han Liu nampak memanjat beberapa pohon tertinggi untuk memantau kondisi sekeliling dan sisi hutan sebelah barat.


Berada di atas pohon tinggi cukup membantu mereka untuk memindai pergerakan rombongan yang sempat di lihat saat mereka bergerak di atas bukit tadi.


" Tuan, sekelompok orang menuju ke arah kita. Kita harus segera bergerak cepat berbalik arah. Kita tidak memiliki persenjataan, karena kita meninggalkan semua peralatan elektronik bahkan senjata di sisi selatan. " seorang anak buah Han Liu segera melaporkan hasil pengamatannya setelah turun dari atas pohon tinggi.


" Sial, ayo cepat bergerak ! " seru Han Liu.


" Sebenarnya apa yang sedang terjadi ? Mengapa sangat sulit terpecahkan ? Ini sudah sekian tahun," Alexander bergumam pelan dalam lamunannya. Pikirannya masih mengembara mencoba merangkai banyak puzzle yang belum terbentuk. Dirinya masih menatap tajam tubuh Ryan Juville dalam sandaran Anx tanpa menghiraukan Han Liu yang sedang mengatur anak buahnya.


Alexander mengamati tubuh Ryan Juville dalam pelukan Anx, wajahnya pucat seputih kapas, bahkan terlihat lebam membiru di beberapa ruas kulitnya.


" Kita tumbuh bersama, merasakan kegelapan bersama, tapi sungguh aku tak mengerti mengapa kau bisa terlibat dengan orang - orang yang menghancurkan keluargaku, Ryan. Aku tidak tahu apa motivasimu ada di dekatku ? Tetapi sungguh aku mengkhawatirkan keadaanmu. " Alexander membatin dengan rasa perih yang terpendam. Bagaimanapun hatinya terasa sakit dan khawatir secara bersamaan.


" Tuan, " Han Liu menyentuh perlahan bahu Alexander setelah untuk kesekian kali panggilannya terabaikan.

__ADS_1


Nampak sang tuan besar menatap Han Liu datar, " Hhmm ? "


" Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan. Dan kita harus mengubah arah karena kita tidak mungkin bentrok dengan mereka. Kita kalah jumlah dan senjata. " lapor Han Liu cepat sambil menggerakkan tangan untuk meminta Anx dan Derryan. segera mengangkat tubuh Ryan Juville.


" Hhmm, " Alexander bergumam sambil mengamati keadaan sekitar.


" Oh ya, Han, minta seorang untuk membawa laki - laki yang ada di seberang sana ! " lanjut Alexander sambil menunjuk ke arah seseorang yang sedang meringkuk tak sadarkan diri di tanah. Tubuh kurus dengan pakaian lusuh.


" Baik, Tuan, " Han Liu mengangguk dan segera meminta salah satu anak buah untuk menggendong seorang yang tampak kurus dan lusuh yang tergeletak di atas tanah.


Ada banyak pertanyaan yang ingin Han Liu sampaikan tentang laki - laki itu tapi mengingat keadaan yang tidak memungkinkan, maka diurungkannya. Kaki tegapnya bergegas berjalan dengan cepat untuk mengatur pergerakan mereka meninggalkan kawasan hutan.


" Ayo cepat bergegas ! " Alexander berseru tegas sambil meraih tangan Kinara untuk berjalan di sisinya.


" Kakimu masih bisa berjalan, Kin ? " tanya Alexander datar menatap gadis yang juga sedang menatapnya sengit.


Kinara tanpa sadar mengerucutkan bibirnya karena jengkel. Namun demikian terlihat sangat lucu dipemandangan sang Tuan Besar. Bahkan terlihat ada senyum smirk di sudut bibir laki - laki itu. " Kau terlihat seperti kelinci, sayang. Lucu sekali. "


" Lepaskan, Tuan ! Saya masih bisa berjalan sendiri. " ucap Kinara kesekian kali, masih dengan suara sengit sambil terus berusaha melepaskan genggaman pada tangannya.


" Berisik ! Jalan ! " bentak Alexander dengan tatapan tajam sambil menarik tangan gadis itu lebih dekat ke arahnya.


Kinara yang tak siap dengan tarikan sang Tuan besar terkejut. Bahkan tubuhnya tersentak ke arah Alexander dan menabrak tubuh kokohnya.


Kinara tampak terkejut. Tubuhnya masuk sempurna dalam pelukan sang Tuan Besar. Seketika pandangan mereka bertemu. Terkunci saling memandang dengan kekelaman mata yang menghanyutkan.

__ADS_1


" Kau menggodaku, Nona ? " sebuah senyum menggoda Alexander tersungging di ujung bibirnya.


" Sembarangan saja ! Anda yang menarikk saya Tuan, ukhhh. Lepaskan ! " protes Kinara cepat. Dengan tergesa gadis manis itu segera menegakkan tubuhnya kembali dan berjalan sedikit menjauh dari sisi sang Tuan besar, walau tangannya masih dalam genggaman erat sang Tuan besar.


Mereka berjalan dengan cepat menyisir jalan yang sempit di antara pepohonan. Sesekali berlari kecil untuk mempercepat langkah.


Dor. Dor.


" Shhhiit ! " Alexander memaki kesal dan menarik tubuh Kinara kembali dalam pelukakannya.


" Akhh, " Kinara terpekik terkejut begitu mendengar suara tembakan yang sangat dekat dengannya.


Dengan cepat Alexander membekap bibir gadis itu agar tidak berteriak semakin kencang. Tubuh Alexander pun bergerak cepat bersembunyi di balik rimbunan pohon.


Tubuh keduanya terhimpit di balik pohon besar, saling mendekap. Deru nafas dan jantung terdengar menjadi sebuah irama yang akhirnya membuat semburat merah di wajah Kinara semakin pias.


" Sial, " maki Alexander dalam hati. Tubuhnya terasa panas karena berada cukup dekat dengan gadis di hadapannya.


" Tuan, " Han Liu mendekat ke arah Alexander.


-- bersambung


Hai - hai reader terkece. Maafkan, karena ternyata kesibukan di real sangat menyita waktu saya sehingga terlambat up.


Tuan Besar up lagi. Jangan lupa koment. like dan votenya yah. Tetap dukung karya ini supaya saya tetap semangat up. terima kasih untuk semua dukungannya.

__ADS_1


Salam bahagia dan tetap sehat.


__ADS_2