Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 44. Pengorbanan


__ADS_3

Deg.


Detak jantung Alexander berdegup kencang. " Shi***, gila. Ternyata wanita ini juga sadis. " Alexander Moralez menilai dalam hati.


" Baik, Dok. " Gery mengangguk dengan gugup.


" Kau pun akan berakhir sama jika banyak bertanya Gery. " ucap Dokter Dominic sarkas. Matanya menatap tajam pada Gery.


Gery hanya menunduk dengan gugup dan tanpa sadar tangannya saling meremas. " Minimal aku sudah menolong laki - laki itu. Semoga Tuhan menolongnya, " batin Gery dalam hati.


Sedetik kemudian Dokter Dominic berlalu dan melangkah meninggalkan ruangan dengan wajah suram.


Tubuh Martin terkapar bersimbah darah.


Gery dengan cekatan mengangkat tubuh Martin dan meletakkannya diatas kursi roda dan segera membersihkan darah di lantai dengan kain pel yang berada di dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama ruangan kembali bersih dan Gery melangkah keluar sambil mendorong kursi roda.


Sebelum mencapai pintu keluar, Gery berbalik, dan kembali melangkah mendekati ranjang, menyentuh ujung tangan Alexander Moralez seperti sedang membetulkan selang infus, menarik selimut sampai di batas dada dan bergumam sejenak, " Cepatlah pergi ! Saya tahu Anda sudah sadar jadi carilah cara untuk Anda bisa keluar dari tempat ini sebelum Dokter gila itu menyuntikan serum pelumpuh otak. Maaf, saya tidak bisa membantu Anda lebih. Paling tidak seorang sudah berkorban nyawa untuk Anda. Jangan sia - siakan nyawa sahabat saya ! "


Deg. Jantung Alexander berdegub lagi. " Pengorbanan. Seorang berkorban lagi untukku. " gumamnya perlahan.


" Terima kasih sudah mau berkorban untukku, Martin. Aku tidak mengenalmu. Tapi dengan pertanyaanmu, kau sudah memberitahuku akan banyak hal ... . " Hati Alexander menghangat. Sebuah perasaan berkembang, ada orang yang dengan sukarela mati untuknya. Walau banyak anak buahnya dalam kelompok yang dipimpinnya, mereka juga saling mendukung dan rela mati untuk dirinya tapi ada nilai mata uang sebagai imbalan untuk keluarganya yang biasa Alexander berikan sebagai kompensasinya. Loyalitas dan pengorbanan dalam dunia gelap mahal harganya.

__ADS_1


Gery menepuk tangan Alexander dan menyelipkan sesuatu sambil membetulkan lagi selang infus.


" Cepatlah keluar, sebelum terlambat ! " Gery bergumam perlahan. Tak lama setelah itu kakinya bergegas kembali ke arah kursi roda dan mendorongnya keluar.


Alexander Moralez bergerak perlahan membetulkan tubuhnya yang mulai pegal. Matanya menyipit memperhatikan seluruh ruangan. Nampak kamera cctv mengarah tepat ke arahnya.


"Shi*** ! " Alexander mengumpat perlahan.


" Bagaimana bisa keluar dari tempat ini ? Kurang ajar, jadi semua mati terbunuh. " Alexander mencoba bergerak perlahan, sangat samar karena dilihatnya sebuah kamera cctv mengarah ke arahnya.


Benda dalam genggamannya kemudian ia selipkan di dalam saku celana. Beruntung laki - laki tadi menutup tangannya dengan selimut sehingga mempermudah menyelipkann sesuatu ke dalam saku celananya.


Alexander Moralez menghembuskan nafas dan mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan. Alexander merasakan tubuhnya hampir remuk, kaku dan pegal di seluruh bagian. Tapi dirinya berusaha untuk tetap tenang dan tidak menimbulkan gerakan yang mencurigakan walaupun tidak ada orang dalam ruangan itu.


Tuk. Tak ... tuk ... tak ... .


Sebuah langkah sepatu terdengar berderap.


Seorang membuka pintu diikuti beberapa orang laki - laki berjas hitam.


Seorang melangkah mendekat dan mencekik lehernya.


" Apa yang kau lakukan, Daddy ? " Suara seorang wanita terkejut dengan perlakuan seorang yang dipanggilnya Daddy. " Dia milikku, Dad. Lepaskan ! " teriaknya lagi sambil menarik tangan laki - laki itu kasar.

__ADS_1


" Kau berani melawanku, Dominic ? " Suaranya terdengar penuh tekanan.


Deg. " Suara ini tidak asing ditelingaku. " Alexander Moralez membatin.


" Maaf, Tuan Soarez, Anda sudah berjanji kepada putri Anda untuk melepaskan Alexander Moralez Arzallane. Biarlah dia bersenang - senang dengan mainan barunya. Toh, serum itu akan melumpuhkan ingatannya sehingga kita dapat dengan mudah menguasainya. Kita bisa mencuci otaknya untuk memberikan semua kekayaan Arzallane ke tangan kita. Apalagi kelompok yang dipimpinnya adalah yang terbesar di negara QY. Kita bisa mengendalikan dunia dengan keberadaannya. Tak perlu membunuhnya, Sobat. " Seorang berucap sambil menarik tangan Soarez dari leher Alexander.


" Sialan. Ternyata Billy Soarez masih hidup. Aku harus bisa keluar dari tempat ini. Bisa hancur hidupku ditangan mereka, kurang ajar. Shi**** !! " Alexander mengumpat dalam hati. Sudut matanya menyipit membaca situasi ruangan.


Dokter Dominic melangkah mendekati ranjang, menyiapkan jarum suntik dengan tabung kecil berisi cairan berwarna biru muda.


" Apakah Kau yakin serum itu akan berhasil, Sayang ? " tanya Tuan Soarez ke arah putrinya.


" Aku sudah melakukan percobaan dan nyatanya berhasil, Dad. Dad tidak lupa kan jika seorang Aljendro Stewartz bisa menjadi sangat maniak sek**s itu karena siapa ? Hahaha ... Dan laki - laki ini sudah pernah mendapatkan serum pertama 12 tahun silam. Ketika patner kita Ryan Juville tidak sengaja menyuntikkan serum ini kepadanya. Itu sebabnya ada sebagian memorinya yang tidak bisa diingatnya sampai sekarang. Hahaha ... . " Dominic tertawa bahagia.


" Itu jackpot, Dad. Paling tidak aku sudah melakukan balas dendam Daddy kepada Aljendro dan keturunan Arzallane. Jadi Dad tenang saja, posisi kita di atas angin. " Wanita cantik itu tertawa dengan riang.


" Hhmm, " Tuan Soarez hanya berdehem sejenak.


" Aku butuh kepuasan Dad, sepertinya Alexander Moralez laki - laki yang kuat, " lanjutnya lagi. Tangannya menyentuh dada laki - laki itu dan membelainya penuh puja.


" Lakukan sesukamu, Dominic ! Tapi jangan lupakan tujuan utama kita !Menguasai seluruh kekayaan Arzallane dan semua wilayah kekuasaannya. Kau paham, Dom ? " Tuan Soarez berbicara dengan tegas.


" Yess, Dad. "

__ADS_1


Dominic tersenyum senang. Tangan halusnya menyentuh pundak Alexander dan membelainya perlahan sampai pangkal sikunya.


__ADS_2