
Pedro duduk menghadap layar cctv. Matanya menyorot tajam memperhatikan pergerakan di beberapa bagian manshion. Dari layar selebar dinding, Pedro mengawasi beberapa maid yang nampak sedang mengerjakan tugas seperti biasa membersihkan kaca, lantai di ruang tamu, membersihkan tangga dan semua perabot. Bagian dapur pun menampilkan beberapa maid yang bertugas disana yang sibuk menyiapkan makan siang. Bagian luar manshion juga nampak beberapa pekerja sedang membersihkan kebun dan kolam.
Pedro menegakkan tubuhnya yang mulai pegal, tetapi matanya masih awas memperhatikan pergerakan setiap orang di setiap ruangan di seluruh bagian manshion. Feelingnya mengatakan ada hal yang aneh yang sedang terjadi di manshion ini.
" Nah apa itu ? " Pedro melebarkan matanya. Ada pergerakan yang mencurigakan di dalam ruang kerja yang baru saja ditinggalkan Han Liu dan dirinya tadi.
Seorang di ujung ruangan sedang mengamati layar di atas meja. Tetapi sebuah pergerakan di bawah meja nampak terlihat aneh. Dari layar nampak tangan orang tersebut sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Sedangkan matanya tetap menatap layar komputer, tangan kanannya sedang bergerak di atas keyboard di atas meja.
" Mengapa mengetik di bawah meja ? " ucap Pedro bermonolog.
Pedro memperbesar tangkapan layar dan akan mengirimkan chat kepada Han Liu. Tapi ada yang aneh dengan mata dan tubuhnya.
Pedro mengerjapkan mata berulang kali, matanya sedikit kabur dan kepalanya berdenyut nyeri.
Pedro mengawasi lagi layar cctv dengan kepala berdenyut. Tiba - tiba rasa pening menyerang dengan sangat. Tubuhnya menegang seketika merasakan ada sesuatu yang terasa menusuk - nusuk di ulu hatinya.
Pedro berulang kali mengerjapkan matanya, ada yang aneh pada tubuhnya. Keringat sebiji jagung mulai membasahi tubuhnya. Tubuhnya mulai bergetar. Kepalanya semakin nyeri dan matanya mulai mengabur. Dengan sedikit gemetar Pedro meraih ponsel di sakunya, dan menuliskan sebaris kata kepada Han Liu.
Ponselnya berkedip sebentar.
Pedro mengerang sesaat. Matanya terasa pedih dan sakit. Ulu hatinya menusuk perih.
Ponsel kembali berkedip tapi Pedro terlanjur luruh tertelungkup di atas meja seperti tak bertenaga.
Mulutnya mengeluarkan buih. Matanya melotot seperti akan keluar dari ceruknya.
***
Di salah satu ruangan di menara pemantau, sama seperti hari kemarin, nampak seorang gadis masih dengan tubuh lemahnya terbaring di atas ranjang dengan selang infus yang masih menancap di tangannya.
Wajah gadis itu masih sedikit pucat. Bulu matanya yang lentik masih tertutup rapat.
Suasana nampak hening hanya terdengar detik jam dan panel control dari alat detak jantung.
Gadis itu mengerjap perlahan ketika kesadarannya pulih. Bulu mata lentiknya bergerak perlahan.
Gadis itu mengerang perlahan. Ada rasa nyeri di kaki dan tangannya yang dirasakannya ketika berusaha bergerak.
" Selamat siang Nona, " sapa Dokter Merrzy Arzulla ketika menyadari gadis itu mulai sadar dan mencoba bergerak.
" Tenanglah, Nona ! Jangan panik ! " Dokter Merrzy Arzulla mencoba menenangkan Kinara ketika mata gadis itu bergerak gelisah.
" Saya akan memeriksa Anda, " tangan Dokter Merrzy Arzulla bergerak cekatan memeriksa suhu tubuh, denyut nadi bahkan tekanan darah Kinara.
__ADS_1
" Kondisi Anda mulai membaik, Nona. " ujar Dokter Merrzy menenangkan.
" Anda hanya diharapkan tetap tenang, menjaga pikiran Anda supaya Anda bisa berpikir positif. Minimal dengan pikiran yang positif akan dapat membantu 50% pemulihan Anda. "
" Kata pepatah hati yang gembira adalah obat, semangat yang patah keringkan tulang, " sambung seorang perawat dengan senyum di bibirnya. Tangannya dengan cekatan mempersiapkan baskom air dan handuk.
Kinara hanya menghela nafas.
Bulu mata lentiknya mengerjap perlahan.
" Nah benar itu, Suster, " senyum Dokter Merrzy Arzulla memgembang.
" Maaf Nona, saya akan membersihkan tubuh Anda dan mengganti baju Anda. " ucap Dokter Merrzy Arzulla lembut dengan menyentuh ujung tangan Kinara.
Kinara sekali lagi mengerjap perlahan. Tenggorokannya terasa kering.
Dengan telaten Dokter Merrzy Arzulla membersihkan seluruh tubuh Kinara dibantu oleh seorang perawat.
Tak sampai satu jam, tubuh Kinara nampak sudah segar dengan gaun warna peach yang manis.
Kinara sedikit jengah dengan apa yang dilakukan Dokter Merrzy dan perawat itu, tapi bagaimana lagi tangan dan kakinya belum dapat digerakkan.
" Permisi Nona, Saya bawakan bubur hangat. " Seorang maid masuk setelah mengetuk pintu.
" Saya harap Anda bisa menghabiskan bubur ini, supaya perut Anda terisi makanan. "
Dokter Merrzy Arzulla menyuapkan bubur dengan hati - hati.
Setelah beberapa suapan, Kinara menggeleng perlahan. Perutnya terasa penuh.
" Anda sudah kenyang, Nona ? " tanya Dokter Merrzy Arzulla.
" Ini belum separuhnya, " ucap Dokter Merrzy sambil menunjukan isi mangkok.
Kinara menggeleng dengan perlahan. Lehernya teramat ngilu sekali.
" Baik. Lain kali harap dihabiskan Nona. Ini demi kebaikan Nona. " lanjut Dokter Merrzy Arzulla.
Seorang perawat kembali memasuki ruangan.
" Saya akan keluar sebentar Nona, setengah jam lagi saya kembali. " pamit Dokter Merrzy Arzulla setelah melihat ada beberapa notifikasi dari ponselnya.
" Saya tinggal ke ruangan sebelah, Suster. Tolong jaga Nona Kinara dengan baik dan jangan tinggalkan sendirian ! " ucap Dokter Merrzy diplomatis.
__ADS_1
Dokter Merrzy beranjak berdiri, melangkah perlahan ke arah sebuah kotak musik dan menekan tombol play sebelum langkahnya keluar dari ruangan.
Sebuah musik mengalun perlahan memenuhi ruangan. Suasana menjadi lebih syahdu.
Kinara berulang kali mengerjapkan matanya untuk mengusir bayangan - bayangan yang sedang menari - nari di pelupuk matanya.
Pikirannya sebenarnya sedang gelisah Entah perasaan apa yang sedang menyerangnya, tapi pikirannya dipenuhi sosok lelaki yang beberapa waktu lalu mencekiknya.
" Anda sedang mengkhawatirkan seseorang, Nona ? " suara seorang perawat mengagetkannya.
Seorang perawat yang tadi membantu membersihkan tubuhnya sudah berdiri disampingnya dengan senyum mengembang.
Kinara mengerjapkan matanya dan tersenyum kikuk.
Perawat itu tersenyum ramah.
" Perkenalkan nama saya Shella Seine, Nona. Saya akan mendampingi Dokter Merrzy Arzulla untuk merawat Anda, Nona. Salam kenal, " ucap Shella Seine dengan menyentuh tangan Kinara.
" Saya akan merawat dan membantu Anda supaya Anda dapat pulih dengan segera Nona. Saya yakin Anda pasti sembuh. " Tangan perawat itu menggenggam dengan lembut tangan Kinara.
" Lusa kita akan chek up semua kondisi Nona di Rumah Sakit Pusat, untuk memastikan apakah Anda lumpuh permanen atau temporer. Apapun hasilnya, saya harap Anda tetap tenang Nona. Sehingga Dokter bisa menentukan jenis terapi selanjutnya. " lanjut Shella Seine.
Kinara terpaksa tersenyum sekalipun hatinya hambar. Pikirannya meracau kemana - mana.
Bayangan laki - laki itu tak juga hilang.
***
Di belahan negara lain, di tengah hutan yang mengerikan.
Suasana siang sama mencekamnya dengan malam hari. Sinar mentari tidak menembus rindangnya pepohonan. Terdengar burung bercicit di dahan - dahan pohon.
Di bawah sebuah pohon besar dengan akar - akar pohon yang menonjol nampak setumpuk mayat manusia yang mulai tercium bau busuk.
" Akh ... . " Sebuah erangan lirih terdengar dari arah tumpukan tubuh - tubuh manusia yang mulau tercium bau busuk.
Nampak sebuah jari bergerak perlahan sepertinya tengah berjuang untuk keluar dari tumpukan tubuh - tubuh manusia yang menindihnya.
Gggrrrrr. Ggggrrrr.
Terdengar suara harimau menggeram perlahan sambil mendekat ke arah tumpukan tubuh - tubuh manusia.
Bau anyir darah tercium. Mengundang beberapa predator dengan mata tajam dan taringnya yang kuat mendekat, mencari mangsa sebagai santapan mereka.
__ADS_1