
Beberapa ekor harimau tampak mendekat dengan geramannya yang membuat bulu kuduk berdiri.
Jari yang sempat bergerak perlahan tadi nampak terdiam
Ggggrrrr. Gggguuuarrr.
Harimau mengendus santapan teratas pada tumpukan mayat dan dengan gigi tajamnya menarik seseorang, kemudian membawanya lari menjauh memasuki hutan lebih dalam.
Harimau kedua juga mengendus mangsa pada tumpukan mayat di bawah pohon, kemudian berjalan mengelilingi mangsa sambil terus menggeram kelaparan. Selanjutnya harimau tersebut menarik kaki seseorang dan mengoyaknya lalu membawanya lari masuk ke dalam hutan.
Suasana kembali lengang. Hanya terdengar sesekali suara burung pemangsa dari kejauhan.
Jari seseorang tampak bergerak lagi. Sepertinya ada seseorang yang masih hidup dari tumpukan mayat tersebut.
" Ukh, " terdengar suara seseorang mengerang menahan beban.
Dengan susah payah tumpukan mayat itu bergeser dan berjatuhan.
" Akh, " seseorang menghela nafas lega ketika beban yang menindihnya berjatuhan.
Bau anyir darah dan bau busuk khas mayat menyergapnya dengan cepat dan hampir membuatnya mengeluarkan semua isi perutnya.
" Huueekk, " laki - laki itu memuntahkan isi perutnya yang kosong.
" Akh, awww ... . " laki - laki itu mencoba berdiri, tapi rasa remuk di seluruh tubuh bahkan ulu hatinya terasa sakit bahkan perih yang teramat sangat. Laki - laki itu meraba bagian perutnya.
" Awww, sh**it ! Ternyata si brengsek itu menusuk perutku. " ucapnya merintih sambil meraba tubuhnya. Beberapa luka mulai mengering tetapi masih menimbulkan rasa nyeri dan ngilu yang luar biasa.
" Akh, " teriaknya kaget.
Gggrrr. Gggrrr.
Seekor harimau dengan liur menetes tampak menggeram. Laki - laki itu tidak menyadarinya, hingga geraman kasar itu sampai ditelinganya.
" Oh sh*it ! " reflek dengan kaget Ryan Juville bergerak hampir terjatuh diantara tumpukan mayat yang sudah mulai membusuk.
Dengan kesakitan yang teramat, Ryan Juville meraih dahan pohon yang menjuntai dan dengan sekuat tenaga berusaha naik ke atas batang pohon diatasnya melalui dahan yang menjuntai.
" Awww, " Ryan Juville menahan sakit pada perutnya yang terkoyak. Darah kembali merembes dari lukanya
Harimau menggeram dengan buasnya. Bau darah menjadi daya tarik tersendiri bagi indera penciumannya. Dengan langkah mengintimidasi, harimau itu berjalan mendekat. Mata tajamnya menatap dengan lapar.
__ADS_1
Ada sorot ketakutan dari mata Ryan Juville, tangannya masih berusaha meraih dahan lain yang lebih tinggi untuk bisa naik ke atas batang pohon yang lebih kokoh.
" Oh sh*it, haruskah hidupku berakhir di tangan seekor harimau sialan ini ? Masih beruntung, aku bisa keluar dari sarang orang gila, tapi sekarang ... oh no, akh kenapa jauh sekali juntaian dahan itu, " gumam Ryan Juville sambil mengambil ancang - ancang untuk melakukan lompatan pada juntaian dahan di atasnya. Jika keberuntungan masih ada di pihaknya sepertinya bisa naik dengan sekali lompatan, jika gagal di bawah sana ada seekor harimau siap mengoyak tubuhnya.
" God, beri kesempatan hidup sekali lagi ! "
Hup.
" Awwww, " Ryan Juville hampir jatuh. Untung tangannya cepat meraih juntaian dahan disebelahnya.
Jantungnya berdegub dengan kencang bersamaan rasa sakit yang teramat pada bagian perutnya. Sepertinya luka tusukannya kembali terbuka.
Di bawah pohon, seekor harimau tampak sedang menggeram dengan sesekali memperlihatkan taringnya yang tajam.
Sekali lagi Ryan Juville mencoba meraih dahan yang lebih atas. Dengan sekali mengayunkan tubuhnya, Ryan Juville melepaskan genggaman pada dahan yang tadi di cengkeramnya kuat dan meraih dahan lain dengan sedikit melentingkan tubuhnya.
" Yap, berhasil. "
Harimau menggeram dengan buas sambil melompat berusaha menangkap pergerakan tubuh Ryan Juville yang sedang melompat.
Brukkk.
Ggggrrrrr. Geramannya membuat hati berdesir.
Ryan Juville mencengkeram dahan pohon dengan kuat.
Harimau menggeram dengan buas. Matanya yang tajam menatap tubuh mangsanya dengan sangat kelaparan. Sesekali cakarnya yang tajam menggaruk kulit pohon untuk berusaha naik ke atas.
Ryan Juville dengan jantung yang berdetak sangat keras memeluk dahan pohon dengan tubuh bergetar. Tubuhnya sangat lemas dengan rasa ngilu yang teramat sangat di bagian perutnya. Darah kembali menetes dari lukanya.
Hatinya masih berdesir ngilu karena hampir saja harimau itu bisa meraihnya jika tangannya tak segera bisa mencapai juntaian dahan pohon.
Tiba - tiba Ryan Juville merasakan tubuhnya semakin melemah. Matanya mengabur bersamaan dengan tubuhnya yang terkulai di atas pohon. Dirinya tak sadarkan diri.
***
Keesokkan hari ... .
Di lain tempat di ruang perawatan nampak Kinara masih terbaring. Tubuhnya telah selesai dilap oleh Suster perawat, sudah berganti gaun warna biru laut yang sangat nyaman ditubuhnya.
Dengan sandaran kepala yang sedikit ditinggikan, Kinara menerima suapan demi suapan semangkuk bubur. Bibirnya sesekali tersenyum ketika mendengar cerita lucu dari Suster Shella Seine.
__ADS_1
" Terima kasih, Nona. Anda sudah menghabiskan sarapan pagi ini. " ucap Suster Shella Seine dan menunjukkan mangkok bubur yang kosong. Senyumnya mengembang dan sebuah acungan jempol diarahkan kepada Kinara.
Kinara sedikit terperangah, wajahnya bersemu merah. Perut ratanya memang sudah lama tidak merasakan makanan. Rasanya sangat lapar ketika menghirup harum bubur dengan campuran sayur dan kaldu ayam yang gurih.
" Ehhemm ... . " Kinara mencoba berdehem. Tenggorokannya sudah nyaman walau belum mampu mengeluarkan suara seperti biasanya.
" Saya akan menyuntikan obat, Nona. Sedikit sakit tapi rasanya hanya seperti gigitan semut, " Suster Shella mendekati Kinara dengan jarum suntik yang siap di tangannya.
Kinara hanya mengangguk samar. Lehernya masih terasa kaku, tapi tidak sesakit beberapa hari lalu.
Dunia Kinara nampak cerah. Senyumnya beberapa kali mengembang dengan sempurna.
" Selamat pagi, Nona ! " Seseorang menyapa Kinara dengan senyum yang tak biasa begitu langkah kakinya mendekat di samping ranjang.
Kinara mengerjap sejenak dan menoleh ke arah sumber suara.
" Selamat pagi Sekretaris Han, " Suster Shella membalas sapaan Han Liu sambil menundukkan kepala dengan hormat.
Han Liu hanya mengibaskan tangannya sejenak ke arah Suster Shella tanpa memandangnya.
" Saya permisi ke ruangan sebelah, Nona, Sekretaris Han. " Suster Shella menunduk hormat dan keluar ruangan.
Han Liu menatap sejenak wajah cantik di hadapannya. Jantungnya berdegup dengan keras.
Han Liu menatap Kinara dengan sorot mata penuh kekaguman. Menyadari perasaan yang tak biasa muncul, Han Liu segera mengubah pandangan matanya.
" Anda tampak mulai membaik, Nona. " puji Han Liu.
Han Liu meraih tangan Kinara dan menggenggamnya dengan kekuatan penuh. Seakan menyalurkan banyak perasaan yang sedang berkecamuk dihatinya.
" Berjuanglah untuk tetap hidup dan menjadi sembuh ! Karena kesembuhan hanya untuk orang yang hidup dan mau berjuang. "
" Ehm, maafkan saya, Nona ! Saya tidak bermaksud kurang ajar dengan Anda. " dengan tergesa Han Liu melepaskan genggaman tangannya.
Kinara hanya mengerjapkan matanya. Sebuah senyum manis tersungging.
" Nanti siang akan ada beberapa dokter yang akan memeriksa kondisi kaki dan tangan Anda, Nona. Dan saya harap apapun hasil pemeriksaan nanti, Anda tetap tenang. Karena saya akan berusaha dengan semua kemampuan saya untuk membantu kesembuhan Anda. Saya akan mencarikan Anda dokter yang handal yang akan membantu pemulihan kaki dan tangan Anda. Anda pasti bisa sembuh. " ucap Han Liu tulus.
😎 terima kasih sudah dukung penulis, tetap like, rate, koment, vote or gift ya..
~ terima kasih all ~
__ADS_1