Tumbal Perawan

Tumbal Perawan
Kecewanya Pak Didi


__ADS_3

Pak Didi benar-benar kewalahan menghadapi banyaknya orang yang memprotes tentang kondisi penginapan miliknya, orang-orang tersebut mengeluhkan bau busuk yang menyengat di kamar penginapan yang mereka tempati.


Mereka merasa tidak nyaman dengan bau busuk yang sangat menyengat tersebut, mereka minta uang mereka dikembalikan dan mereka akan mencari penginapan yang dirasa lebih baik.


Awalnya, pak Didi merasa tidak adil karena semua ini bisa menimpa dirinya. Bagaimana bisa tempat yang selalu dia rawat bisa menghasilkan bau busuk yang begitu menyengat?


Namun, kembali lagi. Mungkin ini adalah ujian dari Sang Maha Kuasa untuk dirinya, dia hanya bisa mengelus dada kemudian dia berkata.


"Aku akan mengembalikan semua uang kalian dan kalian bisa pergi untuk mencari tempat ternyaman untuk kalian," kata Pak Didi.


Orang-orang yang terlihat marah-marah tersebut langsung terlihat tenang, setelah mendapatkan uang dari pak Didi, mereka langsung meninggalkan tempat tersebut.


"Kenapa semuanya bisa terjadi? Kenapa tempat sebersih ini bisa bau busuk? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Didi pada Damar.


"Saya juga tidak tahu, Pak. Mungkin Kita harus membersihkan kembali seluruh ruangan yang ada di penginapan ini," usul Damar.


Pak Didi terlihat manggut-manggut saat mendengarkan usulan dari Damar, mungkin saja itu adalah keputusan yang tepat, pikirnya.


Dia harus membersihkan semua kamar penginapan miliknya, agar tidak ada bau busuk yang tercium lagi.


"Baiklah, mintalah seluruh pegawai untuk membersihkan tempat ini," titah Pak Didi.


"Siap, Pak," jawab Damar.


Setelah mengatakan hal itu, pak Didi nampak duduk di depan lobi penginapan tersebut. Berbeda dengan Damar, dia nampak memanggil semua karyawan yang bekerja di sana lalu meminta semua karyawan untuk membersihkan semua ruangan yang ada di penginapan tersebut.


Dia juga bahkan meminta para karyawan tersebut untuk memberikan dua kali lipat pewangi ruangan, agar ruangan yang ada di sana tidak tercium bau busuk lagi.


"Oke, Kak," jawab mereka serentak.


Hampir dua jam seluruh karyawan merapikan dan membersihkan setiap ruangan yang ada di penginapan tersebut.


Bahkan mereka sudah melakukan apa yang disuruh oleh Damar, namun herannya bau busuk itu tetap tercium dengan menyengat.


Pak Didi semakin prustasi dibuatnya, pada akhirnya pak Didi memutuskan untuk menutup sementara penginapan miliknya.


Miris, sangat miris memang. Namun, itulah yang harus dia lakukan pikirnya. Dia lebih baik mengurusi usahanya yang lain saja terlebih dahulu, dari pada dia harus memusingkan hal ini.


Mungkin saja dia harus mencari solusi yang lebih baik lagi, atau mungkin dia harus menutup usaha penginapannya saja.


"Ya Tuhan, aku terlalu memikirkan penginapan ini. Bahkan, aku sampai lupa untuk mengurusi Arumi," kata Pak Didi.


Pak Didi terlihat melirik jam yang melingkar di tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.00 siang.


Dia memutuskan untuk pergi saja dari sana, mungkin menemui Arumi ke Rumah Sakit akan lebih baik. Dia bisa mengajak Arumi untuk makan siang bersama dan berbicara dari hati ke hati.


"Ya, aku rasa itu akan lebih baik." Pak Didi langsung meninggalkan penginapan tersebut.


Sebelum pergi dari sana, tentu saja pak Didi menitipkan penginapan tersebut kepada Damar. Walaupun dia memutuskan untuk menutup penginapan tersebut untuk sementara, namun dia tetap meminta Damar untuk mencari sumber bau busuk tersebut.


"Siap, Pak. Nanti saya akan mencari sumber bau busuk tersebut, jika sudah mengetahuinya saya nanti akan menghubungi Bapak," kata Damar.

__ADS_1


"Ya, terima kasih. Kalau begitu saya pergi dulu," pamit Pak Didi.


Setelah berpamitan kepada Damar, dia benar-benar pergi meninggalkan penginapan tersebut. Dia ingin segera bertemu dengan Arumi, putrinya.


Tepat pukul dua belas siang, pak Didi sudah sampai di Rumah Sakit. Dia langsung memarkirkan mobilnya, lalu berjalan menuju ruangan milik Arumi.


"Bapak!" sapa Arumi ketika melihat Pak Didi.


"Ya, ini Bapak." Pak Didi tersenyum.


Berbeda dengan Arumi yang terlihat gelisah, tidak ada senyuman di bibirnya. Dia terlihat canggung dan juga kaku saat melihat wajah bapaknya.


Dia sangat takut jika pak Didi akan marah dan memaki dirinya, apalagi saat mengingat dirinya yang pergi begitu saja dari rumah tanpa berpamitan kepada bapaknya tersebut.


Sungguh dia merasa takut jika pak Didi akan memisahkan dirinya bersama dengan Aldo, tapi sedetik kemudian Arumi malah berpikir jika ini adalah saat yang tepat untuk mengakui semuanya.


Mengakui jika dirinya telah menikah Siri dengan Aldo, jadi, jika kapan pun dan di mana pun Arumi bertemu dengan Aldo, itu bukan merupakan sebuah dosa. Namun, sebagai bakti dirinya kepada suaminya.


" Bapak tumben ke sini," kata Arumi dengan wajah bodohnya.


Pak Didi tersenyum saat dia mendengar kalimat yang dilontarkan oleh putrinya tersebut, dia tidak menyangka dengan sambutan yang diberikan oleh Arumi.


"Bapak ingin makan siang bersama dengan kamu, bisa? Sekalian Bapak juga ingin berbicara dengan kamu," kata Pak Didi lembut.


Arumi tercenung, dia sempat tidak menyangka jika pak Didi akan berbicara selembut itu terhadap dirinya. Padahal dia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar, Arumi tersenyum kaku kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bisa, Pak. Ayo kita ke kantin Rumah Sakit," ajak Arumi.


Tentu saja jika mereka berbicara di kantin Rumah Sakit tidak akan terasa nyaman, karena berisik dan juga banyak orang yang terlihat mondar-mandir.


Namun, jika mereka makan di Restoran, pak Didi bisa memesan ruang khusus untuk mereka makan dan berbicara bersama.


"Terserah Bapak saja," jawab Arumi pada akhirnya.


Pak Didi tersenyum, kemudian dia menuntun Arumi untuk segera pergi dari sana menuju Restoran yang ada di seberang Rumah Sakit.


Tiba di dalam Resto, pak Didi terlihat memesan sebuah ruang privat agar mereka bisa duduk bersama dengan nyaman.


Setelah itu, pak Didi juga memesan dua porsi makanan kesukaan mereka. Dia masih sangat ingat jika Arumi sangat menyukai Ayam bakar lengkap dengan sambel dan lalapannya, sama dengan yang Aldo suka.


"Dimakan, Sayang," kata Pak Didi.


Arumi tersenyum, kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.


"Iya, Pak," jawab Arumi.


Arumi terlihat memasukkan makanan kesukaannya ke dalam mulutnya, pak Didi tersenyum. Kemudian, dia pun melakukan hal yang sama.


Tidak ada pembicaraan di antara mereka, mereka makan dalam keadaan hening. Hanya bunyi sendok dan garpu saja yang terdengar, karena bersentuhan dengan piring.


Setelah selesai makan, pak Didi terlihat meminum air putih. Lalu, dia menatap Arumi dengan lekat. Dia menatap wajah putrinya yang terlihat cantik dan semakin dewasa di matanya.

__ADS_1


"Seperti yang sudah Bapak katakan tadi, Bapak ingin berbicara dengan kamu, Sayang. Bapak ingin mendengar penjelasan dari kamu, sebenarnya bagaimana hubungan kamu dengan Aldo?" tanya Pak Didi.


DEG!


Jantung Arumi terasa berpacu dengan cepat kala mendengar pertanyaan dari bapaknya, dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat ini.


Haruskah dia jujur saat ini juga jika dia sudah menikah dengan Aldo? Ataukah dia harus menutupi kebohongannya dengan kebohongan yang baru lagi?


Sungguh Arumi terlihat benar-benar bingung, bahkan dia terlihat seperti orang linglung. Pak Didi sampai tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Arumi, dia pasrah.


"Sayang, bisa bicara kepada Bapak. Sebenarnya apa yang sudah terjadi antara kamu dengan Aldo?" tanya Pak Didi.


Kembali Arumi terdiam, dia terlihat menundukkan kepalanya. Lalu, dia terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.


"Jawab Arumi, Sayang," kata Pak Didi lagi.


"Aku sudah menikah Siri dengan Mas Aldo, Pak. Maaf," ucap Arumi jujur.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi, tubuh pak Didi terlihat lemas. Dia benar-benar tidak menyangka jika Arumi tega melakukan hal tersebut terhadap dirinya.


Arumi rela menikah secara diam-diam bersama dengan Aldo, karena tidak mendapatkan restu dari dirinya.


Pak Didi terlihat kecewa sekali terhadap keputusan yang diambil oleh Arumi, bahkan mata pak Didi kini terlihat berkaca-kaca.


Dia merasa tidak dihargai sebagai seorang bapak yang selama ini sudah membesarkan Arumi dengan penuh kasih sayang.


Karena tidak mendengar bapaknya mengatakan sepatah kata pun, Arumi memberanikan diri untuk menatap bapaknya.


Arumi benar-benar merasa sangat bersalah kala melihat pipi pak Didi yang terlihat basah karena berurai air mata.


Arumi langsung menghampiri pak Didi, dia bersimpuh di kaki pak Didi lalu menyadarkan kepalanya di paha bapaknya tersebut.


"Maaf, Pak. Maafkan Arumi, Arumi tahu ini salah, tapi Arumi sangat mencintai mas Aldo. Maaf," kata Arumi seraya terisak.


Dia sudah tidak sanggup lagi membendung air matanya, dia sudah tidak mampu lagi menutupi kebohongannya.


Dia sudah tidak tahan ingin berkata tentang kejujuran kepada bapaknya tersebut, pak Didi masih terdiam. Dia benar-benar syok dengan apa yang sudah dia dengar kali ini.


Susah payah dia menghalangi putrinya agar tidak berhubungan dengan Aldo, sayangnya Arumi begitu menentang keputusan dari dirinya.


Bahkan dengan teganya dia rela berbohong kepada bapaknya, Arumi mendongakkan kepalanya. Dia menatap wajah bapaknya dengan lekat, dia bisa melihat dengan jelas jika bapaknya benar-benar kecewa terhadap dirinya.


"Pak, bicara Pak! Jangan diamkan Arumi seperti ini, Arumi minta maaf," kata Arumi dengan wajah memelas.


Sayangnya pak Didi tetap saja diam, dia benar-benar kecewa terhadap putrinya tersebut.


"Pak!" kata Arumi seraya menggoyang-goyangkan tubuh bapaknya.


*


*

__ADS_1


Masih Berlanjut.


__ADS_2