
Malam yang sama di tempat yang berbeda, di sebuah bangunan besar dengan ruangan berdinding putih. Di sebuah brangkar rumah sakit dengan seorang gadis yang tertidur lelap di atasnya dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangannya. Bahkan sebuah tiang infus terjajar rapi berdiri kokoh di sebelahnya.
Cairan merah dalam kantung yang tergantung di tiang menetes perlahan seirama dengan detak jam yang berbunyi dalam setiap pergerakan jarumnya. Sebuah alat deteksi jantung yang terhubung dengan kabel - kabel kecil juga berbunyi menambah alunan sehingga semakin membuat hati tergetar untuk terus berharap bahwa keadaan sang gadis akan baik - baik saja.
" Sayang, " panggil seorang lelaki dewasa yang masih setia duduk di sebelahnya sambil terus menggenggam tangan sang gadis. Lelaki itu tampak frustasi memperhatikan sang gadis yang masih terlelap untuk beberapa waktu lamanya. Matanya nanar memandang wajah gadis itu dengan tatapan kecewa, bahkan kadang berganti dengan tatapan penuh rindu dan kemarahan yang menyatu. Sesekali terdengar gertak gigi dari rahang kerasnya yang mengatup, seperti sedang menyalurkan kemarahan yang coba ia tahan.
Gadis itu nampak sangat pucat pasi. Matanya tertutup rapat dan kulit gadis itu masih terasa dingin, kulit pucat bahkan lebih terlihat kusam, dan di beberapa bagian bahkan nampak kebiruan dan mulai berkerut.
Lelaki dewasa itu berulang kali menarik nafas berat. Dadanya terasa sesak melihat gadis kesayangannya tergeletak tak berdaya. Semuanya sudah ia upayakan untuk menetralkan efek formula yang telah di suntikan Alexander Moralez beberapa waktu lalu ke tubuh Dominic.
__ADS_1
" Aaarrghh, " desis laki - laki itu sangat frustasi. " Suntikan itu seharusnya untuk dirinya bukan untuk Dominicku, sialan. " umpatnya marah sambil mengepalkan tangan dengan kuat.
" Kau juga bodoh, sayang. Obsesimu terhadap si brengsek itu membuatmu hilang fokus. Arrgggh ... Coba kalau kau tak membantah apa yang ku perintahkan ? Kau tak akan mengalami keadaan seperti ini. Bahkan aku pun belum menemukan penawarnya. Salahmu yang tak mendengarkanku. Kurangku apa ? Dasar perempuan pelacur. Kau sama saja dengan ibumu. Sialan. "
" Kau bodoh, sayang ! Rencanaku tinggal selangkah lagi jadi gagal gara - gara kau. Gadis sialan, " ujarnya lagi sangat marah seraya mencengkeram leher gadis yang masih terlelap dalam ketidaksadarannya.
" Aaarghh, gadis sialan. Harusnya Xander yang mengalami ini semua dan semua kekayaan serta kekuasaan di dunia bawah menjadi milikku. Menjadi milikku. Selama dia masih hidup, aku hanya akan menjadi bayangan yang tak pernah di anggap. Sial. Kau bodoh Dominic. " umpatnya marah lagi dan melepaskan cengkeramannya pada leher gadis itu.
Detak jantung gadis itu terdengar perlahan dengan nafas yang mulai tersengal.
__ADS_1
" Brengsek, " maki laki - laki itu kesal sambil menendang kaki brangkar hingga membuat brangkar itu terdorong ke samping.
" Bereskan, jangan biarkan nyawanya hilang ! Berikan formula A di brangkas kaca dalam botol merah itu ! Dan perhatikan tekanan darah, detak jantung dan pastikan dia tetap hidup ! Awas kalau nyawanya sampai melayang, kalian yang akan menggantikannya. Proyekku harus berhasil, " perintah Thomas Soarez dengan wajah dingin tanpa belas kasihan.
" Baik, Tuan, " angguk seorang pria berpakaian putih.
Pria berjas putih itu berjalan menghampiri sebuah lemari penyimpanan obat yang terletak di ujung ruangan. Pria itu membuka kunci dengan sidik jarinya dan mulai mempersiapkan sebuah formula yang telah di buat oleh Thomas Soarez.
Thomas Soarez adalah seorang dokter sekaligus seorang yang cukup di segani di kelompok bawah. Seorang yang sangat ambisius untuk merebut semua kekuasaan yang Alexander Moralez miliki.
__ADS_1
Dendam sekian tahun sudah mendarah daging dalam tubuhnya hingga menjadikan seorang Thomas Soarez menjadi orang paling licik, yang menghalalkan segala. cara untuk membuat semua rencananya selalu berhasil.