
Kinara berpikir dalam diam, tidak mengerti siapa lagi yang sudah membawanya keluar dari rumah tuan besar Alexander Moralez.
Deg.
Jantung Kinara berdetak lebih kencang ketika mengingat nama itu. Sebentuk rasa tertinggal di sudut hatinya. Entah apa. Seperti ada sesuatu yang mengikatnya untuk tetap memiliki satu ruang khusus dalam hatinya.
" Ughh, " Kinara mengaduh tertahan ketika dengan tanpa sadar menggerakan kakinya karena seperti sedang kesemutan.
Mata Kinara mendadak terbeliak tak percaya, kakinya merasa kesemutan. Sebuah tanda tanya besar bersarang dalam benaknya. Secercah harapan mulai tumbuh dihatinya. Senyum harapan terbit diujung bibirnya yang sedikit pucat. Matanya berbinar penuh kebahagiaan. " Semua pasti baik - baik saja, " batin Kinara penuh harapan.
" Oh my God. Praise the Lord, " gumamnya perlahan.
Kinara mencoba menggerakkan kaki dan tangannya lagi. Terasa sangat berat dan pegal sekali. Rasa kesemutan menjalar dari ujung kakinya naik sampai ke pangkal pahanya menimbulkan rasa aneh yang sedikit pegal dan menggelitik.
Sebuah senyum bahagia terbit di ujung bibir Kinara, " Ada harapan, " lirih Kinara bertekad untuk bisa menggerakkan kaki dan tangannya.
" Oh, God. Aku bisa berbicara lagi. Yes, thanks God, " senyum Kinara semakin mengembang.
Tap. Tap.
Bunyi langkah beberapa orang terdengar dari luar ruangan. Derapnya mendekat ke arah kamar tampat Kinara berbaring dan tak lama kemudian pintu dibuka dari luar.
Ceklek.
Empat orang maid perempuan masuk.
__ADS_1
" Menyusahkan, tugas tidak bermutu. Bagaimana mungkin kita harus bertugas merawat gadis lumpuh, bisu lagi, " seorang maid dengan rambut blonde menggerutu tak senang. Kakinya berulang kali menghentak lantai marmer yang menjadi pijakan, sesekali tangannya mengepal menyalurkan emosi rasa tak terima.
" Sssttt, diamlah, Jenny ! Jika sampai Tuan Daniel dengar, habis nyawamu. "
" Apa maksudmu ? Kau mau mengadu kepada Tuan Daniel ? Aku tidak takut. " Jenny membalas marah, masih dengan raut tak bersahabat. Dan kaki yang terus menghentak tak sabaran.
Jenny seorang maid senior di rumah Daniel Grase, sifatnya sangat ketus dan sombong. Teman - teman sesama maid tidak ada yang menyukainya. Hanya karena Jenny maid senior yang telah lama bekerja di rumah Daniel Grase sehingga Jenny banyak ditakuti maid yang lain.
" Diamlah kalian, bersihkan saja tubuh Nona ini, itu perintah Tuan Daniel. " seorang maid yang lebih tua dari semua menengahi.
Nampak Jenny akan membalas perkataan Garetha, sang kepala maid tapi Garetha berujar lagi dengan tegas.
" Dan kau Jenny, kau tetaplah pembantu di rumah ini, jadi jangan terlalu berlagak ! Seolah - olah kau tuan rumah. Bersikaplah selayaknya pembantu yang penurut dan menghargai orang lain ! " ucap Garetha, seorang kepala maid dengan tegas.
Jenny hanya bergumam tak jelas. Karena baginya lebih baik membersihkan ruangan kerja Tuan Daniel atau membersihkan perpustakaan daripada harus merawat gadis lumpuh dan bisu. Itu sangat menggelikan dan sangat tidak wajar. Jenny masih dengan raut jengkel, mendekati sisi ranjang.
" Pekerjaan tidak bermutu, aku tidak mau melakukannya. " ucap Jenny jengkel dan bergegas keluar ruangan dengan membanting pintu.
Kinara hanya tertegun dalam diam mendengar perdebatan para maid yang sedang membersihkan tubuhnya.
" Sudah ! Lanjutkan saja pekerjaan kalian ! Jangan ikut - ikutan seperti Jenny jika kalian masih mau bekerja ! " Garetha berujar lagi dengan tegas.
Sebenarnya Kinara sangat risih tapi untuk saat ini lebih baik diam seolah - olah masih dalam kondisi tidak sadar. Kinara sangat was - was jika benar penculikan dirinya terjadi karena dirinya akan dijadikan alat pelicin proyek megacity maka Kinara harus bisa kabur dari tempat ini. Entah hidupnya akan seperti apa di masa depan, dan siapa lagi bos besar sang pemilik mega proyek.
" Sudah selesai, " seorang maid melaporkan kepada Garetha yang sedang membetulkan selang infus.
__ADS_1
" Berikan selimut itu, dan biarkan Nona istirahat. Ayo kita keluar ! " ucap Garetha sambil menyelimuti tubuh Kinara sampai di atas perutnya.
Suara pintu terdengar menutup.
Kinara membuka mata perlahan. Tubuhnya lebih segar setelah beberapa maid mengelap tubuhnya dan mengganti gaunnya.
Kinara mencoba menggerakkan tangannya perlahan, " Yes ! "
Kinara hampir berteriak bahagia, ketika dirinya mampu menggerakkan jarinya. Senyumnya terbit lagi. Wajah cantiknya dipenuhi rona kebahagiaan.
" Aku pasti bisa, " tekad Kinara lagi sambil terus berusaha menggerakkan jari - jarinya.
Ceklek.
Pintu terbuka sekali lagi. Beruntung Kinara dalam posisi tenang tanpa pergerakan karena dirinya merasa kelelahan setelah berjuang menggerakkan jari tangan dan kakinya.
Seseorang memasuki ruangan. Harum maskulin langsung menusuk indera penciuman Kinara.
Sesosok pria tegap berdiri di sisi kanan ranjang Kinara. Wajah tampannya mengernyit heran ketika mendapati wajah Kinara berpeluh keringat. Tanpa sadar laki - laki itu menyentuh wajah Kinara yang berkeringat.
" Julio, panggil Dokter Max ke villa sekarang ! " perintah laki - laki itu melalui ponselnya.
Tak sampai lima menit, seorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
" Cepat sekali ? " tanya laki - laki itu penasaran. Pikirnya, letak villa ini jauh dari pemukiman penduduk dan merupakan villa di daerah terpencil di pinggir kota. Paling tidak butuh lima jam perjalanan dengan mobil dari kota ke villa.
__ADS_1
" Sebuah kebetulan yang sangat tepat waktu, tepat ketika aku kemari. Hari ini jadwalku melihat kondisi gadis ini. " ucap Dokter Max santai sambil meraih alat medisnya untuk mulai memeriksa kondisi Kinara.
Sebuah senyum terbit ketika tangannya mulai memeriksa Kinara.