
Ryan Juville menatap lemah laki - laki yang sedang tertawa senang dihadapannya.
Aljendro Stewartz masih tertawa sumbang dengan asap nikotin yang masih mengepul di sela - sela bibirnya yang mulai menghitam, akibat alkohol dan nikotin yang berlebihan. Laki - laki itu bergerak dengan langkah perlahan dengan gelas penuh perasan jeruk ditangan kanannya.
Aljendro Stewartz menatap tajam sosok Ryan Juville dengan luka - luka terbuka dan darah yang masih mengalir. Tubuh kekar dihadapannya sudah sangat kepayahan.
" Aku tanya sekali lagi, Ryan Juville dimana putriku berada ? Kau pasti tahu ? " Aljendro membentak kasar.
" Putri yang mana ? " Ryan Juville balik bertanya.
" Jangan pura - pura bodoh, Juville ! Memangnya aku punya berapa putri ? " Aljendro mulai tersinggung.
" Hahaha ... Kau yang bodoh atau mulai pikun, Aljendro ? " Ryan Juville meludah kesembarang arah.
" Entah anakmu ada berapa ? Bukankah kecebongmu selalu kau tebar setiap detik ? " lanjut Ryan Juville dengan nafas yang mulai kepayahan. Tangannya yang menggantung sudah kebas. Nafasnya pun sudah tersengal - sengal. Pukulan demi pukulan dari Aljendro benar - benar meremukkan tubuhnya.
" Ryan Juville, dimana putriku ? " desis Aljendro dengan nada penuh tekanan.
Ryan Juville hanya menggeleng lemah, " Aku benar - benar tidak tahu tentang putrimu. " lanjutnya terus terang.
Aljendro tiba - tiba menarik pisau kecil dari saku celana jeansnya dan langsung menggoreskan pada perut Ryan Juville.
" Akh, " Ryan Juville mengaduh perlahan. Sayatan pisau kecil itu sangat tajam, merobek melintang tepat di bawah pusar Ryan Juville. Darah menetes.
" Aku tanya sekali lagi, Ryan. Dimana putriku ? "
" Kau tuli, Aljendro. Aku tidak tahu ! " teriak Ryan Juville frustasi. Dirinya memang tidak tahu siapa putri yang dimaksud Aljendro Stewartz.
" Oh shi**** ! " Aljendro Stewartz dengan geram menendang bagian perut Ryan Juville lagi.
__ADS_1
Luka semakin terbuka dan berdarah.
Ryan Juville meringis menahan sakit.
" Kau pilih kesengsaraan rupanya. Ok, tidak buruk. Itu menyenangkan bagiku. Kau mau bermain - main denganku rupanya. " ucap Aljendro Stewartz sambil mendekati Ryan Juville. Dan dengan tawa yang meledak bahagia, laki - laki itu menuang perasan jeruk ke luka terbuka di tubuh Ryan Juville.
" Nikmatilah, dude ! Itu pilihanmu ! " ejek Aljendro lagi sambil terus mengucurkan isi gelas ke beberapa luka di tubuh Ryan Juville.
Rasanya Ryan Juville ingin menendang atau meninju untuk melawannya. Tapi kedua tangan dan kakinya sudah terikat, menggantung di palang besi.
" Aaarrggghh ... . " Ryan Juville menggeram kesakitan.
Rasa perih yang teramat sangat menyerang Ryan Juville. Dengan gigi yang terkatup rapat dan rahang yang mengeras Ryan Juville menahannya. Otot - otot di beberapa bagian tubuhnya pun nampak menonjol.
" Aaarggghhh ... . " akhirnya Ryan Juville berteriak kesakitan. Lukanya semakin perih.
" Dasar monster gila ! " Ryan Juville berteriak frustasi. Tubuhnya terasa berat dan lukanya terasa sangat perih. Sangat menyakitkan.
" Kau benar - benar gila, Aljendro. Pantas semua orang meninggalkanmu. Kau pantas ditinggalkan. Monster gila. Aarrrggh ... . " teriak Ryan Juville sarkas.
Kemudian dengan cepat Aljendro meraih cambuk lagi dan mencambuk tubuh terbuka Ryan Juville berulang kali menumpahkan semua kemarahannya.
Aljendro mencambuk Ryan Juville dengan brutal. Dirinya juga merasakan perih, luka tak berdarah tepat di ulu hatinya. Bagaimana tidak ? Ditinggalkan tepat dihari pernikahannya, kemudian beberapa waktu setelah dirinya mampu bangkit dan mencintai perempuan lain, perempuan yang amat disayanginya diperkos**a oleh sahabatnya sendiri sampai mati. Anaknya diculik dan dibuang entah berada dimana.
Ryan Juviile hanya terdiam, menahan semuanya. Tapi tubuhnya terasa sangat remuk. Cambuk terakhir mengenai dadanya, menghujam sedikit lebih dalam hingga dadanya robek. Darah kembali mengucur.
Dan Aljendro menyiram air perasan jeruk yang masih tersisa di dalam gelas ke luka yang terbaru.
Ryan Juville berteriak perih lagi. Tubuhnya menggeliat kesakitan.
__ADS_1
Matanya memerah menahan semua rasa perih dan luka pada seluruh tubuhnya. Perlahan - lahan matanya tertutup, kesadarannya mulai hilang bersamaan dengan tebasan pisau di ulu hatinya.
" Aku benci penghianatan ! Kau dengar, Juville, Aku benci penghianatan. Sekalipun engkau adalah anak Saudaraku. Tapi aku Aljendro Stewartz tidak pernah mentolerir penghianatan. Camkan itu, Juville ! " ucap Aljendro sarkas dengan kaki yang menendang lagi perut Ryan Juville. Seperti orang kesetanan Aljendro menendang tubuh Ryan Juville berulang kali.
Nafasnya menderu penuh kemarahan.
" Putriku dimana kau berada ? " rintih Aljendro frustasi sambil terduduk di lantai. Dengan kedua tangan yang berlumuran darah, laki - laki itu menjambak rambutnya sendiri. Frustasi, marah, sedih, dan rasa kehilangan yang kuat bergulat menjadi satu di dalam hati Aljendro Stewartz. Masa lalunya pun sama kelamnya. Sama dengan hatinya yang sudah menghitam penuh dengan dendam.
Aljendro Stewartz duduk di lantai dengan pandangan kosong. Kenangan akan masa lalunya yang bahagia muncul dipermukaan sebelum hari pernikahannya dengan --- terjadi. Akh, Aljendro tidak berani menyebutkan nama wanita itu. Lukanya teramat dalam bersamaan dengan rasa manis yang pernah mereka jalani bersama. Inilah yang menjadi titik awal dirimya menggila dengan cara yang sangat ekstrim.
Aljendro Stewartz meraung frustasi.
" Setan. Aaarrgggghhh. " Aljendro Stewartz menjambak rambut coklatnya dengan frustasi.
" Aku jadi begini, juga karena kalian. Kalian yang membuatku menyimpan dendam. Menjadikanku monster gila yang haus darah. Aaarrrgghh ... . " Aljendro meraih beberapa botol Alkohol di atas meja dan melemparkannya ke segala arah.
" Kalian juga. Bertahun - tahun aku tempatkan kalian di Rumah utama Arzallane tapi tidak becus mencari informasi. Atau kalian sama penghianatnya dengan si bodoh Ryan Juville ? Hah, jawab !! "
Beberapa laki - laki yang juga dalam posisi terikat sama seperti Ryan Juville hanya diam. Mereka mengunci mulut mereka rapat - rapat.
" Kalian benar - benar mencari mati. " Raung Aljendro marah.
Beberapa anak buah Alexander Moralez yang berada di dalam ruangan tersebut yang ternyata adalah mata - mata yang diletakkan Aljendro pun akhirnya menjadi samsak hidup. Aljendro benar - benar melampiaskan kemarahannya. Darah menggenang di dalam ruangan.
Aljendro menatap beringas orang - orang yang menjadi korbannya. Semuanya tewas dengan tubuh yang sangat mengenaskan. Isi perut terburai dan seluruh tubuh penuh sayatan.
Semua anak buahnya tidak berani melawannya, karena sebuah kesepakatan berdarah sudah menjadi perjanjiannya. Mereka memberikan nyawanya sebagai bentuk pengabdian dan seluruh keluarganya akan menikmati kemewahan, seluruh hidup keluarganya terjamin. Tapi jika mereka berani menghianati atau melawan maka mereka siap menerima konsekwensinya, mereka harus mati bahkan seluruh keluarganya dibantai tanpa sisa. Benar - benar gila.
Dan orang - orang yang ada dalam ruangan tersebut adalah orang - orang yang sama yang menjadi bodyguard di rumah besar Arzallane. Orang - orang yang sama yang berangkat bersama dengan Ryan Juville mengantar Alexander Moralez berobat ke negara R.
__ADS_1
Sungguh miris dan menjadi pukulan telak bagi Alexander Moralez Arzallane. Tanpa dia tahu ada banyak orang - orang disekitarnya yang menjadi penghianat.
Bahkan Ryan Juville pun tidak tahu bahwa Aljendro menempatkan banyak mata - mata di sekitarnya tanpa dia sadari. Ryan Juville yang kembali sadar hanya mengerjap sesekali untuk mengatur nafasnya. Ada beberapa rahasia yang akhirnya dia dengar tadi sedetik sebelum dirinya kehilangan kesadarannya dan itu benar - benar sangat membuatnya tercengang. Aljendro benar - benar seorang taktis yang luar biasa. Dia menempatkan orang - orangnya dari sejak lama tanpa ketahuan dari pihak Alexander Moralez.