
" Jangan ! " cegah Kinara lagi sambil menarik ujung kemeja Alexander.
" Jangan pergi ! " ulang Kinara. Entah mengapa Kinara dengan berani menarik ujung kemeja sang Tuan besar. Ada rasa takut dalam hati Kinara jika sang Tuan besar akan menjadi sasaran peluru nyasar dari musuh yang sedang baku tembak.
Seharusnya Kinara tak perlu peduli, tapi sudut hatinya mengatakan jangan pergi, hingga keluarlah kata tersebut dari celah bibirnya. Tapi apa yang Kinara dapatkan ?
Alexander Moralez mengetatkan rahangnya. Ada perasaan tak suka ketika seseorang menyentuh kemejanya. Laki - laki tinggi besar itu menatap sekilas wajah Kinara dengan pandangan tak terbaca.
Kinara dengan wajah pias dan rasa takut memandang Alexander Moralez dengan pandangan mata tak berkedip.
" Lepas ! " desis Alexander Moralez marah.
Wajah Kinara nampak pias, ada rasa malu dan jengkel yang terkumpul di wajahnya hingga bibir merahnya nampak mencibir dan bergumam marah. Rasa khawatir yang sempat membuatnya mencegah kepergian Alexander Moralez tiba - tiba menguap begitu saja, terganti dengan rasa jengkel dan marah karena perasaan khawatirnya diabaikan.
" Tadi dirinya peluk - peluk. Sekarang cuma di pegang kemejanya saja marah. Dasar lelaki cari untung sendiri. Mau menang sendiri. Sok Penguasa. Sok Berwibawa. Dasar. Sana ! Sana ! " decih Kinara seraya menyentak kemeja yang ada di cekalannya dan sedikit mendorong tubuh Alexander Moralez.
Tubuh Alexander tidak bergeming. Tubuhnya tinggi besar dengan otot - otot yang tangguh jelas tidak akan terasa ketika tangan kecil Kinara mendorongnya. Sekalipun sekuat tenaga Kinara mendorong, akan dapat dipastikan bahwa tubuh itu tetap akan kokoh berdiri.
" Kau ? " Alexander menatap tajam Kinara dengan tak suka.
__ADS_1
" *Gadis ini mengapa selalu memicu emosi saja ? Awas saja, kau akan terima hukumanmu nanti, Kin*ara ! " batin Alexander geram.
" Biar saya saja, Tuan ! Saya akan alihkan perhatian mereka sehingga Tuan bisa berlari ke arah barat hingga bukit di sebelah sana, " tunjuk Han Liu dengan suara lirih. " Dan Anda bisa membawa serta Nona Kinara. Di balik bukit itu ada dua helikopter yang siap membawa Anda kembali ke mansion, ada Valen dan Sandro yang menunggu di sana. " lanjut Han Liu.
" Kau memerintahku, Han ? " Tanya Alexander Moralez mengernyit tak suka.
" Akh, maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud ... . " ucap Han Liu dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Belum selesai Han Liu berucap, terlihat tangan Alexander Moralez sang tuannya mengibas perlahan, seperti hendak mengatakan, diamlah. Jangan berkata apapun ! Jangan membantah !
Han Liu terdiam. Tetapi sebagai seorang sekretaris, seorang kepercayaan Sang Tuan Besar, dirinya sudah terbiasa berada di barisan terdepan. Menjadi tameng dalam segala kondisi dan peristiwa. Seharusnya. Tetapi hari ini, Sang Tuan Besar seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang yang siap mati untuk menjaga sang Nona.
" Akh, tunggu ! Apakah ini ada hubungannya dengan Nona Kinara ? Karena biasanya Sang Tuan Besar akan lebih memberikan tanggung jawab seperti ini hanya kepada Anak buah. Tuan Besar tidak akan bertindak gegabah dengan mengumpankan dirinya kepada musuh. Walau tidak menutup kemungkinan bahwa sang Tuan Besar akan melakukan apa saja untuk orang - orang terdekatnya kan ? Oh astaga, mengapa saya menjadi seperti ini ? Saya tidak sedang cemburu kan ? Argh, sial. Rasa ini tidak nyaman, " batin Han Liu gusar.
" Diamlah, Han ! "
" Saya tahu apa yang harus saya lakukan, " ujar Alexander Moralez dingin.
Alexander sedang memindai situasi di depannya. Mata elangnya menatap tajam sekeliling.
__ADS_1
Suasana sore dengan cahaya kemerahan dan awan yang mulai menggelap diatas menjadi penanda bahwa petang hampir datang.
Alexander Moralez menarik nafas panjang. Menimbang banyak kemungkinan jika dirinya menampakan diri. Dia tidak bodoh tetapi menurut perhitungannya jika dirinya bisa mengambil senapan yang tergelerak di samping mayat di depan sana itu cukup menjadi senjata untuk mereka mempertahankan diri.
Dari kejauhan bunyi tembakan masih terdengar bersahutan. Bahkan sesekali terdengar teriakan orang seperti sedang beradu otot. Teriakan kesakitan nampak bersahutan. Itu bukan seorang tetapi beberapa orang.
" Dari kelompok mana ? Berperang di tempat seperti ini ? " gumam Alexander Moralez kebingungan.
Alexander melangkah perlahan melepaskan diri dari ruang kecil di antara ceruk pohon besar di mana dirinya, Han Liu dan Kinara bersembunyi. Di tatapnya sekilas pisau kecil yang tergeletak di tanah di ujung kakinya.
Alexander Moralez membungkuk dan mengamati sepintas belati kecil dengan ujung kepala tengkorak berwarna silver. Silver skull.
Alexander Moralez mengernyit sesaat ketika mengamati belati kecil di telapak tangannya.
" Tunggu, " kaki panjangnya segera melompat turun ke tanah yang lebih rendah dan berlari menyelinap ke arah pepohonan yang lain tempat anak buah yang sempat di bawa Han Liu untuk mencarinya- bersembunyi
Ada perasaan gelisah yang tiba - tiba ketika mengingat belati tengkorak berwarna silver tersebut dengan keberadaan seseorang yang dirinya bawa saat keluar dari Laboratorium tempat dirinya di sekap beberapa waktu lalu.
-- bersambung
__ADS_1
Hai - hai reader terkece. Maafkan, karena ternyata kesibukan di real sangat menyita waktu saya sehingga terlambat up.
Tuan Besar up lagi. Jangan lupa koment. like dan votenya yah. Tetap dukung karya ini supaya saya tetap semangat up. terima kasih untuk semua dukungannya.