Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 39. Berusaha Mencari


__ADS_3

Han Liu menarik nafas kasar. Pikirannya sangat kacau. " Bagaimana mungkin saya kecolongan ? Kegelisahan saya waktu itu benar - benar terjadi. Akh ... Andai saya tidak terbujuk untuk menyetujui Dokter Ryan Juville. Akh, sh*it ! "


Han Liu kembali menggebrak meja.


Kemudian dengan kasar, Han Liu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Nafas laki - laki itu sedikit memburu.


Han Liu memejamkan mata sejenak. Tubuhnya bersandar pada sandaran sofa. Otaknya berpikir keras mereka - reka beberapa kemungkinan dalam pemikirannya.


" Oh no. ini sangat sulit. "


" Pedro, Kau tahu pimpinan arus bawah di negara R selain laki - laki bejat itu ? " lanjut Han Liu masih dengan memejamkan matanya. Terlihat jelas wajahnya sedang berpikir keras tentang keberadaan sahabat dan tuan besarnya. Ryan Juville dan Alexander Moralez Arzallane.


Seorang laki - laki yang dipanggil Pedro hanya berdehem sejenak sebelum matanya melotot kaget ketika menemukan sebuah titik keberadaan pesawat. Tapi dengan cepat dirubahnya layar ke slide lain memperlihatkan sebuah map di negara T.


" Sekretaris Han sepertinya pesawat mendadak landing karena terpantau di menara airport negara T. " Pedro sedikit berbohong. Ekor matanya mengawasi beberapa laki - laki yang masih asyik dengan layar masing - masing.


Seorang yang berada di ujung ruangan nampak menegakkan tubuhnya, seperti sedang akan mendengarkan sesuatu.


" Pancingan berhasil, " Pedro membatin. Sebuah senyum simpul tersungging. " Aku menemukan jackpotnya. Habis kau ! "


" Hah ... Negara T ? " tanya Han Liu kaget. Tubuhnya tersentak kaget dan segera Han Liu menegakkan tubuhnya dari sandaran sofa.


Sudah beberapa malam sejak hilang kontak dengan Ryan Juville, Han Liu dan semua bawahannya dibuat tidak tidur. Mata dan konsentrasi mereka terfokus untuk mencari keberadaan tuan besar.


Pedro mengamati sekitar. Matanya beradu dengan Han Liu. Sebuah anggukan tak kasat mata, coba ia sampaikan untuk keluar ruangan.


Han Liu melirik dengan ekor matanya tubuh Pedro yang beranjak meninggalkan ruangan.


Han Liu mengangkat gelas kopinya yang telah kosong. Ia kemudian turut beranjak dari duduknya, memutar sejenak tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk sedikit melenturkan tubuhnya yang mulai kaku dan kebas karena seharian duduk di depan komputer. Konsentrasi yang tinggi untuk meretas beberapa keamanan stasiun dan pusat penerbangan membuat seluruh tubuh Han Liu terasa remuk. Tapi sepertinya kali ini sangat buntu. Tidak ada celah untuk menemukan. Han Liu menarik nafas perlahan dan kemudian melangkah keluar.


Han Liu keluar ruangan tanpa berkata apapun pada anak buahnya yang masih asyik dengan layar masing - masing.

__ADS_1


Han Liu bergegas mengejar Pedro dan menyelinap di sebuah ruangan yang sedikit gelap.


" Kau mau kemana ? " Han Liu mencekal lengan Pedro dengan sangat kuat dan menariknya ke balik pintu di sebuah ruangan lain.


Laki - laki pendek dengan tubuh gempalnya hanya menyeringai menertawakan.


" Kau tahu Sekretaris Han, hal bodoh yang pertama kamu lakukan adalah kau ... . " Pedro menjeda kalimatnya dan tangannya menunjuk dada laki - laki di depannya dengan seringai tak biasa.


" Hal bodoh pertama yang Sekretaris Han lakukan adalah membiarkan penyusup masuk dan berada di sekitar tuan besar selama belasan tahun. "


Han Liu nampak terkejut dan mengerutkan kening, " Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan, Pedro. Yang saya tahu, Saya sudah melakukan penjagaan di semua lini dengan sangat rapi. "


" Anda bodoh Sekretaris Han, kadang apa yang kita lihat tidak sepenuhnya dapat kita percaya. "


" Apa maksudmu, Pedro ? Jangan buang waktu dengan pembicaraan yang tidak penting ! "


" Sekretaris Han, Anda harus tahu lawan dan kawan itu hanya berbeda huruf l dan k. Jadi jelilah melihat situasi ! Jika sudah seperti ini, aku sendiri tidak tahu mana kawan atau musuh yang sesungguhnya ? Tapi yang jelas Tuan Besar dalam masalah. "


" Berhati - hatilah Sekretaris Han ! Aku tidak yakin semua yang ada di dalam ruanganmu itu tulus menjadi pengikut Alexander. "


Han Liu mencengkram lengan Pedro semakin kuat. " Jika Kau tahu sesuatu, bicaralah terus terang ! Jangan berputar - putar ! "


" Feeling saya mengatakan bahwa nyawa Tuan Besar dalam bahaya. " lanjut Han Liu sedikit murung.


Pedro tersenyum miris, " Seharusnya Anda ikut ke negara R, Sekretaris Han. Bukan malah menyerahkan keselamatan Tuan Besar ke tangan Dokter bodoh itu. "


" Apa maksudmu, Ped ? " Han Liu semakin penasaran. Rasa kwatir dalam dadanya semakin membuncah dan membuat Han Liu semakin gelisah.


Han Liu menghentakan tangannya dengan kasar, sedikit mendorong lengan Pedro. Pedro nampak terdorong sedikit ke belakang.


" Aku sungguh tidak tahu apa - apa, Sekretaris Han. Hanya ... . " Pedro menjeda suaranya.

__ADS_1


Kakinya melangkah mendekat dan meraih tubuh Han Liu, sedikit berjinjit karena tubuhnya yang pendek membuatnya kesusahan untuk mensejajarkan bibirnya dengan telinga Han Liu.


Pedro berjinjit dan membisikkan sesuatu.


Wajah Han Liu nampak menegang ketika Pedro membisikkan sesuatu.


" Aku pergi. Aku takut banyak lawan disekitar kita Sekretaris Han. "


" Berhati - hatilah ! "


" Terima kasih, Ped untuk informasinya."


" Semoga Tuan Alexander cepat ditemukan. " ucap Pedro tulus.


Pedro menyelinap keluar dengan berhati - hati.


Suasana di luar ruangan nampak lengang. Pedro bergegas keluar menuju ruang bawah tanah.


Suasana sedikit mencekam di ruangan bawah tanah. Dinding terasa sangat dingin dengan bau anyir yang tak biasa. Udara sedikit pengap di sepanjang lorong.


Pedro melangkah dengan was - was, seperti ada seseorang yang sedang mengikutinya. Laki - laki itu berusaha tenang dan tetap berjalan dengan langkah penuh kewaspadaan. Bukan tidak mungkin ada penyerang yang sedang mengincarnya.


Pedro merasakan keganjilan di belakangnya. Ada bayangan yang tertangkap ekor matanya sedang mengikutinya.


Pedro mempercepat langkahnya. Beruntung lorong di depannya bercabang dua, satu ke arah ruang eksekusi dan sebelah kanan menuju lorong lain dengan beberapa ruang tersembunyi.


Pedro menyelinap segera ke sebuah ruangan yang ditujunya. Sebuah ruangan tersembunyi. Pedro membuka sebuah ruangan, memasukinya dan menuju walk in closet. Kemudian laki - laki itu dengan cepat dan menekan sebuah tombol dibalik pintu sebuah lemari dengan finger print . Akses menggunakan sidik jari yang hanya beberapa saja dari orang - orang kepercayaan Alexander yang tahu. Sebuah dinding di belakang almari bergerak perlahan, dan Pedro segera melangkah masuk. Dinding kembali bergeser ke bentuk semula.


Sebuah ruangan dengan sistem pemantau di seluruh gedung dengan beberapa layar besar yang sedang memperlihatkan obyek dari beberapa kamera cctv yang terpasang di seluruh ruangan manshion.


Pedro melangkah menuju sebuah layar besar. Layar sebesar dinding terbentang cukup luas memperlihatkan cctv seluruh ruangan manshion. Pedro mengamati dengan penuh selidik. Keningnya beberapa kali berkerut. Nampak matanya dengan tajam memgawasi detail layar yang sedang memperlihatkan beberapa sudut manshion yang sedikit mencurigakan menurutnya.

__ADS_1


__ADS_2