
Tetes demi tetes darah mengalir dari hidung Nilam membasahi sprei. Bau amis menyengat merebak memenuhi kamar. Tubuh yang belum bisa bergerak membuat Nilam pasrahmemejamkan mata kuat.
Merasakan pemilik napas dingin yang tak terlihat itu seakan menghisap darah dari tubuhnya. Semakin banyak keluar Nilam merasa lemah. Sampai kemudian tubuhnya terasa melayang, saat mencoba buka mata pandangannya menggelap.
Detik kemudian, wajah Nilam tertelungkup di tempat, basah terkena genangan darah di kasurnya.
***
Di Dusun Gelap, seorang lelaki tua duduk tampak duduk bersila, dalam kegelapan. Tiba-tiba ia tersentak mundur. Seketika itu juga mulutnya meringis dengan tangan mengusap dada.
“Sial! Apa yang dimiliki anak itu sampai sulit kudapatkan?!” Penuh amarah ia mengamuk, memukul tanah dan menendang rerumputan.
Gadis yang ditandainya sebagai perawan kesembilan itu tak mudah didapat seperti korban sebelumnya. Sementara tanda telah permanen di sana, itu akan membuatnya harus terus berusaha.
“Ia harus mati! Harus mati!!” geramnya sambil mencakar tanah dengan kuku-kuku panjang nan hitam.
Tanda yang telah terlanjur tersemat wajib harus dikorbankan. Ilmu hitam yang tengah diperdalam itu membutuhkan tumbal pamungkas, demi kesempurnaannya. Jika sosok yang telah ditandai lepas kemungkinan ia yang akan menjadi korban, senjata makan tuan!
Lelaki tua itu tentu tidak mau. Bagaimanapun cara, korbannya harus kalah. Ia amat penasaran, ada apa dengan gadis itu sampai sulit mendapatkan jiwanya?
***
“Ni, Nilam?”
Ketukan berubah gedoran, seketika menggerakkan tubuh Nilam yang masih tertelungkup. Matanya membuka perlahan, mengumpulkan penuh kesadaran yang seakan telah berkelana dari raga. Setelah sadar Nilam terlonjak
bangun, wajah pucatnya terangkat langsung melirik jam dinding. Pukul tujuh.
Tak terlihat hal aneh padanya, seakan yang terjadi semalam hanya sebatas mimpi.
Panggilan terdengar lagi. Gegas nilam bangkit keluar kamar dan membuka pintu depan.
Dian sudah berdiri di depan pintu, bersama Pak Min dan satpam rumah bernama Mang Didin.
“Tumben bangun siang? Dari tadi elo dipanggil-panggil,” gerutu Dian menyambut gadis yang rambutnya awut-awutan itu.
Nilam membalas dengan senyum kecil, sambil mengusap-usap mata yang terkena silau matahari.
“Disuruh Babe segera pebaiki pipanya, Neng,” sela Pak Min.
“Oh, iya, Pak Min. Maaf … tidur nyenyak banget,” ucap Nilam meringis seraya persilakan Pak Min masuk.
Lelaki paruh baya itu terlihat ragu, mengode Mang Didin yang berbadan besar untuk masuk duluan. Mungkin masih teringat kejadian kemarin sore.
“Aku juga masuk hari ini, kemarin udah ngabari bos,” kata Nilam masih di depan pintu. Dian sudah memakai kemeja kerja bersiap berangkat.
“Elo mulai kerja, Ni? Bukannya jatah cuti lo seminggu, kan masih tujuh hari besok?”
"Pengen masuk aja, bosen di kos sendiri.”
“Tapi … lo beneran gak papa, kan?” Dian menyentuh kening Nilam, memastikan gadis itu sehat. Wajahnya terlihat sangat pucat.
“Enggak pa-pa. Aku sehat, kok,” sahut Nilam memegang tangan Dian, bantu tempelkan merata ke dahi pipi sampai lehernya, sambil senyum-senyum.
“Iya sih normal aja, gak panas ...” Dian bergumam. “Lo dijemput Juju, kan?” lanjutnya bertanya.
“Iya, sama siapa lagi? Juju itu all in one buatku, hahaa,” tawa Nilam dibalas Dian dengan cubitan ringan di lengannya.
__ADS_1
“Kasian tau cuman dianggep temen, pengorbanannya udah banyak buat elo.”
“Neng, i-itu pipanya baik-baik aja. Enggak ada yang lepas, siapa yang perbaiki?” ujar Pak Min yang tiba-tiba muncul dari belakang. Mang Didin juga memasang wajah heran.
“Gak ada yang perbaiki, Pak.”
“Iya itu sudah seperti semula, enggak ada bau juga,” kata Pak Min lagi.
Semua terdiam, saling tatap.
Pak Min cepat pamit karena merasa merinding, Mang Didin juga pergi setelah memberi pesan kalau ada
apa-apa Nilam harus segera hubungi mereka di depan. Gadis itu mengangguk meski sedikit menganga, heran.
Tinggal Dian yang mengkerut dahi, mau bertanya tapi urung karena Nilam cepat menyuruhnya berangkat.
“Lambat absen kepotong gaji nanti,” goda Nilam membuatnya gegas kembali ke kamar.
Mata Nilam sejenak membulat, berputar pelan ke arah belakang, memikirkan saluran pipa yang kemarin rusak dilihat dengan mata kepala sendiri, bau busuk, dan … entahlah. Tak mau banyak berpikir gadis itu kembali ke kamar, bersiap akan mandi dan bekerja lagi hari ini.
Nilam seakan-akan mudah terlupa pada rentetan kejadian aneh padanya. Tak ada rasa takut dan terganggu. Kejadian itu seolah datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas dalam ingatan.
***
Di rumah depan, seorang pemuda muncul mengendarai motor besar masuk ke halaman, bertemu Babe yang sedang menimang burung di sangkar.
Lelaki berperut buncit itu sepagi ini mengisi waktu dengan pekerjaan rutin. Memandikan burung dan membersihkan sangkar berukir warna emas itu.
“Eh, Juki elu baru muncul. Udeh masuk kerja?” Babe menyapa si pemuda jangkung yang tak lain merupakan anak dari adik Maemunah ini.
“Lah elu, ape-ape Nilam. Gue tau lu demen ama die. Sampai pulang kampung aja bela-belain anter.”
Juju menggaruk-garuk kepala. “Ah, Babe. Ini ‘kan biasa ojek jemputan gratis dateng,” jawabnya cengengesan.
Pemuda itu mengambil duduk di kursi rotan depan rumah. Lututnya bergoyang, terlihat sekali sedang gelisah.
“Jemput ape jemput? Biasanya elu datang lambat, sampe si Nilam yang nungguin. Gua bisa tebak elu udah kebelet kawin, ye?” Tembak Babe tanpa putus langsung memerahkan wajah Juju.
“Ih, Babe. Juki masuk dulu ah, Be.”
“Masuk ke rumah ape ke belakang sono?”
“Ya, ke rumah, Be. Mau numpang sarapan.” Juju meninggalkan Babe yang menyembur tawa melihat wajahnya makin merah.
Di dapur luas Juju bertegur sapa dengan Maemunah yang sedang menyiangi sayuran. Lalu Juju duduk di depan meja makan, letaknya di beranda dapur. Halaman belakang yang luas diatapi kanopi stainless, menghadap tanaman bumbu dan bunga-bunga milik tantenya, yang biasa dipanggil Encing atau Cing.
Sarapan dengan telur dadar, dan semur jengkol dinikmati Juju dengan perasaan tak karuan. Sejak tadi malam jantungnya bekerja tak normal. Ia makin merasa khawatir pada keadaan Nilam.
Sejak datang dari kampung gadis itu, Juju merasa pikirannya tak bisa lepas dari Nilam. Bahaya yang pernah dialami temannya itu amat mengganggu hati.
Mereka bekerja di restoran yang sama. Ia dulu yang membantu Nilam masuk sebagai Waiter. Namun, gadis lincah dan pandai itu karirnya melesat cepat. Nilam sedang dipersiapkan memegang Headwaiter, meski masih membantu meng-handle pelanggan.
Juju yang masih bertahan di posisi Captain Waiter ikut merasa bahagia dengan perkembangan Nilam.
Selepas sarapan, Juju melihat jam di pergelangan, menunjuk angak setengah delapan kurang lima menit. Harusnya mereka sudah berangkat.
[Gue sudah nunggu di depan.]
__ADS_1
Chat Juju masuk dikirim kontak Nilam Cantix.
Di kamarnya senyum terbit di bibir Nilam. Jarinya mengetik balasan singkat.
[Okey, Ju, sebentar.]
Nilam menyelesaikan makan dua bungkus mie instan. Ia sudah mandi, dan memakasi seragam kerja. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Seragam ditutupi blazer navy. Setelah mengenakan stocking sewarna kulit dengan sepatu hitam balet gegas ia ke rumah depan.
“Ni,” sapa si pemuda jangkung begitu Nilam terlihat. Juju sudah menunggu di teras.
“Udah lama nungguin?”
Juju membuka mulut mau menjawab terhenti saat Babe mendahului.
“Sudah dari gelap tadi,” ucap Babe kencang sambil terkekeh. Sejenak Nilam dan Juju saling pandang, menahan senyum
“Kami berangkat, Be.” Juju cepat bangkit dari duduk menyalami pamannya itu.
“Iye, hati-hati bawa anak orang,” pesan Babe dengan menekan kata ‘anak orang’ membuat keduanya tertawa nyengir.
Juju ini pertama mengenalkan Nilam pada keluarga Babe, sejak gadis itu masih bekerja sebagai tukang keramas
di Salon Ayyi, tak jauh dari rumahnya.
Ia pula yang mengajak gadis kampung berwajah cantik alami itu bergabung dengan anak Klub Pecinta Korea, yaitu Korean Lovers yang menjadi wadah anak-anak muda berekspresi, mengembangkan diri, mengenal budaya dan Bahasa Korea.
Selama bergabung Nilam merasa wawasannya bertambah tentang negeri ginseng itu, meski ia belum pernah
menginjakkan kaki di sana.
Klub mereka disponsori oleh pemilik Restoran K-Food, yang memiliki banyak cabang di ibu kota dan beberapa kota besar di sekitarnya. Restoran induk inilah tempat Nilam dan Juju bekerja. Selain gajinya di atas UMR, suasana resto yang nyaman juga membuat mereka bekerja dengan rasa senang.
Motor ninja hitam itu tiba di area parkir Food Court.
Nilam turun dari motor, memberikan helmnya pada Juju.
“Kenapa, sih, liatnya gitu?” Nilam bertanya melihat Juju menatapnya lama, bukan tatapan usil seperti biasa, tapi raut heran—menatapnya saksama seolah meneliti sesuatu.
“Juju!” pekik Nilam kesal pertanyaannya tak dijawab.
Pemuda itu kaget lalu berucap terbata. “Kok, aneh, ya. Tadi gue boncengin loe terasa berat banget, ya, Ni?”
Mata Nilam membulat bulat sembari mendekat ke wajah Juju. “Maksudmu aku sekarang gemukan?”
“Eh, enggak. Aneh aja, rasanya sama berat dari Cing waktu itu. Yang pernah gue ceritain,” kata Juju jujur, saat mereka melangkah masuk pintu samping khusus karyawan.
Ia pernah memboncengi Maemunah, sepulang mengantar Nilam. Saudara ibunya itu minta ikut ke rumahnya, biasanya naik mobil Babe, tapi waktu itu Babe sedang keluar. Karena penumpang belakang lebih berat berkali lipat dari orang di depannya, motor Juju beberapa kali hilang keseimbangan. Setelahnya Juju selalu berharap bibi yang tambun itu tak memaksa lagi meminta tumpangan.
“Ngaco, ih, masa aku dibandingin sama Nyak.” Bibir Nilam mengerucut, mengabaikan Juju yang masih menjelaskan kalau tadi rasa berat tubuh kurusnya seperti lima kali lipat.
Jangan-jangan ada orang lain tinggal di tubuh Nilam? Seketika bulu di sekujur tubu Juju berdiri.
Bersambung ….
Tinggalin like dan jejak di komentar ya.
Makasih dukungannya.
__ADS_1