
Mak merasa tidak nyaman dengan baju tidur lengan panjang yang diberikan Nilam. Kesehariannya kerap berkebaya dan jarik membuatnya canggung mengenakan pakaian biasa.
“Anggap aja latihan, Mak. Biar geraknya enak,” kata Nilam sembari menyisir rambut panjang Mak yang tipis. “Kita akan ke salon besok, rapihkan rambut, nih, berapa tahun nggak potong?”
“Ah, Mak yang penting bersih aja, tidak mikir potong rambut segala, hehee.”
“Harus dong, Mak. Biar kelihatan segar. Anak cantik, maknya juga harus cantiik.” Mak salah tingkah, memukul pelan lengan Nilam yang jail.
Undangan makan malam oleh Maemunah membuat Nilam gugup, ini pertama kali ia merasa diperhatikan begitu serius oleh keluarga itu. Apalagi sekarang ada Mak di sampingnya, dalam hati berharap wanita tercinta itu pun merasa bahagia.
Selepas Isya, Nilam baru mengajak Mak ke rumah Babe. Ia tahu keluarga itu pasti sembahyang tepat waktu, datang selepas Magrib akan mengganggu tadarusan mereka menanti Isya.
“Terima kasih banyak sudah menjaga Nilam selama di sini,” kata Mak pada Maemunah. Setelah makan mereka duduk santai di bale-bale menghadap taman kecil di belakang. Ada kolam ikan Mas kecil, diterangi lampu cukup benderang, angin sejuk pun seolah membelai mereka.
“Ah, Nilam itu bisa jaga diri sendiri, enggak pernah macem-macem. Kerja-tidur-kerja paling itu kerjaannye. Sesekali aje keluar ame si Juki,” jelas Maemunah penuh semangat. Ia wanita yang suka berapi-api kalau bicara, seakan energi suaranya tak pernah habis. Mak tersenyum-senyum mendengar.
“Iya, Nyak. Sampe kos ‘kan sudah capek, mau jalan udah malas keluar lagi,” sahut Nilam sambil bergelayut di pundak Mak.
Maemunah terbiasa bercakap akrab dengan anak-anak kos, karena itu semua penghuni kos tak segan padanya. Mereka betah dengan keramahan keluarga Babe.
Di ruang keluarga, Hanif sedang bersama Babe. Meski di depan TV mereka tak menyalakan elektronik berlayar datar itu. Babe ceritakan kedatangan guru Hanif dua malam lalu dan doa bersama di rumah. Berapa hari lagi beliau menjanjikan bisa kembali ke sini, karena harus membagi waktu dengan padatnya kegiatan di pondok.
Babe juga banyak bertanya seputar keadaan mereka saat di kampung Nilam. Hanif pun bercerita tentang ia dan Juju yang sempat tersesat, membuat lelaki bermata besar itu mengelus dada, mengucap syukur berkali-kali.
“Alhamdulillah, Allah masih lindungi kalian ... Allah sayang keluarge kite, Nif. Kalau kagak, ugh, Babe kagak bisa bayangin!” Syukur Babe tak henti, mendekat dan menepuk bahu Hanif.
Babe merasa ini berkat kekuatan doa juga puasa mereka saat anaknya itu berangkat ke kampung Nilam. Tadi pun Babe dan istri masih puasa.
Jam delapan, Nilam dan Mak pamit.
“Makasih, Be, udah kenyang mau pulang,” canda Nilam sambil mengangguk kecil saat melewati Babe dan Hanif.
“Iye, jan segan kemari, ye. Ade ape-ape tinggal bilang,” jawab Babe. Maemunah yang berjalan di samping Mak juga memberi pesan yang sama.
Mereka mengantar Nilam dan Mak sampai ke teras. Gadis itu merasa tersanjung atas perlakuan keluarga Babe. Ia bersyukur\, walau tak pernah memberi sesuatu_lebih seringnya merepotkan_tapi disayang sedemikian rupa oleh keluarga ini.
“Be, Hanif boleh bicara?” Seperginya Nilam, Hanif setengah berbisik ke telinga bapaknya.
“Bicara?” Mata besar Babe memindainya saksama. “Mo bicara ape? Kan, dari tadi kite udeh ngomong.”
Hanif salah tingkah, dua telapak tangan yang mendingin saling bertaut.
Babe mengajak mereka kembali duduk di ruang tengah, lelaki itu memajukan badan, menopang tangan di lutut sambil mengamati serius wajah Hanif.
“G-gini, Be.” Hanif mengatur napas, tatapan Babe yang terlihat menunggu itu membuatnya sulit berpikir. “Gimana kalau Hanif melamar Nilam?” tukasnya cepat, sempat melirik sebentar pada reaksi Babe di depannya yang menganga.
Hanif tertunduk, tangannya makin dingin, tak bisa disembunyikan kalau ia sangat gugup.
“Hahahaaa.” Bukannya menjawab Babe malah menyembur tawa.
__ADS_1
Anak lelakinya itu menahan senyum kaku. Hanif lega sudah berucap, sekarang menanti respon lelaki yang tertawa sambil memegang perut itu. Maemunah muncul dari dapur, bertanya apa sampai Babe tertawa begitu lucu.
“Ini urusan lelaki, elu nanti aje dibilangin,” jawab Babe, istrinya kembali ke dapur dengan wajah penuh tanya, apalagi ia melihat Hanif tampak salah tingkah.
“Kok dadakan beginih? Kan, baru juga pulang, ade ape emang?” Babe mencoba mengorek, setelah memperbaiki posisi pinggang sarungnya ia berpindah ke sofa samping Hanif.
“Gini, Be ... Hanif belum pernah dekat dengan cewek … baru sekarang ini.” Hanif menggantung kalimatnya. Babe mengusap dagu sambil mengangguk-angguk.
Lelaki muda ini lalu menuturkan, bahwa ia sangat ingin Nilam sebagai istri, selain kondisi gadis itu membutuhkan bantuan untuk selalu diingatkan, Hanif juga merasa sudah punya hasrat untuk menikah. Selama ini ia berusaha menjaga kontak fisik dengan lawan jenis, tapi dengan Nilam ia melanggarnya.
“Maksudnye?’
“Ha-Hanif beberapakali bersentuhan kulit dengannya, Be.” Jujur lelaki muda ini terlihat penuh rasa bersalah.
Babe kembali mengangguk-angguk, ikut memikirkan kalimat anaknya itu.
“Guru menawarkan Hanif mengajar di pondok, kalau sudah menikah Hanif bisa fokus mencari nafkah untuk keluarga, Be. Hanif nggak mau nunda, menyempurnakan agama itu hukumnya wajib kalau sudah ada keinginan ke sana.”
“Iya, Babe paham. Tapi … ape Nilam sudah tau?”
Seketika Hanif mengangkat wajah, menoleh dan bertemu pandangan Babe.
“Die harus tau dulu, kan enggak enak kalu tiba-tiba dilamar. Bisa-bisa die merasa sungkan, lu diterime cuman karna segan sama gua, bukan karna demen ame lu. Kan, berabe urusan?”
Degup jantung Hanif makin bertalu. Ia merasa sedikit cemas jika harus bertanya langsung pada gadis itu, bukan karena takut ditolak, tapi apa ia bisa mengatakannya atau tidak? Ini benar-benar pengalaman pertama ia akan ‘menembak’ lawan jenis.
Babe lalu memberi pesan beruntun padanya.
Di tempatnya Babe termenung sebentar. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat pada Juju. Perasaannya merasa terjepit.
***
“Nilaaam, Nilaaaam ….”
Suara serak menggema dari luar, menggelisahkan tidur gadis itu.
Saat terbangun, ia menyadari suara serak itu pasti dari seseorang yang selalu mengganggunya. Nilam beristighfar, fokus mendengar kata dari mulut sendiri dan mengabaikan panggilan yang semakin keras itu.
Gadis itu segera bangun, berwudu lalu kembali berbaring karena merasa masih sangat ngantuk. Panggilan itu terus terdengar dari luar. Namun, Nilam berusaha menenggelamkan diri dalam Al-Fatihah yang meluncur dari lidah sampai kembali tertidur.
***
“Loh, mau kemana, Ni?” Juju menghentikan motor di dekat Nilam yang baru keluar dari pagar.
“Hai, Ju. Ke Bulek sebelah, Mak minta dibelikan sayur, mau masak sendiri.” Gadis ber-sweater kuning dengan rambut dikuncir satu itu sejenak menghentikan detak jantung Juki. Wajah alami Nilam tak terpoles apa pun, tampak bersinar.
“Loe, baik-baik aja ‘kan? Eh, maksudnya udah gak ada yang aneh?” Juju bingung atas pertanyaannya sendiri.
Nilam tertawa kecil. “Harusnya aku yang nanya, kamu sudah segar, kok udah masuk kerja?”
__ADS_1
Juju mengepal tangan, perlihatkan otot yang menggembung di balik jaketnya. “Nggak liat ini? Sudah pastilah sehat, Alhamdulillah. Gue mau masuk kerja, nggak ada kerjaan di rumah.”
Nilam menutup mulut agar tak sampai ngakak. “Kerja, tapi kok ke sini?”
“Iya mau ketemu loe. Hahaa, mau ketemu Babe, ada yang penting.” Juju memarkirkan motor di halaman, saat turun ia merasa desir ganjil menelusup. Pemuda ini kembali ke pintu pagar, melihat arah Nilam berjalan di pinggir trotoar.
Sambil berjalan gadis itu mengingat sayur apa saja yang akan dibeli. Dapur kecil di belakang itu jarang terpakai kecuali untuk merebus mie instan. Padahal ada penjual sayur rumahan tak jauh dari rumah Babe, hanya Nilam malas masak.
Seketika, terasa sesuatu berat mencengkeram tengkuknya, Nilam terhuyung. Serasa ada orang yang menyeretnya.
Tubuh gadis itu terseret ke pinggir akan ke tengah jalan yang padat, sontak membuat klakson nyaring bersahutan memberi peringatan. Angin dari mobil yang kencang menerpa tubuh Nilam, hingga terpental mundur saat tepat Juju menarik keras tubuhnya ke belakang.
Detik yang sama, Nilam melihat sosok lelaki berpakaian gelap tampak berjalan cepat menjauh.
“Loe ini kenapa, Ni?!” Juju menegur cukup keras. Tak ia pedulikan tubuh Nilam gemetar hebat, tersandar di dadanya. Cacian pengendara yang mengira gadis itu mau bunuh diri, membuat nyeri di sudut hatinya.
“Ya Allah, hampir aja nyawa loe hilang. Liat, gak jalanan serame ini loe malah nyelonong ke sono, istighfar, Ni!” Juju melampiaskan rasa kesal dan cemasnya. Gara-gara ini ia hampir tak bernapas, lambat sedikit saja gerakannya tadi, gadis itu tak terbayangkan lagi kondisinya ….
Nilam makin terisak, bahunya berguncang, menahan nyeri dan takut.
Apa Juju tidak melihat orang itu tadi?
Iya, Nilam tahu Juju mengira ia yang sengaja lari ke tengah jalan. Kuduknya bergidik, ini pasti teror itu masih mengintai nyawanya dengan cara lain.
Setelah Nilam cukup tenang Juju menepuk-nepuk pundaknya.
“Sorry … gue cuma khawatirin, loe ….” Ia mengacak sayang pucuk kepala Nilam. “Yuk, gue antar belikan sayur buat Mak,” bujuknya dibalas Nilam dengan angguk lemah.
Juju menggenggam tangannya ke warung sayur, sekitar sepuluh meter letaknya dari sana. Saat ia tanya Mak pesan apa saja, Nilam terlupa. Akhirnya Juki memilih mana saja yang mau dibeli.
Gadis itu terdiam masih dengan sisa segukkannya di sisi Juju. Pemuda itu juga tak melepas tangannya hingga selesai belanja.
“Baru nikah, ya? Mesra amat,” goda Bulek warung.
“Pengantin baru jangan ribut-ribut, apalagi sampe mau bunuh diri, sayang cantik-cantik,” timpal seorang bapak berkepala botak yang tengah menyesap kopi. Juju membalas dengan senyum tertahan, setelah berterima kasih ia dan Nilam pulang.
Sepanjang jalan hingga ke pagar mereka tak berucap sepatah kata pun. Nilam bergumul dengan rasa takutnya
dan Juju bergelut dengan perasaannya yang tak karuan.
Mereka bertemu Babe di serambi, saat lelaki paruh baya itu menimang burung peliharaan. Mata Babe langsung tertuju pada tangan mereka yang bertaut lalu melihat juga tangan sebelah Juju yang menenteng plastik, daun bayam muncul dari mulut kresek hitam itu.
Babe mengusap wajah, merasakan ada sesuatu yang mengganjal di batin.
“Kenape?” tanyanya pada kedua anak muda berwajah tegang itu.
“Ini Nilam, Be. Hampir celaka di jalan.”
“Masya Allah.” Hanya kata itu yang terlontar dari Babe saat Juju ceritakan sekilas kejadiannya.
__ADS_1
Bersambung ....