Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 29. Terpuruk


__ADS_3

Tubuh Alexander Moralez luruh tak berdaya.


" Hahahaha ... Kau harus merasakan kesakitan yang sama. Gara - gara Kau, aku kehilangan semua. Leona ... seharusnya Kau tidak meninggalkan aku. Aku sangat mencintaimu. " teriak laki - laki itu dengan frustasi.


Seseorang terdengar mengetuk pintu.


" Masuklah ! "


" Permisi, Tuan. Putri Anda, Nona Aliana Stewartz mencari Anda sejak tadi. " ucap seorang penjaga dengan hormat.


" Bereskan dan tetap sekap bocah Arzallane itu dengan penjagaan ketat. " Perintah laki - laki itu sambil melangkah keluar ruangan.


Seorang penjaga mengamati tubuh Alexander Moralez yang tak berdaya, kemudian mengangkatnya menuju sebuah ruangan dimana Alexander Moralez biasa disekap.


Penjaga itu lalu membersihkan luka - luka Alexander, mengelap dengan perlahan dan mengobatinya.


" Akh, " Alexander lirih mengaduh kesakitan ketika penjaga itu melepas kaos yang dipakainya.


Luka - lukanya sudah melekat pada kaos yang dipakai Alexander.


Penjaga itu mengelap dan membersihkan lagi tubuh Alexander dengan perlahan. Tangan penjaga itu mengelus tubuh Alexander yang nampak lemah dengan perlahan.


Tapi tiba - tiba setelah bersih tanpa diduga, penjaga itu menarik tubuh Alexander mendekat ke arahnya dan memasukan miliknya dengan kasar dalam sekali hentakan.


Tubuh Alexander menegang seketika. Rasa perih, panas dan sakit menjalar di area belakangnya.


Rasa marah dan jijik bersatu dalam diri Alexander.


Tangan penjaga itu mecekal kedua tangan kecil Alexander, menariknya ke atas dan dengan mudah terus menghentak tubuh kecil yang tak berdaya.


Tubuh Alexander kaku, matanya melotot marah dan bibirnya terkatup rapat tidak bisa berteriak lagi.


Terdengar nafas penjaga itu mulai memburu dan beberapa detik kemudian penjaga itu mulai melakukan aksinya dengan sangat brutal.


Alexander melotot dan menahan sakit yang tiada terkira. Alexander berpikir laki - laki penjaga ini berbeda, seorang yang baik tapi ternyata sama saja, predator buas.


Penjaga itu terus menghentak dengan kasar. Tubuh Alexander yang tak bertenaga tidak bisa melawan. Tubuhnya hanya terguncang seirama dengan hentakan penjaga dibelakangnya.


Kejadian yang sama terulang berulang kali. Tubuh kecil Alexander tidak pernah bisa melawan, karena sebelum laki - laki itu bermain dengan tubuhnya, laki - laki penjaga itu selalu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya hingga Alexander tidak bisa melawan.


Goresan luka dan trauma sangat membekas. Tubuhnya sudah penuh luka, dan Alexander mengeraskan hatinya, tidak lagi ada rasa simpati atau empati bagi sesama. Semua hari dilalui Alexander dengan wajah yang dingin. Hatinya yang rapuh karena kehilangan orang tua dan kekejaman psikis membentuk karakter Alexander menjadi seorang remaja yang dingin dan kejam.


Hingga suatu hari setelah sekian lama menjadi pemuas ***** penjaga dan Tuan Stewartz, Alexander bertemu dengan seorang gadis cantik yang menolongnya.


Bidadari cantik.

__ADS_1


flashback off


" Akhhhhhh ... . " Alexander Moralez berteriak frustasi.


Potongan - potongan ingatan masa lalu menyeruak keluar dari otak bawah sadarnya.


Alexander Moralez menggeram frustasi, marah, sedih dan dendam bercampur menjadi satu.


Wajahnya memerah, rahangnya mengeras dengan gigi gemletuk menahan kemarahan yang siap meledak.


Tubuh Alexander menggigil dibawah air shower yang mengalir deras.


Alexander Moralez melempar botol minuman kerasnya ke dinding kaca didepannya. Semua benda didekatnya dilemparkan membabi buta ke segala arah.


Tak berapa lama walk in closet itu sudah seperti kapal pecah.


Alexander melangkah lagi di bawah shower dan mengalirkan air dengan lebih derasnya. Rasa dingin menusuk kulitnya.


Alexander menarik nafas, meremas rambutnya dengan kasar. Masa lalunya sangat buruk dan itulah yang menjadi penyebab miliknya tidak pernah bisa mencapai puncak. Itulah juga yang membuat semua wanita mainannya akan berakhir mengenaskan.


" Arrrrgggghhh ... . " Alexander Moralez memukul kaca sampai remuk. Tangannya berdenyut ngilu ketika beberapa serpihan kaca menusuk dan tertancap di tangannya.


" Tuan, " Han Liu menerobos masuk.


Pemandangan pertama yang dilihat adalah sebuah ruangan yang berantakan. Botol shampoo dan sabun cair yang berceceran di lantai, kaca yang pecah, darah yang bercampur dengan aliran air, dan di bawah shower yang deras nampak Alexander terduduk tak berdaya dengan tangan berlumuran darah.


Alexander Moralez hanya menatap Han Liu dengan wajah dingin.


" Han, " Alexander Moralez memanggil Han Liu dengan lirih.


" Apakah aku bisa sembuh ? " tanya Alexander Moralez lagi dengan frustasi. Dirinya benar - benar terpuruk, sangat menderita dengan trauma yang mendalam. Hatinya hancur. Masa lalunya sangat kelam.


Han Liu mendukung tubuh Alexander Moralez dan menarik sebuah jubah mandi untuk dikenakan Tuan Besarnya.


" Pasti, Tuan. Tuan pasti sembuh. Tetap kendalikan diri Anda, Tuan ! " ucap Han Liu memotivasi.


" Mari saya obati tangannya, Tuan ! " dengan hati - hati Han Liu menuntun Alexander Moralez keluar dari walk in closet menuju sofa.


Alexander Moralez menatap kosong ke depan. Ingatannya sedang berputar - putar dengan seorang gadis kecil yang pernah menolongnya keluar dari kamp tersebut.


Alexander Morale mengkerutkan keningnya. Otaknya berpikir dengan keras untuk mengingat bayangan - banyangan yang nampak kabur dalam ingatannya.


" Siapa gadis kecil itu ? "


Titik - titik keringat mulai bermunculan. Wajah Alexander menegang. Rasa pening dan pusing seperti beribu tusukan jarum mulai dirasakan Alexander Moralez hingga laki - laki itu mulai mengerang kesakitan.

__ADS_1


" Arrrghh ... sakit, Han. " Alexander Moralez mengerang dengan tangan yang menekan kepalanya.


Han Liu berjingkat kaget ketika Alexander Moralez dengan kasar menarik tangannya. Han Liu sedang membersihkan tangan kanan Alexander dari serpihan kaca yang menusuknya.


Han Liu menarik nafas khawatir melihat Tuan Besarnya kambuh.


Yah, Alexander akan mengalami rasa pusing seperti ribuan jarum yang menusuk kepalanya dan nafas yang tersengal - sengal jika trauma itu datang atau sedang memaksa untuk mengingat masa lalunya.


" Tenanglah, Tuan ! "


" Arrrrggghhh ... . " Alexander mengerang dengan tertahan dan akhirnya luruh tak sadarkan diri.


Bergegas Han Liu meraih ponsel di sakunya dan menghubungi Dokter Ryan Juville.


Han Liu menekan beberapa angka dengan jengkel. Nomer yang menjadi tujuannya selalu sibuk.


Dengan mengatubkan giginya menahan jengkel dan khawatir, Han Liu menekan sekali lagi nomer Dokter Ryan Juville.


***


Di tempat yang berbeda, di sebuah hotel mewah di kota X, nampak sepasang kekasih sedang bergumul di bawah selimut dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh.


Masing - masing sedang berlomba - lomba mencari puncak untuk menuntaskan hasrat.


" Kau selalu nikmat, honey, " puji laki - laki itu dengan terus menghentak liar dan membuang selimut ke lantai.


" Aghhhh ... . " suara seorang wanita mendesah nikmat dan menggeliat dibawah hentakan seseorang.


Kring. Kring.


" Honey, okh ... siapa yang menelfon ? " tanya laki - laki itu mengkerutkan kening, merasa terganggu dengan suara ponsel yang terus berdering - dering.


Dengan kasar, tanpa melihat siapa yang memanggil, Dokter Ryan Juville melempar ponsel ke pojokan ruang.


Brakk.


" Hah ... apa yang Kau lakukan, honey ? " tanya wanita itu sambil mencengkram bahu Dokter Ryan Juville.


Ponsel terlempar dengan aman ke pojokan ruangan.


Dokter Ryan Juville menghentak dengan keras.


" Kau sedang bermain Dude ? " sebuah suara mengagetkan keduanya.


Keduanya menengok mencari sumber suara.

__ADS_1


" Astaga ... . " teriak keduanya berbarengan karena panggilan telah tersambung dengan mode video call. Dan ponsel terjatuh dengan posisi tegak berdiri, mempermudah melihat keduanya yang sedang tumpang tindih tanpa sehelai benang.


- bersambung


__ADS_2