Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 61 Bertahan


__ADS_3

Daniel Grase menoleh dengan tajam ke arah Jerome Lax. " Apa maksutmu, Fox ? "


Tatapan mata tajam Daniel Grase seperti sedang menguliti tubuh Jerome Lax. Tatapan tajam bersamaan dengan aura membunuh yang sangat kental.


Wajah Daniel Grase semakin mengeras menahan ledakan yang lebih kejam.


" Katakan padaku, who are you, Jerome ? "


Nampak Daniel Grase menatap tajam ke arah Jerome Lax.


Akh, sial. Apakah sudah ada yang tahu siapa aku ? Aku harus hati - hati. Aku tidak mau mati konyol. Aku harus bisa keluar dari situasi ini. Bagaiamanapun caranya aku harus temukan nona Kinara. Jerome Lax membatin.


Jerome Lax membungkukkan sedikit tubuhnya. " Maafkan saya, Tuan Grase ! Saya adalah Jerome Lax. Anda bisa mencari informasi apapun tentang saya, tidak ada yang tersembunyi. Dan saya hanya ingin bekerja kepada Anda. " tutur Jerome Lax dengan tenang.


Dalam banyak segi kehidupan seorang mafia kelas bawah sekalipun punya sisi gelap di dunia hitam tetapi tetap harus bisa menjaga diri dengan pembawaan yang tenang, karena itu sebagai bentuk defent mecanism untuk membentengi diri dalam berkamuflase. Tidak mudah dikenali sebagai seorang mafia kelas bawah. Karena itu sangat membahayakan dan dapat membatasi ruang geraknya. Teman, saudara, pasangan kadang bisa menjadi musuh yang sangat berbahaya.


Daniel Grase hanya menatap Jerome Lax dengan pandangan tak terbaca. Instingnya mengatakan bahwa laki - laki di hadapannya ini sangat berbahaya tetapi melihat penampilannya yang tidak terlihat kuat, Daniel Grase sedikit tak menghiraukannya.


Tubuh tegap Daniel Grase bergerak masuk ke dalam mobil dan dengan segera mengemudikan mobilnya dengan cepat meninggalkan tepi hutan.

__ADS_1


Jerome Lax tersenyum tipis. Sudut bibirnya berkedut sejenak sambil menatap tajam rivalnya Fox Guns yang sedang berjalan menjauh.


" Bubar semua. Kita bereskan bangkai mobil dengan bersih ! " perintah Jerome Lax kepada teman - teman sesama anak buah Daniel Grase.


Semua bergerak dengan cepat membereskan sisa kecelakaan.


Setelah selesai, mereka bergerak meninggalkan tepi hutan dengan cepat.


***


Di atas pohon besar nampak Kinara masih memeluk pohon dengan sangat erat. Tubuhnya masih bergetar karena cukup takut dengan ketinggian.


Suasana tampak sepi dan mencekam. Malam yang gelap tanpa sinar apapun yang menjadi penerang.


Kinara masih ketakutan. Suasana gelap membuat kenangan buruk seakan berlompatan dalam pikirannya.


Kinara menutup matanya sejenak mencoba tetap tenang dan mengusir rasa takut.


" Tu ... an ! " Kinara mengulang panggilannya. Perasaannya menjadi sangat ketakutan. Dengan cepat Kinara menoleh ke arah sampingnya - tempat Ryan Juville bersandar. Tubuhnya sedikit oleng ketika tanpa sadar Kinara menoleh dengan cepat dan sedikit mengendurkan tangannya yang sedang memeluk pohon.

__ADS_1


" Akhhh, " Kinara menjerit terkejut ketika tubuhnya terasa bergoyang akan jatuh.


Ryan Juville yang hampir terlelap dibuat terkejut karena jeritan Kinara.


" Ssstt, jangan berisik Kin ! Kau memanggil hewan buas kalau terlalu ribut. " gumam Ryan Juville yang hampir terlelap dengan tubuhnya yang mulai bersandar di dahan di sebelah Kinara.


" Tidurlah ! Aku akan menjagamu. " lanjut Ryan Juville.


Krucuk krucuk.


" Lapar, Tuan. " Kinara berbicara pelan dengan rasa malu karena perutnya sejak tadi sudah meminta jatah makan.


" Hhhmm. Tahanlah dulu Kin ! Tidak ada makanan di dalam hutan malam - malam begini. "


" Tidurlah ! Bertahanlah ! Hanya datu malam, besok pagi kita cari makanan kalau sudah terang. " ucap Ryan Juville lagi sambil menguap lebar karena menahan rasa kantuk. Tubuhnya benar - benar terasa letih.


Kinara hanya mendengus kesal. Reflek tangan Kinara akan menarik ujung celana laki - laki disampingnya tetapi lagi - lagi Kinara hampir menjerit histeris ketika dirasa dahan yang diduduki bergoyang.


Kinara sedikit mengangkat kakinya. Perutnya terasa mulai sakit

__ADS_1


__ADS_2