Tuan Besar

Tuan Besar
Bab. 106


__ADS_3

Tubuh Kinara meremang sesaat, ada bayang ketakutan yang membuat sinyal di tubuhnya menjadi siaga. Kinara bergetar, " Daddy, " bisiknya lirih.


Ingatan Kinara melintas hingga usia kanak - kanak. " Tunggu, " bisiknya lirih kepada dirinya sendiri, " Suara mereka terdengar berbeda ... Akhhh, "


Tiba - tiba Kinara menyandarkan kepalanya di tepi ranjang dengan bibir pucat dan tangan bergetar, gadis itu menggeleng - gelengkan kepalanya. Ada rasa nyeri di kepalanya yang tiba-tiba menderanya. Ingatannya berloncatan menjadi potongan - potongan puzzle yang masih terlihat acak.


" No, tidak !!? Akh, "


Brugh.


Tubuh Kinara terguncang hebat, tangisnya mulai pecah dengan sesengggukan yang berat hingga membuat dadanya sesak.


Hingga,


Akhirnya tubuh ramping itu ambruk di pinggir ranjang, tak sadarkan diri.


***


Di tempat yang berbeda,

__ADS_1


" Tuan, saya sudah menyusupkan seorang maid ke dalam mansion Xander, kita bisa perhitungkan mungkin tiga sampai lima hari, maid itu akan membawa gadis itu keluar dari mansion, " lapor seorang pria dengan jas hitamnya. Matanya terbingkai kaca mata hitam. Wajahnya tertutup masker.


" Good. Ingatkan untuk tidak gegabah ! Dan laporkan detail setiap hari. Aku tidak mau kehilangan gadis itu. Gadis itu harus berada di tanganku, apapun caranya. Pastikan itu Gee ! " Seorang pria duduk di ruangan tertutup dengn pencahayaan yang minim.


" Wanita itu harus membayar segala kesakitan ini sampai seluruh keturunannya hancur, " ujarnya sarkas penuh dengan dendam.


" Sesuai perintah Anda, Tuan. " jawab sang anak buah dengan ketundukan penuh kepada bossnya.


" Periksa sistem kinerja chip itu pada Xander. Pria itu juga harus menanggung rasa yang sama. Semua keturunan Arzallane harus merasakannya dan semua kedudukan di klan bawah harus kembali ke Holes, " sebuah gertakan gigi terdengar menahan emosi. Tekad yang sudah terbangun dengan dendam menahun menjadi minyak pelumas untuk bertahan di sisi gelap klan selama ini.


" Permisi, Tuan Thomas. " Seorang kepala pelayan nampak menundukkan kepala menginterupsi pembicaraan kedua pria beda jabatan itu.


" Ada apa Bas ? " tanya Gee Siu kepada pria yang dipanggil Bas.


" Ada Tuan Aljendro menunggu di- "


" Hai, Thom, apa kabarmu ? "


Seorang pria tinggi dengan rambut yang melebihi bahunya, terikat rapi sedang melangkah masuk dan tanpa sungkan duduk di atas sofa dengan tatapan mata menilai seluruh penjuru ruangan.

__ADS_1


" Akh, maaf Tuan Aljendro, Anda tidak dapat sembarang masuk jika tidak- " seru kepala pelayan begitu menyadari bahwa sang tamu sudah memasuki ruang kerja majikannya dan telah duduk tenang di atas sofa.


" Terlambat, " jawab pria itu angkuh.


" Pergilah ! " sahut sang majikan dengan mengibaskan tangan kirinya untuk meminta sang kepala pelayan segera keluar dari ruangan.


" Apa kabarmu, sahabat ? Apakah kau sudah tak ada pekerjaan hingga di jam kerja Kau bisa berjalan - jalan hingga sampai ke kantorku ? " ujar pria itu memprovokasi sang tamu.


" Berikan gadis itu kepadaku, Thom ! Dan kau dapatkan megacity sebagai proyek akhir tahun untuk menjadi pemimpin klan bawah secara independen. "


" Wow, tawaran yang sangat besar dan sangat menggiurkan. " sebuah tepuk tangan riuh bergema si ruangan itu. Aura dingin jelas tercetak di dalamnya.


" Kau pikir aku tidak menginginkan gadis itu, jangan minta makanan pada pemangsa, Al ! Kau tahu aku tidak pedulu dengan proyek megacity itu, Aku hanya peduli jika gadis itu menjadi milik kepunyaanku. " tandasnya kemudian.


" Aku hanya memperingatkan kamu ! " Tunjuknya dengan suara berat dan sarat ancaman, " kamu ! Untuk tidak mengganggu atau mencelakai gadisku ... . "


" Hahahaha ... Jangan melucu di hadapanku, Aljendro ! Kau tahu dendamku yang sudah mendarah daging ini, apapun akan ku lakukan agar mereka membayarnya -- Lunas. " Pria bernama Thomas itu nampak mulai terlihat emosional.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2