
" Huan, pastikan pengawasan atas Nona Kinara diperketat. Awasi Dokter Zalline. Jika masih ceroboh ganti dengan Dokter lain. " ucap Han Liu memerintah.
Han Liu terus melangkah menuju box besi diujung ruangan untuk membawanya turun.
Sesampainya di lantai 3, Han Liu keluar dari lift, menuju rumah utama. Kaki panjangnya menuju ruang kerja Alexander.
Tanpa waktu lama Han Liu sudah keluar ruangan lagi dengan beberapa dokumen dan tas kerja di tangannya.
Sampai di halaman mansion, Han Liu segera masuk ke dalam mobil sportnya, memacu dengan kecepatan tinggi menuju Arzallane corp di kawasan Elite.
***
Di kamar perawatan Kinara.
" Selamat pagi Nona Kinara, Anda mendengar saya berbicara ? " sapa seorang Dokter cantik yang coba sedang membangunkan pasiennya.
" Nona, bukalah mata Anda sebentar ! Saya tahu Anda sudah sadar dan bisa mendengar saya berbicara." ucap Dokter Zalline sambil menyentuh lembut lengan Kinara yang masih asyik dengan dunia mimpinya.
Bulu lentik mata itu terbuka dengan perlahan, lalu mengerjap berulang kali untuk menyesuaikan dengan cahaya disekitarnya.
" Ughh ... . " satu ******* lolos ketika Kinara mencoba bergerak.
Rasa remuk pada setiap tulang dan perih di beberapa bagian tubuhnya masih terasa sangat menyakitkan.
" Selamat pagi Nona, " ucap Dokter Zalline mengulangi sapaannya.
" Perkenalkan, nama saya Zalline Rachel. Anda bisa memanggil saya Zalline. " ucap Dokter Zalline sambil menyentuh tangan Kinara dan menggenggamnya perlahan.
" Saya diminta Sekretaris Han Liu untuk merawat Anda, Nona. Dan ... mari kita berteman. " Dokter Zalline kembali berucap dengan riang.
__ADS_1
Kinara hanya mengerjapkan matanya. Tenggorokannya masih terasa kering dan sulit untuk mengeluarkan suara.
" Apakah Anda bisa mendengar suara saya, Nona ? Jika bisa, bisakah Anda menjawab atau mengangguk supaya saya bisa mengetahui kondisi Anda, Nona ? " suara Dokter Zalline masih terdengar lembut.
Kinara menoleh perlahan ke arah sumber suara. Kepalanya terasa pening.
Matanya menjadi kabur. Kinara mengerjapkan mata berulang kali. Menolehkan kepala saja terasa sakit sekali pada lehernya. Bergerak pun terasa sangat sulit.
Kinara hanya mendesah perlahan. Menghela nafas pasrah. " Sepertinya aku benar - benar lumpuh. Tangan dan kakiku tidak bisa bergerak. Oh Tuhan. Aku harus bagaimana ini. Tidak. Aku harus sembuh. Aku tidak mau menjadi gadis lumpuh. Ayah. Okh ... no. God help me ! "
Kinara menutup mata kembali, mencoba menenangkan hatinya yang kacau karena menyadari dirinya lumpuh.
" Bagaimana aku harus hidup dan keluar dari tempat ini ? Akh ... Jefri Arkanzaz, Kau sudah menghancurkan hidupku. " Kinara membatin dengan kesal.
" God, help me ! " Kinara berdoa dalam hati.
" Anda menangis, Nona ? " Dokter Zalline bertanya sambil meraih kotak tissue dan menghapus jejak air mata di sudut mata Kinara.
Dokter Zalline menatap tubuh tak berdaya pasiennya. " Gadis yang manis. " batinnya memuji.
" Anda sangat cantik, Nona Kinara. " Puji Dokter Zalline.
" Saya yakin Anda adalah seorang gadis yang kuat dan pemberani. " sebuah senyum tersemat di wajah Dokter Zalline.
" Maaf, Nona. Saya akan membersihkan tubuh Anda dan mengganti baju Anda. " Dokter Zalline meminta ijin membuka baju yang dikenakan Kinara.
Tangan Dokter Zalline dengan cekatan membuka baju yang dipakai Kinara. Kemudian dengan lembut Dokter Zalline membersihkan tubuh yang penuh luka itu dengan handuk basah, dan mengeringkan dengan handuk kering. Setelah tubuh Kinara kering, Dokter Zalline mengoleskan salep pada beberapa luka di tubuh Kinara. Kemudian Dokter Zalline mengenakan sebuah gaun yang meresap keringat pada tubuh Kinara.
Semua dilakukan dengan cekatan dan hati - hati oleh Dokter Zalline.
__ADS_1
Dokter Zalline menghembuskan nafas, sedikit terengah. Sekalipun tubuh Kinara lebih kecil darinya, tetap saja membutuhkan tenaga ekstra untuk membolak balik tubuh itu dan mengenakan baju dengan benar.
Kinara merasa tak enak hati, lalu mengerjapkan matanya dan tersenyum untuk mengucapkan terima kasih.
" Ugh, hanya untuk membersihkan tubuh dan memakai baju saja aku harus dibantu orang lain. Ya Tuhan, " Kinara mengeluh dalam hatinya. Ada perasaan marah, kecewa dan tidak terima atas kondisinya saat ini.
Dokter Zalline tersenyum lembut. " Tenangkan pikiran Anda, Nona ! Sekalipun ada banyak ketakutan dan kekhawatiran di hati Anda, tetaplah tenang ! Itu akan mempercepat kesembuhan Anda ! " Dokter Zalline menyentuh tangan Kinara dan mengusapnya perlahan seakan sedang menyalurkan energi positif pada Kinara.
Kemudian dengan perlahan Dokter Zalline menumpuk beberapa bantal di belakang kepala Kinara.
" Saya akan menyuapi Anda, Nona. Berusahalah membuka mulut Anda perlahan, Nona ! " ucap Dokter Zalline lagi sambil mendekatkan sendok bubur ke bibir Kinara.
Dengan susah payah Kinara membuka mulutnya yang masih terasa kaku, menelan bubur yang langsung menghangatkan tenggorokannya.
Kinara membasahi bibirnya dengan lidahnya. Rasa tidak nyaman kembali menyerang pada tenggorokannya.
" Anda baik - baik saja, Nona ? " Dokter Zalline berusaha memastikan kondisi Kinara setelah gadis itu menerima suapan buburnya.
Kinara mengerjapkan mata lagi mencoba mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja.
Dokter Zalline kembali menyuapkan beberapa sendok bubur ke dalam mulut Kinara.
Kinara mengerjapkan matanya lagi untuk meminta Dokter Zalline menghentikan suapannya.
" Anda sudah kenyang, Nona ? " Dokter Zalline menghentikan suapannya dan meraih tissue untuk membersihkan sisa makanan pada sudut bibir Kinara.
" Saya akan memberikan beberapa obat dan menyuntikan pada selang infus Anda, Nona. Rasanya sedikit sakit tapi tidak apa - apa. Hanya seperti gigitan semut. " Ucap Dokter Zalline menenangkan saat mendapati mata Kinara mengerjap takut melihat jarum suntik.
" Ok. Nona. Saya akan keluar sebentar untuk ke Rumah Sakit Pusat. Saya akan mencoba menghubungi Dokter Orthopedi untuk pemeriksaan Nona selanjutnya. Saya akan meninggalkan Nona sendiri. Tapi sebentar lagi ada perawat yang datang yang akan menjaga Nona. " Dokter Zalline pamit dan menyentuh kembali tangan Kinara.
__ADS_1
" Anda pasti sembuh, Nona ! " ucap Dokter Zalline lagi.