
" Dokter Ryan, tangkap ! " seru Kinara sambil melompat turun dengan menutup mata.
" Hei jangan lompat Kin ! " seru Ryan Juville menahan sebelum gadis itu bersiap melompat.
" Turunlah dengan berpegangan akar yang menjulur di sebelahmu ! " Ryan Juville memberi perintah lagi.
Nampak di atas dahan pohon Kinara hanya memandang silih berganti antara akar pohon yang menjulur di sebelahnya dan sosok Ryan Juville yang tengah berdiri tegak di bawah pohon. Gadis itu sedang mengukur dan menimbang apakah harus melompat turun atau bergelayut diantara akar pohon yang menjulur.
Tubuh Kinara sedikit bergidik. Dirinya yang takut ketinggian tetapi paling hobbi memanjat pohon dan setelah berada di atas pohon pasti akan berteriak - teriak meminta tolong Daddynya untuk membantunya turun dari atas pohon.
Sejenak Kinara terhanyut dalam lamunannya. Seperti dejavu , ingatan Kinara akan suatu peristiwa di masa lalu, di masa kanak - kanaknya.
" Daddy ? " gumam Kinara perlahan.
" Ayah, bukan Daddy. " Kinara seperti sedang meyakinkan dirinya untuk menyebut sosok ayah dalam hidupnya.
Tetapi mengapa kata Daddy sangat hangat di dalam hatiku. Ukh. ada apa ini ? Ayah ? Daddy ?
__ADS_1
Kinara menggeleng - gelengkan kepalanya berulang kali. Sesekali tangannya menepuk kepalanya untuk sekedar mengorek kenangan di masa lalu.
" Akh, " Kinara tersentak kaget ketika sebuah batu kecil mengenai bahunya.
" Hei, cepatlah turun ! Jangan terlalu lama melamun di atas ! Atau mau ku tinggal. Matahari sudah tinggi, perjalanan kita masih jauh untuk sampai jalan raya. " Ryan Juville mulai mengomel karena sudah untuk beberapa saat gadis itu hanya sibuk dengan pikirannya. Bahkan teriakannya tidak digubrisnya.
Kinara mengaduh sesaat dan nampak dirinya menghela nafas berat. Ketakutannya di ketinggian semakin membuatnya frustasi. Beberapa kali nampak tangannya yang akan meraih akar pohon yang menjulur, diurungkannya. Seketika tangan gadis itu kembali memeluk pohon dengan sempurna.
" Astaga Kin, cepatlah ! " Ryan Juville mengerang dengan marah.
" Aku takut, Tuan, " cicit Kinara dengan wajah memelas.
" Hei, tunggu Tuan ! Jangan ditinggal ! " ucap Kinara dengan cepat dan bergegas bangkit dari duduknya. Dengan menutup mata Kinara melompat turun.
" Tangkap aku, Tuan !! Aaakkkh ... . " teriak Kinara sambil menjatuhkan dirinya ke bawah.
Ryan Juville nampak terkejut karena gadis itu dengan sembrono menjatuhkan dirinya ke bawah. Dengan susah payah Ryan Juville mendongak, memaksakan matanya melihat Kinara dari silau matahari yang menyinari dari celah - celah pohon - untuk memperkirakan arah jatuhnya gadis itu.
__ADS_1
Kinara mencoba melompat dari atas pohon untuk turun. Tubuhnya sesaat melayang di udara sebelum dengan sukses mendarat tepat di atas permukaan tubuh laki - laki yang sejak tadi terus mengerang dengan jengkel.
Bagaimana tidak ? Ryan Juville hanya meminta Kinara turun dengan bergelayut pada akar pohon, berayun sedikit saja dan tubuhnya akan mendarat di tanah dengan mudah. Tapi ini, gadis itu malah memilih melompat dari ketinggian. Ryan Juville yang kesulitan karena silau matahari yang menerobos melalui celah dedaunan sehingga kesulitan menentukan arah jatuhnya gadis itu. Dan berakhirlah dirinya yang jatuh ditimpa Kinara. Tepat di atas tongkat baseballnya. Jangan di tanya soal rasanya ? Karena sensasinya sangat absurb bagi seorang Ryan Juville yang cukup lama tidak berdekatan dengan wanita. Bagaimanapun dirinya laki - laki normal.
" Aargghh, " desis Ryan Juville. Raut wajahnya nampak menahan rasa tidak nyaman karena tongkat baseballnya sedang di duduki Kinara. Sedangkan gadis yang mendudukinya masih shock setelah melompat dari atas dahan pohon yang cukup tinggi.
" Kinnnn, " Ryan Juville mengerang dengan tertahan. Bagaimanapun dirinya adalah lelaki normal yang akan mudah on karena sentuhan seorang gadis.
" Hah, " Kinara sedikit tergagap ketika menyadari dirinya masih asyik duduk di atas pangkal paha Ryan Juville.
" Tongkat baseballku, " Ryan Juville mengerang jengah karena Kinara masih tetap diam.
" Hah, tongkat ? Tuan membawa tongkat untuk apa ? Apa ada binatang buas ? " Kinara malah bertanya dengan wajah ketakutan.
" Shhitt, " Ryan Juville menggulingkan tubuh Kinara dan membaliknya dengan kasar. Tubuh laki - lakinya mengungkung Kinara. Matanya sudah berkabut. Hasratnya tiba - tiba menyergap otaknya.
Ryan Juville mengerang tertahan, sesekali dirinya menelan salivanya sendiri. Wajah cantik dibawahnya, dengan dua pasang mata coklat yang jernih dan bibir merah yang sepertinya sangat nikmat jika di cecap.
__ADS_1
" Tu..aaann kau mau aappa ? " Kinara berontak ketika tubuh Ryan Juville semakin menindihnya. Bahkan bibir lelaki itu hampir menyambarnya jika dirinya tak segera memalingkan wajahnya.