Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu, kini keadaan Aldo sudah semakin membaik. Arumi sangat senang bukan kepalang, karena kini Aldo sudah mulai bisa berbicara lagi.


Bahkan tubuhnya sudah mulai kembali normal, luka-luka di tubuhnya terlihat mengering.


Namun, kulitnya kini terlihat bersisik karena luka yang mengering tersebut. Mungkin ini adalah hukuman buat Aldo, Aldo dan Arumi tahu akan hal itu.


Aldo merasa begitu bosan, dia merasa terlalu lama tinggal di Rumah Sakit. Pada akhirnya Aldo meminta untuk pulang saja ke rumah pak Didi, akan lebih baik pikirnya, jika dia memulihkan tubuhnya di rumah pak Didi saja.


Dia juga tidak ingin merepotkan Arumi, karena sudah pasti Aldo menghabiskan biaya yang sangat banyak saat Aldo dirawat di Rumah Sakit tersebut.


Aldo sangat sadar, jika kini dia tidak memiliki apa pun lagi. Dia tidak mau merepotkan Arumi, karena sudah barang pasti Arumi'lah yang mengeluarkan biaya banyak untuk dirinya.


"Sayang, Mas mau pulang saja. Mas mau memulihkan kondisi tubuh Mas, di rumah saja. Jangan di Rumah Sakit terus, nanti uang kamu habis," kata Aldo.


Arumi tersenyum, dia yang kini sedang duduk manis di samping suaminya terlihat mengusap puncak kepala Aldo dengan lembut.


"Jangan berkata seperti itu, Mas. Yang penting kamu cepat sembuh," kata Arumi.


"Tidak, Sayang. Mas pengen pulang saja, lagi pula kamu Dokter. Kamu bisa mengecek kondisi kesehatan Mas setiap waktu," kata Aldo.


Arumi terlihat menghela napas berat, dia tahu jika Aldo sangat merasa terbebani dengan keadaannya saat ini.


Arumi yang tidak ingin membuat Aldo kecewa, akhirnya terlihat menganggukan kepalanya beberapa kali.


"Baiklah, nanti aku akan bicarakan dengan dokter," jawab Arumi.


"Iya, Sayang. Terima kasih, maaf karena aku sudah merepotkan," jawab Aldo.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak merepotkan, jangan pernah berkata seperti itu," kata Arumi seraya memeluk Aldo erat.


Setelah cukup lama bercengkrama dengan suaminya, akhirnya Arumi memutuskan untuk keluar dari ruangan Aldo.

__ADS_1


Arumi langsung membicarakan masalah tersebut kepada dokter dan ternyata dokter memperbolehkan Aldo untuk pulang.


Karena menurut dokter kondisi Aldo sudah sangat stabil, Aldo hanya perlu pemulihan saja.


Aldo dan Arumi merasa senang bukan main karena akhirnya mereka boleh pulang, setelah selama satu minggu tinggal di Rumah Sakit, akhirnya mereka bisa menghirup udara segar tanpa bau obat-obatan.


Sebenarnya Aldo masih merasa was-was, karena dia takut jika Nyai Ratu masih akan mengganggu dirinya.


Karena selama di Rumah Sakit saja Aldo masih sering bermimpi tentang Nyai Ratu, Nyai Ratu seolah ingin membunuhnya.


Beberapa kali Aldo bermimpi Nyai Ratu melilit tubuhnya, dia sampai kesulitan untuk bernapas.


Namun, Tuhan seakan begitu baik terhadapnya. Selalu ada saja yang menyelamatkan Aldo dari keinginan Nyai Ratu untuk menjadikannya budak di istana siluman ular tersebut.


Aldo terlihat tersenyum dengan sangat manis, dia begitu senang karena pada akhirnya dia bisa tidur di kamar Arumi.


"Terima kasih ya, Sayang. Karena kamu sudah mengabulkan permintaan Mas," kata Aldo.


"Ya, Sayang," jawab Aldo.


Arumi terlihat menarik selimut dan menutupi tubuh Aldo sampai sebatas dada, lalu dia mengecup kening Aldo.


"Tidurlah, nanti kalau adzan ashar aku bangunkan." Arumi menunduk dan kembali mengecup kening Aldo.


"Yang, boleh Mas meminta sesuatu?" tanya Aldo.


"Apa?"


"Mas mau tidur, tapi tolong nyalain sholawatan di ponsel Mas," pinta Aldo.


Arumi tersenyum, dia tahu jika Aldo kini sedang ketakutan. Dia masih selalu resah dan juga gundah karena merasa dihantui oleh Nyai Ratu.

__ADS_1


Arumi terlihat mengambil ponsel milik Aldo yang masih berada di tas jinjing miliknyam Kemudian dia menyalakan sholawat sesuai dengan keinginan Aldo.


"Arumi tinggal dulu, Mas bobo aja." Arumi tersenyum manis, senyum yang selalu membuat Aldo merasa tenang.


"Memangnya kamu mau ke mana? Kamu ngga mau bobo sama, Mas?" tanya Aldo.


Arumi terlihat tersenyum, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya tidak ingin tidur berdua bersama Aldo. Namun, Arumi masih mempunyai tugas untuk dikerjakan.


"Ngga, Mas. Arumi mau bikin kue buat camilan Mas dan juga bapak, bapak sebentar lagi akan pulang," kata Arumi.


Aldo terlihat mengernyitkan dahinya, dia baru sadar jika pak Didi tidak ada di rumah. Bahkan sejak tadi pagi dia tidak melihat pak Didi di Rumah Sakit.


"Memangnya bapak ke mana, Sayang?" tanya Aldo.


"Bapak sedang pergi ke Resto miliknya, tadi dia sudah ngasih kabar ke Arumi. Katanya bapak bentar lagi akan pulang, makanya Rumi mau bikin kue," jawab Arumi.


"Kalau begitu pergilah, Mas akan istirahat. Namun, jika kamu cape. Beristirahatlah," kata Aldo.


"Iya, Mas," jawab Arumi.


Setelah berpamitan kepada suaminya, akhirnya Arumi terlihat meninggalkan Aldo sendirian.


Aldo terlihat merebahkan tubuhnya dengan nyaman ditemani ponsel miliknya yang melantunkan sholawatan.


Baru saja Arumi pergi dari kamar tersebut, tiba-tiba kamar Arumi terlihat terbuka. Aldo langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu, tapi tidak ada siapa pun di sana. Aldo menjadi ketakutan.


"Si--siapa di situ?" tanya Aldo tergagap.


***


Masih berlanjut, kuy ramein kolom komentar.

__ADS_1


__ADS_2