
Sebuah embusan nafas yang sedikit tercekat terdengar kasar. Kinara mencoba menguasai diri, untuk tidak terlalu ingin tahu. Tetapi hati kecilnya seakan menuntutnya untuk segera membuka buku diary berwarna biru yang kini ada di pangkuannya.
Deg.
Lembar pertama.
*Teruntuk : my princess
Happy birthday sweety,
Tuliskan semuanya di sini,
tentang semuanya,
tentang malam yang indah, bintang, bulan.
Bunga yang bermekaran, tentang sekolahmu atau temanmu yang selalu mengikutimu kemana saja ... .
Tuliskan semua tentang cita - citamu,
mimpimu.
__ADS_1
Bahkan jika alam sedang tak baik, atau
jika kesedihan membuatmu tak bisa berbagi,
tetap tuliskan dengan hati yang riang.
big hug n love
Papa n Mama*
Jantung Kinara seakan mencelos keluar. Tulisan itu seperti pernah dia dengar.
Air mata Kinara leleh membasahi pipinya. Gadis cantik itu terduduk di lantai masih dengan sesenggukan.
Kinara menyusut air matanya dengan punggung tangannya. " Mengapa sulit mengingatnya ? " gumaman Kinara terdengar lirih bersamaan dengan isaknya yang mulai mereda.
" P A P A. " Kinara mengeja panggilan itu.
Buntu.
Tak ada ingatan secuil pun. " Siapakah kamu yang sedang mengusik hatiku ? Dan sering membuat hatiku terasa ketakutan dan perih bersamaan ? P-A-P-A, " gumaman Kinara terdengar parau.
__ADS_1
Tubuh Kinara semakin bergetar. Gadis itu duduk di lantai dengan membelakangi ranjang hingga ia tak sadar jika pria yang terbaring itu sudah sadar dan sedang menatapnya tajam.
***
" Bagaimana perkembangannya ? " seorang wanita dengan gaun seksi bertanya. Ada sebatang nikotin terselip di antara bibirnya yang terpoles lipstik merah menyala. Tubuh rampingnya masih berlekuk sempurna dengan kecantikan yang tak lekang oleh usia.
" Sepertinya Xander sudah sadar, kita akan jalankan plan B. " seseorang pria dengan perawakan kurus tinggi berujar memberi laporan.
" Bagaimana si anak dari keluarga Juville itu ? Apakah dia masih sekarat ? "
" Masih. Ryan Juville dinyatakan koma. Beberapa struktur dalam tubuhnya sudah tak berfungsi. " lapornya lagi.
" Dasar pria tak berguna, " bibir wanita itu berujar diantara sesapan nikotinnya.
" Aku ingin semua hancur tepat bulan depan. Saat peluncuran mega proyek itu, semuanya harus selesai. Klan bawah harus jatuh ke tanganku. Lakukan apapun sebelum Xander sadar dan pulih. " perintahnya sambil berdiri. Gaun merah yang menjuntai ke bawah dengan belahan di batas setengah pahanya memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih.
" Sesuai keinginan Anda Nyonya, " pria itu menunduk hormat.
Wanita itu meraih gelas winenya, menyesap perlahan dan berjalan ke arah jendela besar. " Buat semua keturunan Arzallane mati tak tersisa, " perintahnya tegas. " Mereka harus saling membunuh dan menghancurkan. Dan kita tinggal meraih apa yang seharusnya menjadi bagianku. Kemakmuran Arzallane dan kekuasaan klan itu harus menjadi milikku. "
Wanita itu mendesis kuat dengan urat leher yang hampir menyembul. Memperlihatkan bahwa ada emosi yang sedang ia tahan. " Kau dengar, Josh ? Bulan depan hancurkan semuanya ! Jangan sampai gagal karena aku sudah menunggu sangat lama ... . "
__ADS_1
" Baik, Nyonya. Anda yang terbaik. " sebuah senyum kemenangan tersungging di bibir pria kurus tinggi itu. Pria itu sudah membayangkan kemenangan dari pihaknya. " Semuanya akan berjalan dengan semestinya. Karena akupun sudah membayangkan semua kekuasaan dan nama besar itu menjadi milikku. Aku hanya meminjam kekuasaanmu Nyonya, jika waktunya tiba kau pun akan aku hancurkan sampai tak bersisa. Hingga hanya aku saja sang tuan besar pemilik Klan bawah. hahaha ... . " batin Josh, pria kurus tinggi itu dengan wajah yang mulai berbinar.