Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 62 Pembalasan


__ADS_3

Kinara hanya mendengus kesal. Reflek tangan Kinara akan menarik ujung celana laki - laki disampingnya tetapi lagi - lagi Kinara hampir menjerit histeris ketika dirasa dahan yang diduduki bergoyang.


Kinara sedikit mengangkat kakinya. Perutnya terasa mulai sakit.


" Ukhh, harus kuat. Jangan sakit ! Kinara ayo kamu bisa. " Kinara menguatkan hatinya.


Kinara mencoba melihat dalam kegelapan. Matanya menajam tapi ternyata tetap tak biasa melihat apapun. Suasana sangat mencekam khas hutan di malam hari. Suara berisik binatang hutan pun mulai menghiasi malam menuju tengah malam.


Dikejauhan terdengar sayup - sayup lolongan serigala yang membangkitkan bulu kuduk.


Kinara masih memeluk erat pohon dan mulai memejamkan mata. Pikirnya sekalipun membuka matapun dirinya tak melihat apapun, jadi mungkin dengan menutup mata akan membuatnya terlelap.


Beberapa detik berlalu, bukannya terlelap tetapi banyak bayangan berkelebat dalam pikirannya.


" Akh, " Kinara menghela nafas berat berusaha mengusir bayangan - bayangan mengerikan yang muncul di pelupuk matanya.


" Tuuuann ...bangun ! Saya takut, " Kinara susah payah membangunkan lelaki yang sudah asyik dengan alam mimpinya.


Kinara tergugu tak bisa memejamkan mata, tubuhnya masih menegang menahan rasa takut. Beberapa kali nampak Kinara menghela nafas kesal karena dihadapkan pada situasi yang sulit dan menegangkan.


" Tuan, bangun ! Jangan tidur ! Aku tidak bisa tidur, " Kinara merengek mencoba membangunkan Ryan Juville.

__ADS_1


Ayah, di mana Ayah sekarang ? Kinar rindu. gumam Kinara teringat ayahnya.


Banyak hal yang terjadi setelah Ayah pergi. Ibu yang pergi dengan meninggalkan hutang yang sangat banyak hingga Kinara harus berhubungan dengan Jefri Arkanzaz. Belum lagi sekarang Kinara menjadi pencarian orang - orang yang berbahaya. Sebenarnya ada apa Ayah ? Apa ada yang Ayah sembunyikan dari Kinara ?


Kinara masih berpikir dan mengaitkan semua kejadian dalam hidupnya.


" Tuan, bangun ! Jangan tidur ! Aku tidak bisa tidur, " Kinara merengek mencoba membangunkan Ryan Juville.


Tapi yang bersangkutan masih tetap memejamkan mata, bahkan terdengar dengkur halus.


***


Pada hari yang sama di sebuah Rumah Sakit nampak seorang laki - laki dengam seragam lengkap seorang perawat sedang mendorong brankar dengan seorang pasien wanita di atasnya menuju sebuah ruangan yang terletak paling ujung di koridor sayap kiri.


Laki - laki tinggi tegap dengan masker menutupi sebagian wajahnya beberapa kali nampak menoleh ke arah belakang, seakan takut seseorang sedang mengikutinya. Langkahnya tergesa dan dengan cepat mendorong brankar menuju ruangan yang dituju di sayap kiri.


Tangan kokohnya dengan cepat mendorong brankar dan membelok di sisi kiri memasuki sebuah ruangan dengan palang pintu berwarna merah.


Lelaki berseragam perawat lengkap itu segera meletakan brankar dengan seorang wanita yang lemah. Wajahnya tampak pucat dengan kulit yang sedikit membiru. Terlihat urat - urat mulai menonjol di permukaan kulitnya.


Sesekali wanita tersebut mengaduh kesakitan dengan suara yang sangat lirih. Sepertinya wanita tersebut sudah mulai kehilangan tenaga dan kesadarannya.

__ADS_1


Senyum licik jelas tercetak di ujung bibir pria tersebut. Di sisi kanan terdapat lemari pendingin dengan beberapa kotak yang di dalamnya terdapat beberapa tabung kecil serum.


Lelaki tersebut membuka kotak kaca dengan tabung berwarna biru jernih, mengambil alat suntik dan langsung menyuntikan seluruh cairan ke tubuh wanita itu.


" Aaarrgh, " wanita tersebut nampak mendesis lirih. Ada nada kesakitan dari suaranya.


Tak sampai hitungan menit, nampak ada reaksi yang terlihat pada wajah wanita tersebut. Wajah wanita tersebut semakin memucat, putih seperti kapas, dengan bola mata yang hampir keluar dari tempatnya. Mulutnya terbuka tanpa bisa berkata - kata. Tangan lemahnya mencoba menggapai lengan pria yang berseragam perawat teraebut. Tetapi dengan sekali kibasan tangan sang wanita kembali teejatih di sisi tubuhnya tanpa daya.


Lelaki berseragam perawat tersebut hanya tersenyum mengejek, matanya menatap tajam dengan aura membunuh yang mulai menguar dari tubuhnya.


" Aku pastikan, semua terbalas setimpal dengan apa yang kalian lakukan. " bisiknya perlahan di sisi telinga sang wanita.


Wanita tersebut hanya sesekali menggeliat menahan rasa sakit yang tak terperi pada sekujur tubuhnya. Urat - urat pada permukaan kulitnya mulai mencuat dan kulitnya mulai membiru dan mulai terlihat mengering. Ada keriput - keriput yang mulai terlihat di wajahnya.


" Aaarghhh, aapp...aa ya..ng ka..u be..ri..kan pa...da..ku ? " suara lemahnya di sisa tenaganya bertanya pada sang pria.


" Sesuatu yang menyenangkan, yang dulu pernah kau berikan pada Albert Arzallane ... . " bisik pria tersebut seraya menancapkan jarum dari selang infus ke pergelangan wanita tersebut.


Wanita tersebut memekik tertahan dengan suara yang semakin lemah. Wanita tersebut mulai memucat lagi karena tubuhnya terasa semakin lemah dan dirinya merasa tidak bisa menggerakan anggota tubuhnya.


Wanita tersebut menatap penuh kebencian pada lelaki di hadapannya yang masih sibuk dengan beberapa tabung kecil dan beberapa kali menyuntikan isinya ke dalam selang infus.

__ADS_1


" Pembalasan selalu lebih kejam, Dominic. "


__ADS_2