Tuan Besar

Tuan Besar
Bab 57. Pelarian


__ADS_3

Kinara menjerit histeris. Tubuh besar Jefri Arkanzaz ambruk menindih tubuhnya. Susah payah dirinya melepaskan diri dari himpitan tubuh besar seorang Jefri Arkanzaz.


Bau alkohol terasa menyengat dalam penciuman Kinara dan rasa mual tiba - tiba menyeruak dalam perutnya.


Sebuah balok kayu memukul telak mengenai tengkuk Jefri Arkanzaz. Dan sekarang pelakunya dengan kasar meraih tubuh Jefri Arkanzaz yang menindih Kinara.


" Ugh, " Kinara mencoba menggeliat lagi untuk melepaskan diri dari berat tubuh Jefri yang menindihnya.


Bruk.


Seorang dengan kekuatan penuh menarik tubuh Jefri Arkanzaz dari atas tubuh Kinara. Tubuh laki - laki itu nampak sempoyongan tidak bertenaga.


Shock.


Mata Kinara membulat sempurna ketika melihat laki - laki yang menolongnya.


" Tu ... an ? " mata Kinara hampir melotot tak percaya melihat seorang degil, seorang laki - laki yang menolongnya. Sepintas lalu, matanya menyorot membuat Kinara mengingat seseorang.


" Tuan ? " Kinara mencoba mengingatnya lagi.


Laki - laki itu menatap Kinara dengan tatapan terkejut. Ada rindu yang menyeruak di ujung hatinya. Tapi dengan cepat laki - laki itu mengubah tatapannya dan segera menarik tubuh Kinara yang memperlihatkan kulit mulusnya.


Dengan kasar laki - laki itu menelan salivanya menahan sesuatu yang mulai menyesakkan. Pemandangan dihadapannya sungguh membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


" Damn it. "


Jika tak mengingat gadis ini milik sang Tuannya, alangkah sayang membiarkan begitu saja pemandangan kulit mulus dihadapannya.


" Hai, Kin ! " sapa lelaki yang entah sudah berapa lama tidak terkena air tubuhnya.


" Tuan, Anda ? Mengapa sangat degil dan bau sekali ? " tanya Kinara dengan penasaran, setelah mengingat sosok laki - laki yang menolongnya.


" Ugh, bau sekali tubuhmu Tuan, " desis Kinara lagi sambil menahan rasa mual yang tiba - tiba bergejolak dalam perutnya.


Dengan cepat sosok tinggi dengan pakaian sangat kumal segera mundur.

__ADS_1


" Hah, beruntung aku masih hidup, Kin. Kau ? Bagaimana bisa terjebak dengan laki - laki brengsek ini, Kin ? " tanyanya ingin tahu. " Ehm, bagaimana juga kamu bisa sampai tempat ini ? Bukankah Alexander menjagamu dengan ketat ? "


" Stop ! Jangan bertanya lagi, Tuan ! "


" Kurang ajar, Kau tidak mau menjawab pertanyaanku ? "


" Maaf, Tuan ! Bersihkan dirimu dahulu ! Aku hampir muntah mencium bau tubuhmu. Memang sudah berapa lama tak mandi ? Tidak mungkin seorang dokter mengabaikan kebersihan kan ? Segeralah mandi, Tuan ! Sebelum si Arkanzaz sadar dari pingsannya. Aku akan membuat makanan dengan cepat. Mumpung juga teman - teman si brengsek Arkanzaz belum berdatangan. " ucap Kinara dengan cepat sambil berlalu ke arah dapur.


" Good idea, " cetus laki - laki itu segera bergegas ke arah kamar mandi.


Kinara membuka kulkas dan nampak beberapa sayuran yang masih segar. Ada kol, wortel, daun bawang, jagung dan ayam. Dengan cepat Kinara memasak sup dan ayam kecap.


Setengah jam kemudian, keduanya sudah duduk di depan meja dekat dapur. Semangkuk sup sayuran dan ayam kecap.


" Untung ada baju yang seukuran, " ucap Ryan Juville sambil berjalan menghampiri Kinara di meja makan.


" Lumayan, tidak buruk, " Kinara menilai penampilan Ryan Juville.


" Wow makanan lezat, " ucap Ryan sambil menelan saliva.


" Oh, shhitt. Mengapa tidak memberitahu dari tadi ? "


" Hei pelan - pelan makannya, Tuan ! Seperti tidak makan berminggu-minggu, " cetus Kinara melihat cara makan Ryan Juville yang makan dengan cepat.


" Andai Kau tahu, Kin ? Hidupku susah di tengah hutan. "


Keduanya bergegas menyelesaikan makan mereka. Setelahnya, Kinara membersihkan tempat tersebut dan berniat keluar dari rumah tersebut.


" Ayo, cepatlah ! " Ryan Juville menarik tangan Kinara bergegas keluar dari pintu belakang ketika di dengarnya suara sebuah mobil memasuki pelataran.


" Kita berjalan kaki, Tuan ? Akh yang benar saja ? " Kinara hampir berteriak marah ketika Ryan Juville menariknya ke arah hutan.


" Sssttt, shut up ! " Ryan Juville membungkam mulut Kinara dengan tangan besarnya ketika gadis itu sudah mengomel tanpa henti.


" Jangan berisik ! " Ryan Juville berbisik di telinga Kinara.

__ADS_1


" Emmmhmmm ... . " Kinara berusaha melepaskan tangan Ryan Juville yang membungkam mulutnya.


" Diamlah ! Mereka datang, " bisik Ryan lagi sambil mengarahkan wajah Kinara ke arah mobil yang datang.


Mereka bergerak perlahan sambil menunduk menghindari cahaya lampu di belakang rumah. Ryan Juville membawa Kinara ke tengah hutan ke sebuah gudang tua.


Bunyi binatang hutan mulai terdengar bersautan. Kinara sedikit meremang ketika jalan yang mereka lalui mulai terasa gelap. Hanya mengandalkan cahaya bulan, keduanya berjalan menuju gudang.


" Tuan, kita mau ke mana sebenarnya ? Di sini sangat gelap, saya takut. " cicit Kinara sambil sesekali tangannya mencengkeram kemeja Ryan Juville.


" Ssstt, ikut saja ! Jangan banyak bertanya ! Ayo, cepatlah ! " Ryan Juville menggenggam tangan Kinara dan berjalan cepat.


" Tapi Tuan, "


" Jangan beirisik, Kin ! Cepatlah ! Atau kau mau ditangkap dan dijual oleh Arkanzaz ? " Ryan Juville menarik tangan Kinara dan berjalan dengan cepat ke arah hutan.


Langkah mereka sedikit terseok karena jalanan hutan yang banyak akar pohon yang menonjol. Sesekali Kinara mengaduh karena kakinya tersangkut ranting pohon.


Di dalam rumah.


" Boss ! "


" Oh, shiiiitt. Mereka berhasil kabur. Kejar ! Cari sampai dapat ! "


Daniel Grase menghempaskan kursi dengan kekuatan penuh. Wajahnya nampak semakin dingin dengan aura kemarahan yang semakin mengerikan.


" Kinaraaaaa !! " Daniel Grase berteriak nyaring.


Anak buah Daniel Grase segera berhamburan menyisir seisi rumah. Beberapa nampak menyisir pelataran belakang rumah.


" Kinara !! "


" Tuan, mereka mendekat ! " bisik Kinara dengan tubuh yang gemetar.


" Oh, shittt. Cepat Kin, kita harus sampai gudang ! Ada jeep yang bisa membawa kita ke kota.

__ADS_1


__ADS_2