
Han Liu menyangga tubuh Kinara dan kemudian menggeserkan sedikit ke arah batang pohon terdekat supaya tetap dapat bersandar dengan baik. Kemudian Han Liu menghampiri sang tuannya yang masih tergeletak di tanah.
" Tuan, " lirih Han Liu menyentuh tangan Alexander Moralez untuk menyadarkannya. Dilihatnya wajah tuannya terlihat pucat dan darah yang masih mengalir di sudut bibirnya.
Beruntung bahwa lelaki itu tidak pingsan tapi sepertinya keadaannya sangat lemah.
" Nara, " panggil Alexander lirih. " Uhuk, damn it ! "
Alexander Moralez terbatuk darah dan beringsut duduk perlahan, walau terlihat sangat kepayahan.
" Nona Kinara sepertinya sedikit shock, Tuan. " ujar Han Liu sambil membantu Alexander Moralez untuk duduk dan bersandar.
" Aku tak menyangka gadisku berani melakukan hal itu. Sungguh di luar dugaan, " ucap Alexander perlahan. Ia menebah dadanya yang sedikit nyeri.
" Tak menyangka dia mampu membantai enam lelaki itu. " puji Alexander dengan senyum bangga.
Han Liu menatap sang Tuan besarnya dengan pandangan kaget. Belum pernah sang tuan besar memuji seseorang, apalagi ini gadis yang baru di kenalnya.
Alexander menebah dadanya lagi. terasa semakin sesak. Tendangan musuhnya tadi cukup membuat tubuh Alexander sangat kepayahan. Apalagi masih ada sisa - sisa obat yang Dominic suntikan yang masih membuat tubuhnya terasa kaku dan lemah.
" Apakah Anda baik - baik saja, Tuan ? Apakah ada yang sakit ? " tanya Han Liu memperhatikan sang majikan yang berulang kali menebah dadanya dengan tatapan khawatir. Ia tahu bahwa tuannya tak baik - baik saja. Tetapi kata - kata itu pun cukup membuktikan bahwa Han Liu pun sangat khawatir terhadap kondisi tuan besarnya.
Alexander Moralez hanya mengedipkan matanya, mencoba mengusir rasa pening yang tiba - tiba menyerang kepalanya.
" Aku baik - baik saja. Coba lihat gadis itu ! Apakah dia baik - baik saja ? Sepertinya tubuhnya tak cukup baik, " ujar Alexander lagi karena melihat tubuh Kinara bergetar dengan hebat.
Han Liu menatap sekilas tubuh Kinara. Yah sudut matanya sempat melihat bahwa gadis itu juga sedang tak baik - baik saja. Tetapi sekarang yang menjadi prioritasnya adalah sang Tuan besar yang juga sedang lemah.
__ADS_1
" Maaf, Tuan sepertinya kita harus secepatnya keluar dari hutan sebelum musuh yang lain berdatangan. " ujar Han Liu lagi. Sesekali matanya memindai sekeliling yang kembali sunyi senyap.
Hutan mulai terlihat gelap. Senja yang semula terlihat dengan warna kemerahan di ujung langit mulai memudar, berganti dengan warna pekat.
Sinar rembulan dan bintang - bintang kecil mulai menampakkan cahayanya yang berkerlip di angkasa. Udara mulai terasa dingin bahkan suara binatang malam mulai terdengar.
🌻🌻🌻
" Anx, sepertinya kita meninggalkan tuan besar jauh di dalam hutan. Bagaimana ini ? " tanya Derryan yang telah membaringkan Ryan Juville di atas rerumputan. Sedangkan beberapa orang yang lain nampak mulai mempersiapkan helikopter yang tersembunyi tak jauh dari tempat mereka duduk.
" Sepertinya tadi ada suara tembakan berulang kali. Apakah kita harus kembali menyusul ke dalam hutan lagi ? " tanya Robert, anak buah yang lain yang juga ikut dalam rombongan.
" Ya. Dua orang ikut Tuan Ryan Juville kembali ke mansion utama dan yang lain ikut aku kembali ke hutan. " perintah Anx memecah kesunyian.
Ternyata rombongan terbagi menjadi dua, satu rombongan yang membawa dokter Ryan Juville ternyata berjalan lebih cepat mencapai pinggir hutan di sisi barat sehingga mereka tidak bertemu dengan kelompok yang sedang berselisih.
Tak sampai satu jam, helikopter telah siap membawa Ryan Juville kembali ke mansion utama.
" Pastikan dokter Ryan sampai mansion dengan selamat tanpa kurang satupun. Jika lecet sedikit, nyawa kalian taruhannya, " ucap Anx datar ke arah Robert dan Sandro.
" Setelah sampai sana panggil Huang Lee untuk mengatur beberapa dokter yang akan memberikan penanganan kepada Dokter Ryan secepatnya. "
" Dokter siapa yang harus di panggil ? " tanya Robert kemudian.
" Huang Lee sudah tahu apa yang harus di kerjakan. Kau hanya harus mematuhi perkataannya selanjutnya. Kau paham, Sandro ? " ujar Anx lagi.
Sandro mengangguk patuh. Lelaki itu segera beranjak berdiri dan menunduk sebelum melangkah pergi.
__ADS_1
Anx menatap tajam kepergian Sandro dengan tatapan tak terbaca. Ada dalam hatinya terselip rasa waspada yang berlebihan apalagi sejak insiden terbongkarnya penyusup dalam mansion utama membuat Anx harus bersikap hati - hati.
Beruntung Han Liu masih di kelilingi orang - orang yang setia kepada Alexander Moralez Arzallane. Walau beberapa waktu yang lalu sempat terjadi ada banyak anak buah yang di telusupkan pihak musuh tetapi anak buah yang setia masih lebih banyak.
" Kau ikutlah kembali, Derr, " perintah Anx melirik Derryan yang masih duduk dengan meluruskan kakinya. Hatinya gelisah tak tenang ketika harus melepaskan dokter Ryan Juville kembali ke mansion utama tanpa pengawasannya langsung.
Anx adalah orang kepercayaan Pedro langsung saat Pedro masih hidup dan berkuasa di ruang pemantau dan pengendali. Itu adalah tugas khusus di atas anak buah biasa atau para petarung di kelompok Alexander. Jadi kedudukan Anx cukup di segani.
" Ok, " jawab Derryan singkat.
" Awasi sekeliling dengan baik Derr ! Aku mengkhawatirkan sesuatu, " ucapnya perlahan dengan hati gamang.
Derryan menatap Anx tak mengerti, matanya menatap ke arah Anx yang nampak sedang berpikir, " Apa ada sesuatu yang kulewatkan Anx ? "
Anx menggeleng perlahan. " Tuan Alexander sudah mengalami banyak hal yang buruk di masa lalunya. Ayah dan Ibunya meninggal karena di bunuh saudaranya sendiri. Musuh ada di mana - mana. Penghianat menyusup sampai ke dalam mansion utama. Bagiku penghianatan adalah tindakan bodoh yang menghancurkan kepercayaan. Jika kita orang yang pernah di tolongnya dari kematian tetapi menusuknya pada akhirnya lebih baik aku tidak pernah mengikutinya ... . Lebih baik aku bunuh diri karena menjadi orang yang tak tahu berterima kasih. " ucap Anx penuh dilema.
Derryan mengerutkan dahinya. Tak mengerti arah pembicaraan Anx.
Deg.
Di ujung sana Robert, Sandro dan anak buah yang lain masih bisa mendengar suara Anx cukup jelas.
Hati Sandro berdesir. Ada gurat kepanikan yang tercetak dalam wajahnya tetapi detik berikutnya wajahnya kembali datar walau hatinya berdetak tak menentu.
" Maafkan saya, Tuan ! Saya tidak pantas di selamatkan. Seharusnya saya mati waktu itu. Tetapi sekarang nyawa adik saya dipertaruhkan jika ... Argh, " batin Sandro berperang dalam hati.
Hati Sandro lemah jika berhubungan dengan adiknya. Adik semata wayangnya. Cindy Jones ada di tangan Fredy Chan. Dia tak begitu paham Fredy Chan masuk dalam kelompok mana tetapi beberapa waktu lalu anak buah Fredy Chan menghubunginya jika ingin nyawa adiknya selamat dia harus membawa dokter Ryan Juville ke markasnya di Kota K.
__ADS_1
🌻🌻🌻